Ini Lima Pesan Rahasia Anton Charliyan dalam Pelantikan Panglima Baranusa Pajajaran di Keraton Kanoman Cirebon

Ini Lima Pesan Rahasia Anton Charliyan dalam Pelantikan Panglima Baranusa Pajajaran di Keraton Kanoman Cirebon

CYBER88 | Cirebon – Anton Charliyan, Mantan Kapolda Jabar yang sekarang lebih dikenal sebagai Abah Anton, Tokoh Penggiat Budaya dan Sejarah Sunda , selaku Majelis Dewan Pembina Baranusa (Barisan Raja Nusantara) Pajajaran Jawa Barat, dalam prosesi pelantikan para panglima Baranusa Kabupaten dan kota se-Jawa Barat di Keraton Kanoman Cirebon memberikan pesan-pesan, amanat rahasia khusus, yang diambil dari Naskah Lontar Amanat Galunggung dan Prasasti Kawali Astana Gede Ciamis.

Adapun pesan-pesan rahasia tersebut berisi agar Para Panglima Kabupaten dan Kota dalam melaksanakan Kepemimpinanya wajib berpedoman dan melaksanakan  hal-hal sebagai berikut:

1. Perhatikan dengan sungguh-sungguh Amanat Galunggung yang berbunyi:  Jaga ieu Kabuyutan Ulah tepi ka Dikuasai ku Asing, lamun Rajaputra teu bisa ngajaga ieu Kabuyutan, Raja Putra leuwih hina ti Batan Lasun/ Bangke nu aya di Jariyan.

(Jaga ini Kabuyutan, Tempat suci, suatu Wilayah Kawasan tertentu, Tanah air, jangan sampai Dikuasai Orang Asing, jika kita putra putri sebagai Pewarisnya tidak bisa Menjaga dan Mempertahankanya , Lebih Hina derajatnya dari seekor Bangkai yang ada di tempat sampah)

Dari sini tersirat, bahwa dari Naskah sunda lah pertama kali lahir salah satu Konsepsi Nasionalisme dan cinta tanah air. sehingga dengan demikian berbicara tentang Nasionalisme dan Cinta Tanah Air,  manusia Sunda harus Berada di Barisan yang paling depan, Apabila ada manusia sunda yang punya Ideologi lain dan ingin keluar dari bingkai NKRI, Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika itu artinya Penghianat dan Bukan sebagai Manusia Sunda lagi.

2.Harus hormat kepada orang tua, dan orang yang dituakan terutama kepada para pemimpin dan teramat khusus kepada para leluhur dan para pendahulu-pendahulu kita yang sudah mampu membangun peradaban Sunda Nusantara ini sangat luhur, karena cirri-ciri budaya yang pradabannya tinggi adalah sebuah budaya yang mampu menghormati para Leluhurnya.

Sebagaimana tersirat dalam amanat Galunggung berikut ini: Hana nguni Hana Mangke tan hana nguni tan hana mangke, Hana Tunggak Hana catang tan Hana tunggak hana catang, mo aya ayeuna hanteu mo baheula, Hanteu mo ayeuna mo aya baheula.

Tidak akan ada hari ini tanpa ada Dahulu, maka para anak cucu harus ingat kepada para pendahulu, leluhur-leluhur kita. Karena tidak akan ada Cabang tanpa Pohon. Tidak akan ada ranting tanpa Cabangnya. Untuk itu kita wajib hormat dan taat kepada kedua orang tua yang lebih tua dan yang dituakan serta para Pimpinan kita di tingkat manapun sebagai perwujudan hormat pada leluhur.

3. Jaga Kasampurnaan Agama tapi kade kudu tetep ngajenan, ngamumule ulah mopoheukeun tradisi adat budaya leluhur, kudu sarimbag silih ajenan.

(Jaga Kesempurnaan agama, tapi tetap harus menghormati melestarikan budaya adat tradisi ajaran leluhur, harus seimbang saling mengisi, saling hormati, saling hargai satu sama lain. Tidak boleh saling bertentangan) Jadi dalam menjalankan syariat Agama, agama apapun harus selaras, bergandeng tangan dengan budaya tidak boleh saling bertentangan satu sama lain.

4. Bangun kekuatan dengan kedamaian, bangun kekuatan dengan kerendahan hati. Sebagaimana yang tersurat dalam Prasasti Kawali.

Pakeun Heubeul jaya dibuana, Pake gawe Kreta bener, pake gawe Kreta rahayu, ulah botoh bisi kokoro, ulah batengah bisi kateker (Jika ingin Jaya di dunia, Bangunlah Kekuatan dengan Kedamaian, Bangunlah Kekuatan dengan Kerendahan hati, jangan serakah akan celaka, jangan Sombong akan Tersingkir)

Syarat mutlak agar suatu bangsa, satu Negara kuat, harus mampu menciptakan dulu suasana Damai, Kalau suasana sudah damai, aman dan tentram, baru Negara tersebut bisa melaksanakan program-program pembangunanya,

Karena tidak mugkin pembangunan dilaksanakan dalam suasana Rusuh, sehingga dengan demikian manusia sunda adalah manusia-manusia yang cinta damai. Damai di Hati. Damai di Bumi, Damai se Negri, hidup rukun sauyunan, penuh cinta kasih, untuk menciptakan masyarakat yang rahmatan lil Alamin, penuh rahman dan rahim silih asih, silih asah dan silih asuh.

Kemudian membangun Kekuatan dengan Kerendahan hati, dalam arti seseorang bisa kuat, bisa hebat bukan karena keunggulan fisiknya atau kekuatan materinya, tapi justru bisa menjadi kuat dan hebat itu karena akhlakul Karimahnya, karena perilakunya yang rendah hati, ramah, santun, respek, tahu diri, tahu etika dan tahu tata titi, tawadhu, tidak Arogan dalam bersikap maupun bicara, itulah ciri wanci manusia sunda, sehingga bisa diterima dimana-mana.

