Semangka 1,5 Ton Jadi Bintang Kirab Budaya Demak Ijo, Tradisi Syukur yang Kembali Menggeliat
CYBER88 | KLATEN — Aroma tradisi dan kemeriahan tumpah di Desa Demak Ijo, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. Ribuan warga memadati jalur kirab saat Pemerintah Desa Demak Ijo kembali menggelar Kirab Budaya, Sabtu (26/9/2026).
Bukan sekadar arak-arakan budaya, kirab tahun ini menjadi ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus penanda usia Desa Demak Ijo yang telah mencapai 196 tahun.
Tradisi yang semestinya telah memasuki penyelenggaraan ke-11 itu sempat terhenti selama sekitar dua hingga tiga tahun akibat pandemi Covid-19. Kini, tradisi tersebut kembali dihidupkan dengan kemasan lebih meriah.
Sedikitnya 1.200 peserta ambil bagian dalam kirab yang melibatkan tujuh RW dan empat sekolah. Beragam kesenian dan kreativitas warga ditampilkan sepanjang perjalanan, menciptakan suasana yang semarak sekaligus sarat nuansa tradisional.
Perhatian warga tertuju pada empat gunungan hasil bumi yang diarak dalam kirab. Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah gunungan dengan ikon semangka jenis Inul.
Tak tanggung-tanggung, sekitar 1,5 ton semangka hasil panen kelompok tani Desa Demak Ijo menjadi bagian utama gunungan. Buah berukuran besar itu disusun sedemikian rupa hingga membentuk gunungan yang tingginya hampir dua meter.
Kepala Desa Demak Ijo, yang tampil mengenakan busana adat Mataraman lengkap dengan mahkota emas, mengatakan semangka sengaja dipilih sebagai ikon utama karena menjadi salah satu hasil pertanian yang dibanggakan masyarakat setempat.
“Kenapa semangka? Saya ingin ini menjadi sesuatu yang pertama karena semangka menjadi ikon kami di Desa Demak Ijo,” ujarnya saat ditemui awak media.
Tak hanya semangka, gunungan juga dihiasi beragam hasil bumi lainnya serta hasil ternak yang telah diolah menjadi makanan. Seluruhnya merupakan hasil gotong royong masyarakat, khususnya para petani yang menggarap tanah kas desa.
Hasil bumi tersebut sejak awal memang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari gunungan dalam tradisi sedekah bumi. Setelah prosesi kirab selesai, gunungan diserahkan kepada pemerintah desa dan kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Sejumlah penampilan seni dari masing-masing RW dan sekolah turut memperkuat nuansa budaya dalam perhelatan tersebut. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat langsung sebagai pelaku tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi Pemerintah Desa Demak Ijo, kembalinya kirab bukan sekadar melanjutkan sebuah agenda tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat kebersamaan, mengenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus mengungkapkan rasa syukur atas rezeki yang diterima masyarakat.
“Harapannya satu, kegiatan ini akan terus berjalan sebagai bentuk ucapan terima kasih kami, masyarakat desa, kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diberikan,” pungkasnya.
Kirab Budaya Demak Ijo pun kembali menjadi saksi bahwa tradisi tidak hanya hidup dalam cerita masa lalu. Ketika masyarakat ikut menjaga dan merawatnya, budaya dapat terus berjalan seiring zaman—bahkan kembali semarak setelah sempat terhenti.


Komentar Via Facebook :