Pelantikan Ketua Asosiasi Pengusaha Dekorasi Indonesia DPW Banten

Aspedi Programkan Serap Tenaga Kerja Lokal Skala Besar

Aspedi Programkan Serap Tenaga Kerja Lokal Skala Besar

Acara Pelantikan Ketua Aspedi DPW Banten periode 2022/2025 di Kebon Kubil, Garden Party Cafe & Resto Kota Serang, Rabu (14/9/2022).doc

CYBER88 | Serang – Pasca Pandemi yang mererobohkan sektor ekonomi banyak lini, Asosiasi Pengusaha Dekorasi Indonesia (Aspedi) DPW Banten menggaet pengusaha lokal pada acara Pelantikan Ketua Aspedi DPW Banten Periode 2022/2025. Kegiatan berlangsung di Kebon Kubil Garden Party Café & Resto, Jl. Bhayangkara, Cipocok Jaya, Kelurahan Sumur Pecung, Kecamatan Serang, Kota Serang, Banten, pada Rabu (14/9/2022) kemarin.

Agung Muhammad terpilih menjadi Ketua Aspedi DPW Banten menggantikan Febriansyah Slamet Pribadi yang menjabat sejak dibentuknya DPW Banten pada 2019 silam.

Atas hal itu, Agung mengemban tanggung jawab besar untuk menjalankan misi Aspedi di lingkup Banten yang saat ini membawahi 2 DPC yang telah terbentuk, yakni Pandenglang dan Kota Serang. Kemudian target di kepemimpinannya, Agung berencana mengembangkan di wilayah Kota Cilegon dan Kota Tangerang.

Aspedi Banten sendiri terdiri dari 62 orang anggota dari 2 DPC yang mewakili setiap perusahaan. Adapun anggota lain dari perusahaan yang sama, menurut Agung, bukanlah sebagai anggota melainkan pendamping/support.

Asosiasi yang meliputi para pengusaha dekorasi tersebut menggandeng para pengusaha lokal di bidang yang berkaitan dengan event, seperti penata rias, penata busana, fotografer, juga wedding dan event organizer untuk turut serta menghiasi acara untuk menampilkan karya terbaik mereka.

Meski membidangi dekorasi, namun dengan banyaknya relasi lintas asosiasi, tidak menutup kemungkinan melalui Aspedi, bisa meng-handle sebuah event secara utuh.

Ketatnya persaingan bisnis di era milenial saat ini, Aspedi berupaya meningkatkan kualitas anggotanya dengan melakukan seminar dan talkshow, juga dilakukan source untuk melihat referensi model yang dapat dibuat, walaupun ada beberapa item yang tidak dapat dibuat sendiri. Nantinya, edukasi tersebut ditujukan agar anggota dapat memenuhi standar dekorasi yang ditetapkan Aspedi.

Adapun sisa dari barang dekorasi, dapat diolah kembali menjadi barang dekorasi, sekecil apapun bentuknya. Bahkan sebagian besar material dapat digunakan kembali untuk dekorasi berikutnya, sehingga dapat mengefisiensikanpenggunaan bahan baku dan meminimalisir sampah.

Ketua Aspedi DPC Pandeglang, Agus Nurul Husna menambahkan, bahwa Aspedi ingin mengakomodir kebutuhan dekorasi di tingkat daerah agar dapat maju, berkembang, dan berdaya saing tinggi dengan menghimpun banyak suplayer untuk kebutuhan dekorasi, seperti para petani kembang, daun, tanaman, penjual aksesoris, styrofoam, dan banyak lagi.

“Kami berusaha menjalin komunikasi yang baik dengan sektor eksternal, supaya suplay tersebut dapat masuk melalui organisasi ini,” ujar Agus.

Menurut Agus, kebanyakan petani mengalami kesulitan untuk menjual hasil taninya. Namun beberapa, seperti petani kembang, mengalami fluktuasi harga yang tidak stabil, terkadang dapat melonjak naik bahkan anjlok.

Selain memfasilitasi para petani dan pedagang lainnya dalam mensuplay kebutuhan dekorasi, para pelaku usaha dekorasi pun membutuhkan tenaga kerja temporer yang cukup banyak. Dikarenakan, untuk mendekor suatu tempat tidak bisa dilakukan dengan sedikit orang, apalagi pada situasi tertentu klien meminta dekorasi yang cukup rumit dalam waktu yang sedikit.

Diharapkan program Aspedi dapat beriringan dengan program pemerintah dalam sisi penyerapan tenaga kerja, supaya tingginya angka pengangguran dapat dientaskan.

Ketua Umum Aspedi, Warsono menyebutkan, meskipun Aspedi beranggotakan para pengusaha di bidang yang sama, namun dengan slogan “Aspedi Bersaudara” diharapkan anggota dapat bersaing secara sehat dan beretika.

Dalam penuturannya, Warsono menjelaskan, pasca pandemi Covid kemarin, para pengusaha dekorasi mengalami drop. Atas antusiasme anggota dan masyarakat yang beberapa dari bidang tata rias juga wedding organizer, beralih ke bidang dekorasi. Akhirnya, Aspedi melakukan pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan inovasi yang disesuaikan dengan situasi sekarang.

“Anak muda sekarang lebih menyukai gaya eropa yang lebih simpel. Walaupun begitu, Aspedi tetap mempertahankan unsur budaya lokal,” paparnya.

Warsono juga melihat banyaknya potensi msyarakat daerah yang belum terjamah, dan ternyata dinilai cukup kreatif. Salah satunya seni ukir yang sangat dibutuhkan dalam bisnis dekorasi. Begitu juga dengan banyaknya tanaman liar yang dapat dikreasikan menjadi sebuah karya seni.

“Bunga dan tanaman artifisial sangat dibutuhkan di bidang dekorasi. Sayangnya, Indonesia masih belum bisa memproduksi, dan pendekor masih mengimpornya dari luar negeri. Maka Aspedi mengupayakan agar produk ini dapat diproduksi dari dalam negeri,” tuturnya.

Rencananya, Aspedi akan meluncurkan produk dalam bentuk e-commerse dengan nama “Aspedi Mart” untuk menghimpun produk lokal hasil buah karya kreativitas anak bangsa, yang nantinya produk tersebut dapat dijual untuk melengkapi properti dekorasi yang akan sangat dibutuhkan.

Komentar Via Facebook :