Mutiara Ramadhan : Empat Hal Penyebab Gelap dan Terangnya Hati
CYBER88.CO.ID -- Bulan suci Ramadan ini merupakan suatu momentum yang tepat untuk mendekatkan diri pada Sang Khalik yang memberikan begitu banyak anugerah pada semua makhluknya; mulai dari makhluk yang sangat kecil hingga pada makhluk yang paling besar.
Sebagai umat yang senantiasa mengokohkan tauhidnya pada keesaan Alloh Subhanahu Wa Ta’ala, maka pada bulan ini kita semua akan selalu diingatkan dan dibawa pada arus keimanan. Dengan menjalankan ibadah puasa, maka hati dan akal kita akan selalu beradaptasi pada jasmani kita yang dilatih untuk menahan lapar dan dahaga.
Ada hikmah yang tersirat pada ibadah puasa, di antaranya melatih kita untuk belajar hidup sederhana dan mengendalikan diri dengan menahan semua keinginan terutama makan dan minum juga napsu sahwat pada siang hari. Selain itu kita juga diajak bertepa selira dan berempati pada saudara-saudara kita yang mendapat kesusahan atau musibah.
Pada tulisan kali ini penulis ingin mengajak pembaca untuk mengambil mutiara Ramadahan dengan mengutip dari nasihat bijak yang diambil dari Kitab Nashaihul Ibad karangan Imam Nawawi Al-Bantani, pada sub bab Empat Penyebab Gelap dan Terangnya Hati.
Abdullah Bin Masud Rodiallohu anhu berkata, Empat hal yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu:
1) Perut yang terlalu kenyang,
2) Berteman dengan orang-orang dzalaim,
3) Melupakan dosa yang pernah dilakukan, dan
4) Panjang angan-angan.
Kesatu perut yang terlalu kenyang
Pada saat perut kita kenyang sekali atau dalam bahasa Sunda kamerkaan, biasanya kita akan merasakan malas untuk bergerak (mager), maunya tiduran atau bermalas-malasan. Tetapi napsu syahwat akan terus meningkat. Orang yang selalau kenyang perutnya akan merasakan bahwa hidup ini sangat enak tidak menanggung beban hidup yang berat.
Orang yang sering makan biasanya badannya gemuk banyak menimbun lemak. Akibatnya rentan sekali terkena penyaki dalam seperti pembengkakan jantung, gangguan hati, produksi gula darah meningkat, maka badan akan lemas dan mudah terjangkit penyakit yang lainnya.
Kedua bergaul dengan orang-orang yang zalim
Apa yang menjadi sebuah karakter pada diri kita, itu merupakan sebuah input dari pergaulan hidup. Maka tidak heran jika kita berteman dengan seorang ahli kesehatan, kita pun sedikit banyaknya mengetahui tentang kesehatan itu sendiri, sebaliknya jika kita sering bergaul dengan orang yang suka bermaksiat.
Misalnya senang judi, maka kita [un akan mengenal cara berjudi, bahkan tidak sedikit orang terjerumus akibat awalnya dia sering ikut bersama dengan mereka yang berbuat maksiat tersebut. Tidak sedikit orang yang pada awalnya menjadi orang yang baik, akan tetapi setelah bergaul dengan orang zalim, maka tabiat tersebut lambat laun akan menempel juga pada diri kita.
Ketiga melupakan dosa yang pernah dilakukan
Pada umumnya orang selalu mengingat kebaikan yang pernah dilakukannya, sebaliknya tentang dosa atau kesalahn yang pernah dilakukannya jarang ia ingat. Pada akhirnya haya mengihitung pahala, tanpamengingat tentang dosa dan siksaan. Maka pada masa puasa inilah, mari kita telisik lagi semua episode kehidupan yang pernah kita lakukan untuk melakukan muhasabah atau instrofeksi diri.
Keempat panjang angan-angan
Panjang angan-angan itu suatu perilaku yang selalu mempunyai angan-angan tinggi yang secara rasional tidak mungkin kesampaian.
Bukannya tidak boleh kita mempunya obsesesi untuk masa depan, tetapi harus diingat pula bahwa apa yang menjadi modal utama yaitu kompetensi diri pun harus dimilikinya. Sebagai mana sabda Rosulullah SAW bahwa “Sesungguhnya sesuatu yang sangat aku khawatirkan atas kalian ada dua, yaitu: mengikuti hawa nasu dan panjang angan-angan.
Mengikuti hawa napsu berarti menjauhi kebenaran, sedangkan panjang angan-angan mencerminkan cinta dunia, (HR.Ibnu Abid Dun-ya).
Selanjutnya ada 4 (empat) hal sebagai penerang hati, yatu:
1) Perut lapar karena tindakan hati-hati;
2) Berteman dengan orang-orang shalih;
3) Mengingat dosa yang pernah dilakukan, dan
4) Tidak panjang angan-angan.
Kesatu, orang yang perutnya sering lapar karena kehati-hatian. Ini sebuah pertanda bahwa orang yang demikian selalu cermat atau teliti dalam melakukan sebuah tindakan. Biarlah perutnya lapar dari pada harus makan barang haram, biarlah dirinya lapar dari pada orang lain ia telantarkan. Sikap toleransinya sangat tinggi.
Kedua, berteman dengan orang-orang shalih. Bila kita sering bergaul dengan orang-orang shalih, penyantun, penyabar, maka perilaku, hati, dan kepribadian kita pun akan terpengaruh oleh lingkungan yang membentuknya. Maka upayakan terutama anak cucu kita bergaullah dengan orag-orang shalih karena mereka akan selalu mengingatkan kita pada kebaikan.
Ketiga, mengingat dosa yang pernah dilakukan. Jika kita selalu ingat pada dosa maka kita akan selalu berusaha untuk bertobat dan memperbaiki kesalahan itu sendiri. Maka dengan mengingat dosa kita akan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan yang mengakibatkan dosa.
Keempat, tidak panjang angan-angan. Selalu berusaha untuk meraih keinginan, dengan dibarengi keyakinan pada kekuasaan Allah SWT, dan bertawakal pada apa yang diterima. Bila apa yang diusahakan itu tidak tercapai maka akan ikhlas dan selalu berserah diri. Dengan selalu mengingat Yang Maha Kuasa hati kita semoga terus diberi cahaya dan ketentraman.
Para pembaca yang budiman demikianlah tulisan Ambu kali ini, mudah-mudahan menjadi kebaikan bagi semuanya. Selamaat menunaikan ibadah shaum, semoga kita selalu diberi kesehatan dan keberkahan.
PEnulis : N. Ida Widaningsih (Ambu Ida)


Komentar Via Facebook :