Ethiopia, Negara Miskin Yang Merangkak Menjadi Negara ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan dan penghasil 5000 megawatt listrik

Ethiopia dan GERD Yang Menghasilkan Lebih 5000 Megawatt Listrik

Ethiopia dan GERD Yang Menghasilkan Lebih 5000 Megawatt Listrik

Gran Ethiopian Renaissance Dam (GERD) di Guba Ethiopia, penghasil lebih dari 5000 megawatt listrik yang membelah aliran sungai Nil

CYBER88 | Ethiopia -  Ethiopia dengan ibukota negara Addis Ababa adalah sebuah negara yang terletak di benua Afrika, tepatnya di Afrika Timur. Ethiopia yang merupakan salah satu negara tertua di dunia ini tidak pernah dijajah oleh negara Eropa selama masa perebutan wilayah Afrika yang terjadi di antara tahun 1880 hingga tahun 1914. Namun setelah masa perebutan wilayah Afrika tersebut, Ethiopia pernah diduduki oleh Italia dalam waktu singkat yaitu pada tahun 1936 – 1941. Italia berhasil dikalahkan oleh pasukan Ethiopia dan Britania Raya (Inggris Raya) pada tahun 1941.

Foto Dokumentasi masyarakat Ethiopia antri makanan yang dulu berkutat dengan garis kemiskinan (int)

Sejak tahun 2000, Ethiopia menjadi salah satu negara di Afrika dengan tingkat kemiskinan tertinggi di dunia sehingga negara itu harus menanggung kelaparan dan busung lapar. Namun secara mengejutkan, World Bank menyebutkan bahwa dalam satu dekade Ethiopia telah mengalami kemajuan luar biasa dalam kesejahteraan, bahkan menduduki peringkat ke-12 sebagai Negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan menurut Food Sustainability Index (FSI) tepat satu tangga di bawah USA (urutan ke-11). Kemajuan ini telah didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan rata-rata 10,9 persen per tahun.

Kini, di tahun 2022 Ethiopia akhirnya menyalakan Pembangkit Listrik raksasa sungai Nil yang kontroversial dan mulai menghasilkan listrik untuk pertama kalinya pada Minggu (20/2/2022), menurut TV pemerintah.

Pembangunan GERD yang menjadi polemik 3 Negara Rebutan Sungai Nil (int)

Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dari bendungan di Sungai Nil itu merupakan bagian dari proyek senilai 4,2 miliar dollar AS (Rp 60 triliun), terletak di wilayah Benishangul-Gumuz barat, dan telah menjadi sumber perselisihan antara Ethiopia, Mesir dan Sudan sejak pembangunannya dimulai pada 2011.

Sudan dan Mesir khawatir proyek itu dapat mengurangi bagian mereka di perairan Nil, sementara Ethiopia menegaskan bendungan itu adalah kunci untuk pengembangannya.

Disebut Grand Ethiopian Renaissance Dam (Gerd), Pembangkit Listrik Raksasa Sungai Nil ini juga merupakan proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di Afrika hingga saat ini sehingga Gerd diharapkan dapat menghasilkan lebih dari 5.000 megawatt listrik, menggandakan output listrik negara ketika selesai sepenuhnya. Saat ini sudah 83,9 persen selesai, menurut laporan saluran ETV News milik negara pada Minggu (20/2/2022) dilansir BBC.

Pemerintah Ethiopia bersikeras akan mengubah ekonomi nasional, yang telah rusak parah oleh kekeringan dan perang, ketika PLTA Gerd beroperasi penuh.

Sengketa Bendungan Sungai Nil antara Mesir, Ethiopia, dan Sudan

Namun pembangunan bendungan telah menyebabkan perselisihan dengan Mesir dan Sudan dimana Ethiopia telah mengalihkan air Nil untuk mengisi reservoir besar di belakang bendungan.

Mesir, yang terletak di hilir dan hampir sepenuhnya bergantung pada Sungai Nil untuk irigasi dan air minum, khawatir hal ini akan mempengaruhi tingkat air yang mengalir ke negara itu, karena itu Mesir menginginkan jaminan sejumlah volume air yang masuk ke negara Mesir.

Tetapi Ethiopia enggan bersepakat terikat pada angka tertentu untuk banyaknya air yang akan dilepaskan, karena prioritasnya adalah memastikan ada cukup air untuk mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air terbesar di Afrika.

Sudan juga khawatir tentang bagaimana bendungan itu akan mempengaruhi ketinggian airnya.

Tahun lalu, Sudan terkejut ketika Ethiopia memutuskan untuk menutup tiga dari empat pintu pengalihan air.

Hal itu menyebabkan tingkat air yang lebih rendah mengalir ke hilir dan mengganggu stasiun pompa Sudan untuk irigasi dan pasokan air kota.

Kedua negara telah berlomba-lomba untuk mencapai kesepakatan dengan Ethiopia mengenai pengisian dan pengoperasian bendungan itu, tetapi negosiasi gagal mencapai kemajuan. **

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait :