Hasil Panen Cabai Melimpah, Tapi Harga Sangat Murah

Hasil Panen Cabai Melimpah, Tapi Harga Sangat Murah

CYBER88 | Cilacap -- Beberapa buruh tani sibuk memanen cabai merah biasa. Ada yang tidak menggunakan sarung tangan, tetapi lebih banyak yang memakai. Selain mudah digunakan untuk memetik, sarung tangan juga bekerja untuk meminimalkan paparan sinar matahari. Senin (09/08/2021).

Para petani ini muncul ketika khusyuk memetik matahari tepat berada di atas kepala. Sembari memperhatikan terjadinya luka dan patahnya cabang dan gembar-gembor, satu-persatu buah tanaman yang memiliki nama latin Capsicum annum ini dipetik dengan hati-hati.

Setelah penuh di tangan, buah dari anggota genus Capsicum ini kemudian dimasukkan ke dalam ember berukuran sedang berwarna hitam.

Sementara buruh lain ada yang menggunakan kain yang dililitkan di pinggang untuk menampung cabai yang digenggaman tangan, polanya mirip kantong kangguru. Begitu penuh selanjutnya dioper ke karung.

Hasil panenan berikutnya dibawa ke tempat yang lebih teduh. “Kalau harganya bagus, meskipun buah masih hijau ya tetap di panen,” sebut Saprudin petani asal Dusun Kubangreja, Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

Pria 49 tahun ini menjelaskan, harga cabai di tingkat petani selalu mengalami perubahan dengan cepat. Untuk itu, pada saat harga sedang bagus meskipun kondisi buah belum masak dia segera memanen lebih awal. Ujar Saprudin.

Selain itu di musim pancaroba seperti sekarang ini dia khawatir cabainya bisa busuk dan rusak jika menunggu cabai sampai merah.

Hal sama juga dikatakan Ipong, petani lain, pria muda ini menjelaskan, harga cabai rawit memang selalu mengalami perubahan. Karena tidak ada ketetapan harga sehingga petani sering merasa bingung. Ungkap Ipong.

“Sekarang per kilonya Rp10 ribu, kemarin Rp10 ribu per kilo. Harga cabai ini tidak tentu, bahkan hitungan jam saja bisa berubah,” ucap pria kelahiran 1990an ini. Dia menduga ada permainan di tingkat tengkulak.

Lanjutnya, petani bisa diuntungkan ketika harganya bisa bertahan di nominal Rp40-50 ribu per kilogram. Jika sudah di bawah angka itu banyak petani yang merasa rugi.

Bahkan, pengalaman sebelumnya saat harga cabai per kilogramnya pernah di bawah Rp10 ribu petani sudah tidak mau memanen. Begitu pohonnya langsung dimatikan karena merasa kecewa.

“Kalau tahun ini pun sama harganya murah. Tahun lalu malah gak laku,” ujarnya. Bagi Ipong jika harga cabai mengalami penurunan, hal itu tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan.

Karena selain membutuhkan perawatan yang ekstra, kepemimpinan tanam cabai ini juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Di lahan 200 meter persegi itu sekali panen dia bisa memanen satu kuintal setengah, jika stabil bisa sampai tujuh kali pemanenan. Setelah itu baru mengalami penurunan produktifitasnya.

Sementara untuk proses produksinya, Ipong menjelaskan, tahap awal yaitu pemilihan benih yang mau ditanam. Kemudian melakukan pengolahan lahan dan penanaman. Langkah selanjutnya yaitu perawatan dan pemeliharaan. Lalu pemupukan susulan, penyiangan dilakukan secara rutin untuk menghindari pertumbuhan gulma.

Adapun masa panen raya itu terjadi sekitar bulan Februari sampai Juni. Wilayah ini mampu menghasilkan kurang lebih 64 ribu ton cabai rawit selama panen raya musim ini, dengan luasan lahan 800 hektar.

Hanya sekarang ini petani mengalami kendala di harga cabai segar yang kurang bagus. Penyebabnya karena penyerapan keluar pulau terbatas, dampak dari pandemi COVID-19. Padahal sebelumnya, penyerapannya pernah sampai ke Bandung dan juga Jakarta. Sekarang ini hanya bisa memenuhi pasar lokal seperti Majenang, Banjar dan Tasik.

“Harganya turun kisaran Rp10 ribu per kilo. Ini masih bagus dibandingkan dengan tahun lalu yang anjlok sampai Rp3 ribu per kilo,” ujarnya. Padahal seharusnya harga cabai ditingkat petani itu normalnya Rp40-50ribu per kilo.

Jika tidak memenuhi harga itu petani banyak yang merugi. Untuk meminimalkan kerugian saat panen petani tidak lagi mengenakan jasa buruh panen. Efeknya banyak yang menganggur. Padahal menurut dia tanaman cabai ini merupakan jantung perekonomian warga setempat. Selain kendala di penyerapan ke luar pulau, faktor lainnya sekarang ini memang sedang memasuki musim panen raya.

Tapi ada sedikit harapan dengan kabar dari Kementerian Pertanian (Kementan) akan melakukan beberapa upaya antara lain menyediakan fasilitas sentra cabai dengan dukungan APBN dan juga optimalisasi fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga hanya 6 persen.

Selain itu, Kementan katanya terus mengembangkan penyediaan benih unggul sekaligus dukungan pengairan dan alat mesin pertanian . (TANTAN).
 

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :