Kolase Perluas Pengelolaan Sampah ke 120 Sekolah di Cilegon, Sasar Perubahan Kebiasaan Pelajar
CYBER88 | Cilegon – Upaya membangun kebiasaan memilah dan mengelola sampah sejak dari sumber terus diperluas di Kota Cilegon. Melalui program Kolaborasi Ekonomi Sirkular Kelola Sampah di Sekolah atau KOLASE, sebanyak 120 sekolah kini dilibatkan dalam pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Program tersebut merupakan kolaborasi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, PT Chandra Asri Pacific Tbk (Chandra Asri Group), dan Yayasan Bakti Barito.
Peresmian perluasan program KOLASE Batch 3 dan 4 digelar di SMP Negeri 5 Kota Cilegon, Kamis (24/9/2026). Program ini merupakan pengembangan dari pelaksanaan KOLASE yang telah berjalan sejak 2023 dan sebelumnya diterapkan di 20 sekolah.
Wali Kota Cilegon Robinsar mengatakan persoalan sampah merupakan tantangan pembangunan yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, perubahan pola pikir dalam memperlakukan sampah harus dimulai dari sumbernya.
“Kota Cilegon menilai adanya urgensi untuk mengubah cara pandang terhadap sampah dengan mengelolanya sejak dari sumber, melalui pemilahan, pemanfaatan kembali, hingga pengoptimalan nilai ekonominya,” kata Robinsar.
Ia menilai sekolah menjadi tempat strategis untuk membangun kebiasaan tersebut karena merupakan ruang pendidikan sekaligus pembentukan karakter generasi muda.
“Sekolah menjadi tempat yang tepat untuk memulai perubahan tersebut karena merupakan ruang untuk membentuk karakter dan kebiasaan sejak dini. Kami menargetkan satu tahun terkumpul sampah 1.000 ton,” ujarnya.
Direktur Legal, Hubungan Eksternal, dan Ekonomi Sirkular Chandra Asri Group, Edi Rivai, mengatakan keterlibatan dunia usaha dalam KOLASE merupakan bagian dari upaya mendorong pengelolaan sampah sejak dari sumber.
“Melalui KOLASE kami mendukung sekolah untuk membangun praktik pemilahan sekaligus memperkuat keterhubungan dengan bank sampah, sehingga sampah yang telah dipilah dapat dikelola secara lebih baik dan memiliki peluang untuk kembali memberikan nilai,” tutur Edi.
Dengan melibatkan 120 sekolah dan 11 mitra bank sampah, program tersebut diharapkan mampu memperluas praktik pemilahan sampah sekaligus mengurangi sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cilegon, Heni Anita Susila, menyatakan dukungannya terhadap program KOLASE. Menurutnya, program tersebut telah menciptakan kebiasaan baru di kalangan pelajar.
“Dindik sangat mendukung program KOLASE. Sekarang ada kebiasaan baru, anak-anak mengumpulkan sampah baik dari rumah maupun dari sekolah. Sampah tersebut dibawa ke sekolah untuk dipilah dan ditimbang,” kata Heni.
Menurutnya, kebiasaan tersebut tidak hanya membuat lingkungan sekolah lebih bersih, tetapi juga mengubah cara pandang anak terhadap sampah.
“Anak-anak juga punya uang dari hasil sampah yang dikumpulkan, walaupun mungkin tidak seberapa. Tetapi yang lebih penting adalah kebiasaan dan mindset bahwa sampah itu ternyata bisa memberikan manfaat,” ujarnya.
Heni menambahkan, penerapan KOLASE di sekolah tidak harus menunggu adanya kurikulum khusus. Sebab, praktik memilah dan mengelola sampah dapat langsung diterapkan sebagai bagian dari pembiasaan siswa di lingkungan sekolah.
“Kalau untuk kurikulum, karena ini sudah menjadi pembiasaan di sekolah dan juga berkolaborasi dengan program DLH lainnya seperti sekolah Adiwiyata, sebenarnya tidak perlu menunggu kurikulum. Justru langsung diimplementasikan di sekolah-sekolah,” jelasnya.
Di SMP Negeri 5 Cilegon sendiri, program KOLASE telah mendorong berbagai kreativitas siswa dalam memanfaatkan sampah. Salah satunya melalui pembuatan ecobrick dan berbagai hasil karya dari material bekas.
Kepala SMP Negeri 5 Cilegon, Dr. M. Asholahudin, M.Pd., mengatakan program tersebut memberikan ruang kepada siswa untuk belajar peduli terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas.
“Program ini membuat anak-anak bisa berkreativitas. Salah satunya membuat ecobrick. Banyak kreativitas murid yang bisa didapatkan melalui program KOLASE,” kata Asholahudin.
Ia menjelaskan, berbagai jenis sampah seperti botol plastik, kardus dan material lainnya dipilah untuk kemudian disalurkan melalui bank sampah. Hasil pengumpulan sampah juga dicatat sebagai bagian dari tabungan siswa.
Di sekolah tersebut, proses penimbangan sampah dilakukan secara rutin dua kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa dan Kamis.
Asholahudin mengakui membangun kebiasaan baru di kalangan siswa bukan perkara mudah. Dibutuhkan konsistensi dan keteladanan dari seluruh warga sekolah agar program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Program ini membutuhkan konsistensi. Tahapan-tahapan harus kita jalankan. Yang penting adalah kepedulian. Saya sebagai kepala sekolah juga harus memberikan role model,” ujarnya.
Ia berharap KOLASE dapat terus berjalan dan semakin kuat di sekolah. Para siswa diharapkan tidak hanya terbiasa memilah sampah di sekolah, tetapi juga membawa kebiasaan tersebut ke rumah masing-masing.
“Harapannya, anak-anak terus konsisten. Sampah yang biasanya dibuang atau berserakan bisa dibawa dari rumah ke sekolah untuk dipilah dan dikelola. Jadi rumah bersih, sekolah juga bersih,” pungkasnya.
Program KOLASE juga mendapat dukungan Yayasan Bakti Barito melalui program Green Guardians. Direktur Yayasan Bakti Barito, Dian A. Purbasari, mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan dan karakter generasi muda.
“Melalui KOLASE, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk belajar mengenai pentingnya memilah sampah, tetapi menjadi ruang untuk mempraktikkan pengelolaan sampah secara langsung dan melihat manfaatnya,” ujar Dian.
Perluasan KOLASE menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, sekolah, bank sampah dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan memilah, tetapi dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi timbulan sampah yang berakhir di TPA.


Komentar Via Facebook :