Masyarakat Jatiwangi Soroti Usaha BBM Bersubsidi Ilegal yang Disinyalir ada Kerjasama dengan Oknum SPBU, Ini Modusnya. Pengawas SPBU: Itu Tidak Benar

Masyarakat Jatiwangi Soroti Usaha BBM Bersubsidi Ilegal yang Disinyalir ada Kerjasama dengan Oknum SPBU, Ini Modusnya. Pengawas SPBU: Itu Tidak Benar

CYBER88 | Majalengka, --  Upaya pemerintah untuk memperketat pembelian bensin dalam rangka menekan penimbunan BBM tidak membuat para pedagang bensin eceran kehilangan akal. Ada saja cara untuk mendapatkan BBM Subsidi di SPBU secara ilegal. Padahal pembatasan penjualan tersebut sudah dilakukan agar BBM Subsidi tersalurkan kepada orang yang tepat.

Modusya, mereka membeli bensin dengan cara berpura-pura mengisi tangki bensin motor yang cukup besar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang nantinya akan dipindahkan ke jerigen atau botol-botol yang telah mereka siapkan. Alhasil, praktik seperti ini menyebabkan pembeli lain merasa dirugikan karena selalu kehabisan BBM subsidi.

Seperti yang terjadi di SPBU 34.454.18 yang berlokasi di ruas jalan raya Cirebon -Bandung tepatnya di wilayah Ciborelang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka Jawa Barat. Sebuah sepeda motor Suzuki Thunder terlihat dengan santainya melakukan Pengisian di SPBU tersebut.

Sayangnya, petugas di SPBU itu melayani si pemakai Suzuki Thunder berwarna biru itu tanpa memperdulikan adanya larangan untuk mengisi tanki motor berukuran besar secara penuh. Atau mungkin, disinyalir adanya kerjasama diantara mereka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Cyber88.co.id sebelumnya dari salah satu warga Desa Cibolerang Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka Jum’at (28/6), pelaku usaha BBM bersubsidi illegal jenis Pretalit yang ada di wilayahnya itu adalah TA. Mereka pun mensinyalir adanya kerjasama dengan pihak SPBU.

Menurutnya, setelah modus pembelian yang dilakukan dengan mengisi penuh tanki motor besar itu, meraka kemudian menampungnya dalam jerigen. Usaha ilegalnya, sambung dia, dilakukan di halaman rumahnya. BBM bersubsidi jenis Pretalit yang ditampungnya mencapai ratusan liter.

“Mereka sudah lama beroperasinya walau tidak memiliki bukti surat izin usaha penampungan BBM. Apalagi  untuk menjual ke tiap-tiap kios -kios bensi. Adapun harga yang mereka menjual kepada pihak kios seharga Rp 12.500/liter jenis Pretralit,” Ungkapnya.

Marhadi, pengawas SPBU 34.454.18, saat dikonfirmasi awak media Cyber88 mengaku heran adanya hal tersebut. Dia mengatakan kalau dirinya baru tau adanya konsumen seperti itu.

"Maaf saya baru tahu pak, dengan ada nya kejadian ini. Kami hanya melayani sesuai dengan kapasitasnya yang telah ditentukan, bahwa untuk kendaraan mengisi kedaran roda dua itu hanya berlaku 1 X 10 liter.  Adanya informasi ini kami tidak Tahu menau,"Kata Marhadi,

Ketika awak media meperlihakan dokumen video aksi orang yang diduga sebagai pelaku dan operator SPBU saat sedang melayaninya,  Marhadi nampak kaget dan bilang, "kami sekali lagi terima kasih atas inpormasinya dan mohon maaf atas kejadian ini atas kejadian ini”.

“Kami nanti akan perhatikan kembali. Kalau operator SPBU ada unsur keteledoran kami akan cek kembali,” Ujarnya.

Soal adanya dugaan dari masyarakat terjadinya kerjasama dengan pihak operator SPBU, Marhadi menandaskan bahwa itu tidak benar.

"Selain itu, kami mohon maaf atas kurang kenyamanan dalam pelayanan di tempat SPBU kami ini, terimakasih atas informasinya,” Tukasnya.

Sementara itu, TA, terduga pelaku pengepul BBM bersubsidi, saat dihubungi via WhatsApp menampik kalau BBM illegal yang ada di rumahnya bukan miliknya. Katanya, itu hanya titipan.

Terkait motor yang digunakan untuk membeli BBM, TA menyebut bahwa itu milik anaknya yang melakukan usaha mengirim BBM bersubsidi ke kios kios eceran.

Meski begitu, TA pun mengungkapkan soal cara pengisian BBM yang dimasukkan ke tanki motor dan dimasukan kedalam Jerigen dalam ukuran pariatif ada 25 liter, 30 liter. Ia pun menceritajan, kalau anaknya perna kena rajia oleh pihak APH dan sempat berhenti.

“Memang dulu pernah sempat anak -anak nena rajia Oleh pihak APH dan akhirnya anak- anak sempat berhenti dan sekarang akan saya berhentikan," Ucap TA.

“Untk diketahui, bahwa Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (“UU Migas”), Setiap orang yang melakukan penyimpanan BBM secara ilegal (tanpa Izin Usaha Penyimpanan) dapat dipidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling tinggi Rp 30 miliar. Sedangkan, setiap orang yang melakukan pengangkutan BBM secara ilegal (tanpa Izin Usaha Pengangkutan) dapat dipidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan denda paling banyak Rp 40 miliar.

Sementara, bagi SPBU yang menjual BBM tersebut sehingga pembeli dapat melakukan penimbunan atau penyimpanan tanpa izin, dapat dipidana dengan mengingat Pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (“KUHP”). yang berbunyi: Dipidana sebagai pembantu kejahatan: mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan; mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan. (Tatang)

Komentar Via Facebook :