Karapiak Kampung Pelestarian Seni Reak

Karapiak Kampung Pelestarian Seni Reak

CYBER88 l Bandung - Reak merupakan bagian tidak terpisahkan dari kesenian rakyat Jawa Barat. Kesenian yang dipercaya lahir dan populer di kawasan Bandung Timur seperti Cicalengka, Nagreg, Cileunyi, Rancaekek, Cibiru, Cikancung.

 
Demikian dengan Salah Satu Kampung yang berada di Kawasan Bandung timur tepatnya di Kampung Karapiak Desa Nanjung Mekar Kecamatan Rancaekek Kabupten Bandung, Dalam pelestarian seni reak ini, tentunya butuh peran aktif dan dorongan dari semua elemen khsusunya pemerintah terkait. Sehingga kedepan bisa mewujudkan masyarakat yang lebih memiliki rasa seni dan berbudaya.

Menurut Ii Suhanda (Tokoh Masyarakat Karapiak) “Kami yakin, ketika semua elemen mendukung dengan kegiatan seperti ini, tentunya seni reak yang kini kian tergerus budaya asing akan tetap ada,” tandasnya. 

Kalau kita kembali melihat ragam opsi latar belakang sejarah menyertai kelahiran reak. Ada yang berpendapat bahwa reak pertama kali dipertunjukan pada masa Kerajaan Pajajaran sebagai sindiran kepada Majapahit.

Pendapat lain menyatakan bahwa reak dibawa oleh masyarakat Ponorogo pada abad 17 ke Jabar di zaman Kesultanan Cirebon. Lantaran kata "reak" sendiri dipercaya merupakan adaptasi bahasa dari "reog".

Versi lain menyebutkan reak berasal dari Bahasa Arab yakni "riyyuq" yang berarti sempurna. Lalu berasal dari kata "leak" yakni merupakan simbol kekuatan jahat dalam tradisi Hindu di Bali. 

Namun para pelaku seni reak di kawasan Bandung Timur percaya bahwa itu semua berasal dari kata "Reang" yang memiliki makna riweuh atau gaduh karena sorakan. 

"Awalnya reak dibawa oleh Prabu Kiansantang. Sejarahnya terkait dengan Kerajaan Pajajaran," ujar Darman yang juga merupakan Kakak dari Popoy pimpinan Lingkungan Seni Surya Panca Laksana pada Cyber88.co.id, Minggu (23/08/2020).

Reak sering ditampilkan dalam acara helaran dan syukuran seperti khitanan, panen pertanian, peringatan akil baligh, ulang tahun, hingga pernikahan.

Dalam pergelarannya, reak menyertakan seperangkat instrumen etnik sunda seperti dogdog, kendang, calung, suling dan lainnya. Instrumen tersebut ditabuhkan hingga menciptakan komposisi irama yang ritmis juga mistis. 

Irama mistis yang kemudian membuat para penari bertopeng, kuda lumping hingga bangbarongan bergerak tanpa kehendak. Fenomena ekstase penyatuan dengan dunia lain didapat. Sehingga gerakan tubuh dalam tarian terjadi begitu alami sesuai kehendak roh yang merasuki jiwa.

"Bangbarongan menjadi ciri dari seni reak. Namun bangbarongan memiliki banyak versi. Ada yang bilang naga hingga buta. Intinya wajahnya selalu berwarna merah," ujar Fanhur, Tokoh Pemuda Karapiak.

Lelu Bagia Kuda lumping dan bangbarongan sendiri merepresentasikan sebuah kekuatan. Kedua objek yang kemudian dapat ditaklukan dan dikendalikan manusia melalui instrumen musik. Ini menunjukkan bahwa kekuatan dapat dijinakan melalui pendidikan sehingga menghasilkan sebuah keindahan.

Intinya reak merupakan simbol dari pertarungan antara nilai kebaikan dan keburukan. Memberi pesan bahwa nilai kebaikan harus selalu dijaga manusia yang disampaikan melalui ekspresi budaya.

"Reak mengekspresikan rasa syukur karena mendapat kebahagiaan dan kenikmatan. Itu kenapa saya ingin terus menjaga dan melestarikan seni reak di Rancaekek," Ujar Popoy. (Abah Gatan)

Komentar Via Facebook :