Monumen Siber Indonesia Resmi Berdiri di Cilegon, SMSI: Ini Warisan Besar Pers Digital Nasional
CYBER88 | CILEGON — Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Firdaus, melakukan kunjungan strategis ke Kota Cilegon dalam rangka memperkuat posisi pers siber sebagai pilar utama transformasi komunikasi nasional.
Kehadiran Firdaus disambut sejumlah tokoh penting, di antaranya mantan Wali Kota Cilegon Iman Ariyadi, Wakil Wali Kota Cilegon Fajar Hadi Prabowo, perwakilan Dewan Pers Yogi, serta Plt Sekda Cilegon Ahmad Aziz Deti.
Dalam pertemuan tersebut, Firdaus menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Kota Cilegon atas dukungan nyata terhadap perjuangan pers digital, khususnya dengan diresmikannya Monumen Siber Indonesia.
“Monumen Siber Indonesia ini bukan sekadar bangunan. Ini simbol perjuangan, legacy besar, dan tonggak sejarah transformasi komunikasi bangsa,” tegas Firdaus.
Ia menekankan bahwa monumen tersebut adalah bentuk penghargaan terhadap insan pers siber yang tumbuh dari kesunyian, dari jalan panjang penuh pengabdian, hingga menjadi kekuatan penting dalam pembangunan demokrasi Indonesia.
Firdaus juga menyoroti berbagai tantangan besar yang dihadapi dunia pers, termasuk stigma terhadap wartawan independen serta praktik kekuasaan yang kerap mengabaikan idealisme jurnalistik.
“Jurnalis bukan alat kekuasaan. Jurnalis adalah cahaya bagi masyarakat. Ini profesi mulia, bukan sekadar pekerjaan,” ujarnya lantang.
Firdaus mengenang perjalanan panjangnya sejak tahun 2007, ketika ia melawan dominasi konglomerasi media besar dengan menggagas media online sebagai ruang baru bagi publik.
Perjuangan itu mencapai momentum penting pada tahun 2017, saat SMSI dideklarasikan di Kota Cilegon.
“SMSI lahir di Cilegon. Ini bukan kebetulan. Ini sejarah. Dari kota industri ini, gagasan besar media siber nasional dirumuskan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa Cilegon memiliki posisi strategis dalam perjalanan SMSI hingga berkembang ke seluruh Indonesia, bahkan sampai Papua.
“Hari ini SMSI hadir dari Sabang sampai Merauke. Dari jalan sunyi, menjadi cahaya untuk Nusantara,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Firdaus menyampaikan keyakinannya bahwa jurnalis sejatinya adalah dai, pembawa pesan kebenaran bagi rakyat.
Ia menegaskan komitmennya menjaga independensi, bahkan menyebut tidak pernah mengambil proyek dari APBD sepanjang hidupnya.
“Saya tetap hidup di jalan jurnalistik. Meski sunyi, ini jalan pengabdian,” katanya.
Firdaus menutup dengan pesan kuat bahwa pers harus menjadi pelindung rakyat kecil, pengawal demokrasi, serta penjaga nilai keadilan dan kebenaran.
Monumen Siber Indonesia di Cilegon kini menjadi penanda bahwa perjalanan media siber bukan hanya soal teknologi, tetapi tentang perjuangan, idealisme, dan warisan besar untuk generasi mendatang.
Firdaus berharap monumen ini menjadi inspirasi bagi insan pers di seluruh Indonesia untuk terus menjaga profesionalisme, integritas, dan keberpihakan kepada rakyat.
“Ini legacy kita. Ini warisan untuk bangsa. Dari Cilegon, untuk Indonesia,” pungkasnya.


Komentar Via Facebook :