Fenomena ODOL jadi Kendala, Aptrindo Banten Lakukan Diskusi Peningkatan Kompetensi untuk Tingkatkan LPI
CYBER88 | Cilegon – Permasalahan truk ODOL (over dimension over load) menjadi masalah bersama, karena berdampak pada banyak hal, seperti kemacetan, kecelakaan, kerusakan jalan, dan lainnya. Namun, hal ini pun terjadi atas beberapa faktor yang tak hanya bersumber dari perusahaan truk saja. Maka, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Banten melakukan diskusi bersama pihak terkait untuk mencari solusi, Kamis (22/6).
Mengusung tema "Memperkuat Kompetensi Perusahaan Trucking di Banten dalam Meningkatkan Logistic Performance Index", Aptrindo Banten yang diketuai Syaiful Bahri menggelar diskusi bersama Dinas Perhubungan, Korlantas Polri, BPTD Kelas II Banten, dan KSOP Kelas I Banten yang juga dihadiri oleh Ketua DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan, di The Royale Krakatau Hotel, Cilegon, Banten.
Syaiful menyebut, Kompetensi dan Logistic Performance Index (IPL) menjadi permasalahan yang harus ditangani bersama. Sebab, fenomena truk ODOL (Over Dimension Over Load) masih marak. Tak jarang hal ini memicu kemacetan di jalur menanjak juga kecelakaan akibat rem blong dan oleng.
Tak dapat dipungkiri, pengusaha truk terpaksa mengubah dimensi truk agar lebih besar supaya dapat menampung lebih banyak muatan demi menutupi biaya operasional. Bukan untuk meraup keuntungan besar, mereka harus berpikir keras untuk mengkalkulasikan keseimbangan antara biaya operasional, jenis muatan, regulasi, juga penekanan harga yang ditawar para penyewa jasa angkutan truk.
Selain itu, Syaiful mengutarakan jika hari libur juga mempengaruhi pendapatan para pengusaha truk, karena pemerintah memprioritaskan angkutan orang dan menyetop angkutan barang, sedangkan argo dan cicilan kendaraan tetap berjalan. Bahkan, pertumbuhan kendaraan (truk) lebih banyak ketimbang jumlah sopir yang ada, sehingga terpaksa kernet yang minimal bisa memarkirkan truk dinilai layak menjadi sopir sebagai alternatif.
Bertentangan dengan hal tersebut, Ketua DPP Aptrindo, Gemilang Tarigan berupaya semaksimal mungkin untuk menekan angka berkembangnya fenomena ODOL ini. Sebab, ODOL dinilai dapat menurunkan indeks performa logistik di Indonesia karena minimnya keselamatan sebagai standar utama yang dipergitungkan para perusahaan asing. Selain itu, banyak pula ditemukan sopir tanpa mengenakan baju saat berkendara, yang mana akan turut berpengaruh. Maka, kompetensi dinilai sangat perlu.
Gemilang juga menyayangkan pada diskusi kali ini, perusahaan-perusahaan penyewa jasa logistik belum terlibat agar mendapatkan kesepahaman demi menyesuaikan regulasi yang ada. Kemudian infrastruktur yang dibangun sudah cukup baik, tinggal pengelolaannya yang harus lebih baik.
Peningkatan IPL yang diukur bank dunia dibagi menjadi 8, yakni kemudahan pengiriman; kompetensi pelayanan; efisiensi kepabeanan; kualitas infrastruktur, perdagangan, dan transportasi; kemudahan mengatur pengiriman; kompetensi dan kualitas pelayanan logistik pemgiriman; kemampuan untuk melacak, frekuensi pengiriman barang mencapai penerima barang.
Jadi, untuk meningkatkan LPI diperlukan kerjasama banyak pihak untuk membenahi secara keseluruhan. Sebab, Indonesia selalu mengalami penurunan dari tahun ke tahun dan ini terus dipantau.
Hal ini dibenarkan oleh Kepala BPTD Kelas II Banten, Benny Nurdin Yusuf, jika pada 2018 Indonesia menduduki peringkat 46 di Asia dengan skor 3,15/5, namun di 2023 turun menjadi peringkat 63 dengan skor 3/5. Meski penurunannya hanya 0,15 poin, namun ini menjadi hal yang perlu diperhatikan. Padahal, Asia menduduki peringkat pertama LPI di dunia yang diduduki oleh Singapura dan disusul oleh negara-negara Eropa.
Saat ini, lanjut Benny, di era globalisasi, tidak ada satupun hal yang dilakukan oleh negara tanpa dinilai oleh dunia. Maka, dirinya meminta Aptrindo sebagai organisasi perusahaan trucking untuk bersama-sama mencari solusi yang terbaik untuk menyikapi permasalahan ini. Sebab, 65% trucking di Indonesia masih individual.


Komentar Via Facebook :