Gunungan Ketupat, Tradisi Kenduri Ketupat di Desa Jimbung
CYBER88 | Klaten -- Di bulan Syawal, Gunungan Ketupat menjadi Tradisi Kenduri Ketupat di Desa Jimbung Kecamatan Kalikotes Kabupaten Kalten Jawa Tengah. Kegiatan ini dibuka oleh PLt. Camat Kalikotes, Veronika Retno.
Tradisi Kenduri Ketupat ini digelar secara umum dan sederhana di Alun Alun Jimbung. Nampak Suasana pada Hari Jum'at 28 April 2023 menjadi begitu ramai. Setelah acara seremonial dan Doa bersama selesai warga saling berebut ketupat dengan cukup meriah.
Romiyadi, Salah satu Tokoh Masyarakat Desa Jimbung menjelaskan, Tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun oleh warga Jimbung setelah H + 8 Idul Fitri. Arti makna ketupat dari tradisi ini, sambung dia, bahwa ketupat dari kata Kupat yang mempunyai Arti atau makna dalam Bahasa Jawanya “Ngaku Lepat” bisa diartikan saling mengakui kesalahannya.
Ada Tiga Gunungan yang disiapkan dengan jumlah ketupat sekitar 1000, langsung habis dan bersih dalam waktu singkat,” Ujar Romiyadi saat dihubungi Media Cyber88, Jumat (28/ 04/ 23).
Kata Romi, Tradisi Syawalan sudah berjalan secara turun temurun, Salah satu nya pusat kegiatan tersebut dulunya di Kawasan Sendang Bulus Jimbung menjadi ikon di Sendang tersebut.
Pada sejarah cerita jaman dulu konon ada dua bulus yang sangat dikenal di Sendang itu, yaitu Kyai Poleng dan yang satu nya Nyai Remeng. Pada jaman dulu anak anak kecil datang ke Sendang itu dengan kalungan Ketupat.
Dengan membawa satu ketupat bisa untuk memberi makan dua bulus tersebut dan satu ketupat untuk dimakan sendiri, makan nya di Bukit dekat Sendang itu dan lauk nya sambil beli bakso kerikil yang maksud nya baksonya itu bulatan nya kecil kecil seperti kerikil,” Ujar Romi.
Kedua bulus itu berukuran besar dan salah satunya memiliki lekuk seperti punggung manusia, karena begitu besarnya ukuran, bulus bulus itu dan sering kali dinaiki anak anak.
Walaupun kedua bulus itu sudah mati Sendang yang ada di Jimbung ini masih dihuni bulus bulus keturunan bulus Kyai Poleng dan Nyai Remeng, Kisah kedua bulus itu mendarah daging dengan legenda warga setempat.
Romi menjelaskan pada jaman dulu ada seorang Tokoh yang bernama Raden Potohan yang dihukum oleh orang tuanya yang bernama Ratu Wiroto, Seorang Ratu yang berada di Kerajaan Jepara.
Raden Potohan dihukum karena melakukan kesalahan hingga salah satu kakinya dipotong dan harus meninggalkan Kerajaan.
Dengan salah seorang Abadi nya yang setia, Raden Potohan meninggalkan Kerajaan dan mencari Tombo / Obat hingga ke Wilayah Gunung Botak yang berada disebelah Selatan Jawa, Setelah kakinya sembuh Raden Potohan mendirikan Kerajaan di Jimbung.
Kegagahan dan Kewibawaan Raden Potohan, yang menjadikan seorang putri yang bernama Ratu Kelling Fall in love alias jatuh cinta. Namun demikian Sang Raja tidak bisa menerima cintanya Ratu Kelling.
Tanpa patah semangat Sang Ratu kemudian mengutus kedua Abdinya , yaitu Kyai Poleng dan Nyai Remeng agar untuk membujuk Raden Potohan.
Karena lantaran waktu terus mendesak, Kyai Poleng dan Nyai Remeng disumpah oleh Ratu Kelling dan secara tiba tiba berubah wujud menjadi Bulus, Kedua Bulus itu yang sampai kemudian menjadi penghuni Sendang Bulus Jimbung. Pungkas Romiyadi. (Sus. Wd ).


Komentar Via Facebook :