Akibat Tanggul Tarum Timur Jebol, Siklus Tanam Berubah mengakibatkan Ratusan Hektar Sawah di Sukanengah Gagal Panen
CYBER88 | Subang -- Akibat siklus tanam yang tidak tepat, terjadi serangan hama tikus di wilayah Sukanengah, Desa Sukatani, Kecamatan Compreng, Kabupaten Subang, menyebabkan ratusan hektar sawah rusak parah. Perubahan siklus ini diakibatkan tanggul yang jebol.
Hal ini terjadi diakibatkan tanggul yang jebol, musim tanam yang biasanya bulan enam atau bulan tujuh jadi tertunda karena sawah tidak bisa di tanami bergeser hingga ke bulan Sembilan, “Keluh Hikmat Hidayat ustad muda pada awak media sebagai wakil para petani, Senin (22/11/2021).
Kata dia, bentangan sawah yang padinya mulai hijau berisi, rusak terkena hama tikus. Masyarakat Petani di Sukanengah semua kena imbas dari musibah tanggul Tarum timur yang jebol sehingga musim tanam tertunda dan bergeser dari siklus bulan tanam yang seharusnya.
“Dulu akibat tanggul yang jebol, musim tanam yang biasanya bulan enam atau bulan tujuh jadi tertunda karena sawah tidak bisa di tanami bergeser hingga ke bulan sembilan. Akibatnya ya sama seperti sekarang. Ketika akan siap panen, karena tidak tepat siklusnya, serangan hamalah yang muncul," Ucapnya.
Hal senada dikatakan Daspan "Hama penggerek batang dan hama tikus menyerang merusak padi," keluh Daspan dengan wajah murung sambil menatap bentangan sawahnya yang rusak.
Lebih lanjut Daspan, mengatakan bentangan sawah yang ia garap itu bukan miliknya sendiri. Tapi sewa garap. Ongkos sewa dan biaya menggarap sawah yang tidak sedikit membuat Daspan merenung, sementara Padi yang ia harapkan, rusak ketika menjelang panen.
"Biasanya tidak seperti ini, hasil panen bagus, tidak ada serangan hama dan ini terjadi karena majunya siklus musim tanam yang menyebabkan hama datang menyerang” sambung Daspan.
Keterangan itu juga sejalan dengan keterangan RT Rosul, ketua RT dari Dusun Sukanengah 2 Desa Sukatani kecamatan Compreng Kabupaten Subang. Menurut RT Rosul, sekitar 600 bau dari luas areal pertanian di desanya yang gagal panen tahun ini akibat serangan hama tikus.
"Ada keterlambatan penanaman padi disebabkan karena hambatan pengairan dikarenakan adanya jebolan dari irigasi tarum timur. Selama tujuh bulan menunggu air, perbaikan baru selesai. Tepatnya di lokasi titik persole. Jadi ada keterlambatan musim tanam, seharusnya sudah panen jadi ada keterlambatan masa," terangnya.
Masih tutur Ketua RT (Rosul), jadi pas waktunya hama datang, padi baru tungkul hijau. Seharusnya sudah selesai panen, sudah pulang” mbuh Rosul.
Selanjutnya Rosul juga berharap dengan musibah gagal panen ini ada perhatian dari pemerintah terkait. Karena menurutnya, selain pemerintah desa, belum ada dinas terkait yang turun langsung ke lokasi untuk meninjau dan menindaklanjuti musibah gagal panen yang menimpa petani.
Harapan Rosul ini sejalan dengan harapan masyarakat yang banyak mengeluh tentang musibah gagal panen tahun ini. Mereka berharap ada solusi dan penanganan serta perhatian dari pemerintah dinas terkait.
Sementara keterangan dari kantor UPTD Pertanian kecamatan compreng yang dihubungi oleh Hikmat via telefon menyatakan,
"Baru akan mengirimkan petugas pengamat hama untuk survei ke lapangan, menyarankan pada para petani yang terdampak kerugian gagal panen untuk bisa daftar asuransi AUTP agar mendapat penggantian ketika ada musibah gagal panen," ujar Hikmat.
"Prosedurnya seperti apa, dan penanganan gagal panen tahun ini bagaimana, masyarakat masih bingung. Diharapkan dinas pertanian turun ke lapangaan saja dulu dan bersama-sama memberi solusi kepada para petani ini," pungkas Hikmat. [Rud]


Komentar Via Facebook :