Semrawutnya Pengelolaan Bumdes Kertamulya, Dana Ketahanan Pangan sebesar Rp. 325 juta Dipertaruhkan

Semrawutnya Pengelolaan Bumdes Kertamulya, Dana Ketahanan Pangan sebesar Rp. 325 juta Dipertaruhkan

CYBER88 | Bandung Barat - Dana Ketahanan pangan Desa Kertamulya Kecamatan Padalarang Kabupaten Bandung Barat tahun anggaran 2025 sebesar Rp.325 juta yang seharusnya direalisasikan pada tahun tersebut, baru dilaksanakan di bulan Pebruari tahun 2026.

Di APBDes awal tahun 2025 tematiknya Desa ikan(budidaya ikan) namun di APBDes 2026 tematiknya berubah menjadi Desa Ternak, sedangkan di APBDes murni dan perubahan masih tetap Desa Ikan. 

Hal ini tentu menjadi pertanyaan di masyarakat dan para tokoh di Kertamulya, dan diduga telah terjadi pelanggaran dan ada permainan antara Pemdes dan Bumdes. 

Diketahui bahwa saat ini Bumdes Kertamulya menjalankan ketahanan pangan di tematik ternak bebek dan mengolah telor asin, namun pada praktek dilapangan sangat jauh dari program yang dicanangkan pemerintah pusat. 

Seharusnya modal awal dianggarkan untuk bangun kandang, pembelian bibit induk kemudian setelah bibit tersebut menghasilkan telor barulah telor tersebut diolah dan dijual kepada pihak ketiga. 

Tentunya ini tidak sesuai dengan amanat Permendes diantaranya harus mengagali potensi potensi atau lapangan pekerjaan yang akan menunjang PADes dan amanat UU bumdes diakhir tahun 2025 harus ada PADes. 

Ibrahim, Ketua Bumdes Kertamulya ketika dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp menyampaikan kepada cyber.co.id bahwa kegiatan Bumdes berjalan seperti yang seharusnya, minggu (01/03). 

Pencairan dana Bundes sebesar Rp. 325juta pada bulan desember 2025 kemarin, dan sudah dibelanjakan sekitar 85 ekor bebek yang kami simpan di situsaeur, sementara untuk pengolahan telor asin di Cijeungjing, terang nya. 

Saat ini kami ingin melihat hasil daripada pengolahan telor asin tersebut dari kelayakan nya untuk bisa bermitra dengan SPPG yang ada di Padalarang, imbuhnya.

Salah satu tokoh masyarakat di Kertamulya yang tidak mau disebutkan identitasnya menyampaikan kekesalannya terkait pengelolaan Bundes di Desa Kertamulya ini. 

Ini kan lucu, tematik nya ternak bebek tapi pihak Bumdes tidak memelihara bebek dan mereka kenyataan nya membeli telor bebek kemudian diolah menjadi telor asin dari daerah lain kemudian berencana menjualnya kepada pihak ketiga, terangnya. 

Dan sekarang mereka bingung untuk memasarkan produk tersebut karena tidak ada kerjasama antara Bumdes Kertamulya dengan pihak lain, imbuhnya. 

Dari awal ini memang sudah sangat mencurigakan karena dana yang seharusnya dipakai untuk pelatihan juga diduga fiktif, dan pihak terkait yaitu Dinas Peternakan Bandung Barat terkesan tutup mata padahal di proposal program kerja dan RAB harus ada tanda tangan dinas terkait, jelasnya. 

Pihak Bumdes seolah-olah tidak mempunyai perencanaan program kerja, bagaimana pengelolaan dana sebesar Rp. 325juta bisa dipercayakan pada mereka sementara keahlian dan manajemennya diduga asal-asalan, keluhnya. 

Hal ini tentunya harus diusut tuntas agar masalahnya menjadi terang benderang bagi masyarakat Padalarang terutama masyarakat Desa Kertamulya, pungkasnya.(yus')

Komentar Via Facebook :