Kelebihan Kapasitas Dapur dan Dugaan Penyimpangan Menu, Program MBG di Teluknaga Dievaluasi

Kelebihan Kapasitas Dapur dan Dugaan Penyimpangan Menu, Program MBG di Teluknaga Dievaluasi

CYBER88 | Tangerang – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, tengah menjadi sorotan setelah ditemukan sejumlah persoalan dalam proses distribusi makanan. Temuan tersebut meliputi dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP), ketidaksesuaian kualitas menu, hingga kapasitas dapur umum yang dinilai melebihi batas ideal.

Mengutip informasi dari Targetberita.co.id, dugaan ketidaksesuaian menu mencuat pada pendistribusian MBG pada Selasa (19/5/2026). Menu yang diterima para penerima manfaat disebut berbeda dengan dokumentasi yang dilaporkan pengelola kepada Kantor Pusat MBG, sehingga memunculkan dugaan adanya perbedaan antara laporan dan kondisi di lapangan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Kampung Melayu Timur, M. Jalaludin, meminta pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut. Ia menilai adanya perubahan prosedur dalam proses memasak berpotensi memengaruhi kualitas makanan yang diterima masyarakat.

"Kami meminta adanya klarifikasi resmi terkait dugaan perbedaan menu MBG ini. Jika tidak ada penjelasan yang memadai, kami akan menyampaikan laporan ke instansi terkait," ujar Jalaludin.

Ia juga menyoroti penggunaan menu telur dadar yang dinilai tidak sesuai dengan arahan awal pemerintah pusat karena dinilai lebih rentan mengalami perubahan komposisi.

Sementara itu, Koordinator Lapangan MBG Teluknaga, Ade Rahman Hakim, menjelaskan bahwa pihak dapur sebelumnya mencoba menghadirkan inovasi menu berupa "telur sate" dengan nilai paket Rp15.000. Menu tersebut merupakan kombinasi telur, daging, dan sayuran yang memerlukan beberapa tahapan produksi, mulai dari pengukusan, pemotongan, penusukan hingga penggorengan.

Namun, menurut Ade, tingginya jumlah produksi membuat sebagian tahapan tidak dapat dijalankan secara optimal sehingga hasil akhir tidak sesuai standar yang telah ditetapkan.

Selain itu, ia menyebut koki dapur juga menambahkan saus racikan sendiri menggunakan produk komersial yang tidak termasuk dalam standar menu yang telah ditentukan.

Dapur Produksi Mengalami Overload

Ade mengungkapkan, persoalan utama berasal dari beban produksi yang melebihi kapasitas dapur. Saat ini jumlah penerima manfaat MBG di Teluknaga mencapai 3.446 anak, sedangkan kapasitas ideal satu dapur hanya sekitar 2.500 porsi per hari.

Program tersebut dikelola oleh Yayasan Bahari Indonesia Emas yang ditunjuk pemerintah pusat. Untuk mengatasi lonjakan kebutuhan, saat ini telah beroperasi 13 dapur umum, sementara 15 dapur tambahan sedang dalam tahap pembangunan guna meningkatkan kapasitas produksi.

Ade juga menjelaskan skema anggaran MBG, yakni paket Rp13.000 untuk balita, PAUD, TK hingga siswa SD kelas 3 yang terdiri atas Rp8.000 untuk bahan baku, Rp2.000 biaya sewa fasilitas, dan Rp3.000 operasional. Sementara paket Rp15.000 bagi siswa SD kelas 4 hingga SMA serta ibu hamil dialokasikan Rp10.000 untuk bahan baku, Rp2.000 sewa fasilitas, dan Rp3.000 biaya operasional.

Di sisi lain, masyarakat juga menyoroti aspek pengawasan. Warga berharap pengawasan dari tenaga ahli gizi dapat dilakukan lebih intensif agar kualitas makanan tetap terjaga serta pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah.

Komentar Via Facebook :