Karena kesantunan, karena keramahanya, karena kerendahan hatinya. Sehingga salah satu pantangan terbesar manusia sunda  adalah Besar kepala dan bersikap Sombong. (ulah Batengah, bisi Kateker).  Makanya kenapa orang-orang sunda senantiasa pakai IKET KEPALA, sebagai pengingat untuk terus mengikat kepalanya, agar kepalanya tidak menjadi besar.

Karena yang gampang suka membesar itu Kepala, karena banyak manusia suka menjadi lupa diri kalau sudah kena Penyakit Besar Kepala, makanya apabila ada Manusia Sunda yang suka petantang-petenteng adigung adiguna, kepalanya jadi besar, itu bukan orang Sunda.

Sekali lagi itu bukan orang Sunda, atau mungkin yang bersangkutan belum paham bagaimana seharusnya menjadi Ki Sunda anu Nyunda, Nyai Sunda anu Mibanda, bahkan lebih ditegaskan dalam ajaran Islam, tidak akan masuk surga seseorang bila masih mempunyai rasa iri dan sombong dalam hatinya, walau hanya sebesar biji Zarah.

5. Selanjutnya  jadilah Petapa yang utama: Ngan kudu Inget Yen Tapa anu Pang Utamana mah lain Tapa Puasa di jero Guha, tapi Nu panglobana Tatapakanana, makana prasasti-prasasti di tatar sunda lambangna Dampal Suku,

(Jadilah sebagai Petapa yang utama, Namun perlu diingat bahwa tapa yang utama itu adalah bukanlah tapa berpuasa mengurung diri didalam Goa, tapi seorang manusia yang paling banyak meninggalkan tapak Karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, Nusa bangsa Agama maupun Budaya, makanya Prasasti-Prasasti Sunda sering ditandai dengan lambang Telapak kaki).

Perlambang yang paling banyak tapaknya, yang paling banyak amalnya, Karyanya bukan yang banyak Poknya(Bicaranya atau omongannya) tapi yang paling banyak Pek jeung Prakna (banyak bekerja dan karya nyatanya), jadi ayeuna mah tapa nu utama teh kudu Prak Pek Pok (jadi sekarang Petapa yang utama itu adalah yang paling  banyak Karyanya baru kemudian boleh bicara).

“Galunggung Ngadeg tumenggung Soekapoera Ngadaun Ngora, Lamun Sunda hayang Nanjung kudu boga pulung ti Galunggung, Cag geura Bral”.   

Untaian kata diatas tadi merupakan Pemeo Kuno yang sangat dipercaya oleh masyarakat sunda, sebagai suatu UGA, tanda-tanda, kila-kila, Isyarat yang harus dipedomani dan dihormati bersama yang lahir dari Galunggung sebagai salah satu Pusat Spiritual Nusantara.  Yang artinya: Galunggung Ngadeg Tumenggung, setiap raja, ratu, rama, resi para pemimpin Sunda bila mau Ngadeg jadi tumenggung, Harus dapat Restu dari Galunggung.

Soekapura Ngadaun ngora:  setelah dapat restu dari Galunggung, baik lahir maupun batin, barulah  gerbang akan terbuka (pura) sebagai dasar, bekal, Semangat Baru untuk menuju kesuksesan, keberhasilan dan kejayaan. (ngadaun ngora).

Sukapura mangku galuh rajana malati kembar, Hanya dengan keberhasilanlah yang akan mampu mengangkat Bangsa dan Negara (mangku Nagara Galuh) dan hal tersebut baru bisa tercapai apabila Rajana,  punya bekal kekuatan lahir maupun batin yang matang, mumpuni, adil dan bijaksana.

(Rajana malati kembar), sehingga bangsa dan negara namanya pasti akan harum mewangi ke seluruh pelosok negeri bagaikan wanginya bunga melati. Itulah salah satu filosofi siliwangi, uga dari Galunggung: Hayu urang silih bagi pangarti, silih simbeuhan kabisa, silih angkat darajat, silih ajenan diri, silih asih, silih asah, silih asuh, urang silih wangikeun Nami.

Dalam pesan terakhirnya Anton yang juga pernah jadi Kapolwil Priangan 2008, menegaskan, “Mudah-mudahan dengan Bekal 5 Amanat Khusus ini bisa menjadi Rahasia utama Kunci Keberhasilan para panglima di masing-masing wilayah Kabupaten dan Kota. Selamat berjuang, selamat bertugas, Semoga berhasil,” tandas Jendral Bintang Dua itu.

Hadir dalam acara pelantikan tersebut al: Kangjeng Gusti Patih pangeran Moh Kodirun dari Kanoman,  Uyut Sani Wijaya kasepuhan Pajajaran Pusat, Pangeran anom adipati Rd. Lucky Somawilaga dari Sumedang larang,

Kemudian Pangeran Mas'ud dari Palembang, Ki Gondrong, Prof Asep dari Sukabumi, Panglima tinggi Baranusa Pajajaran Rd. Ully Sigar Rusady, dan Artis ternama Rd. Paramitha Rusady sebagai Panglima Panah Walet Baranusa.

Selain acara Pelantikan, dikukuhkan juga Pasukan pemanah khusus Baranusa untuk srikandi wanitanya bernama pasukan Walet, dengan ikonnya R. Paramitha Rusadi.

Acara berlangsung lancar Khidmat dan Meriah dengan tetap mematuhi Prokes Covid-19. [Samsu]

Komentar Via Facebook :