Merawat Tradisi, Munggah Molo Pembangunan Asrofi Center di Brebes
CYBER88 l Brebes -- Masyarakat kerap melakukan tradisi menaikan molo disaat sedang melakukan pembangunan rumah ataupun perkantoran dan lain sebagainya.Sebagai bentuk tradisi zaman dulu dalam adat Jawa.
Sebagi rasa syukur di wujudkan dalam bentuk upacara adat," Munggah Molo," atau Taucit yang biasa mayaratkat sebutkan. Tradisi munggah molo merupakan salah satu yang ada didalam tradisi.
Seperti yang tengah di lakukan pembangunan gedung Asrofi Center puluhan warga ikut menghadiri tasyakuran dan doa bersama untuk keselamatan dan kebarokahan, Minggu (29/5/2021).
Hadir dalam acara tasyakuran Ustad Muhamad Miftah pengasuh Pondok Pesantren Pakijangan mengatakan.Polo molo asalnya dari polo tapi molo, polo itu artinya bahwa kita itu punya akal, polonya dipakai maka kita akan menggunakan akal yang sehat," ucapnya.
Akan tetapi kalau polo menjadi molo maka disebutkan filosovi peringatan bagi kita. Polo itu kalau tidak benar akan menjadi molo itu bahaya.Jadi itu hidup ada dua mencari selamat atau mencari berkah, kalau mencari berkah ya filosofinya molo itu," lanjutnya.
Jadi kalau molonya itu dijaga, insyaAllah selamat dan barokah. Tapi kalau tidak di jaga maka akan menjadi molo, sesuai bahasa itu malah artinya malapetaka atau musibah," ujarnya.
Rumah itu ini diartikan sebagai tempat untuk bernaung, aktifitas mencari segala-galanya dan ketenangan hati.Proses munggah molo ini biasa di lakukan di pagi hari, kemudian dilengkapi dengan sesajian yang mempunyai filosovi sendiri seperti pisang dengan jumlah banyak yang dimaksud agar terbinalah kekompakan dan keharmonis keluarga dan masyarakat sekitar.
Seperti tebu yang di cabut dari pangkalnya maksudnya agar keluarga beristiqamah dalam melakukan kebaikan layaknya pangkal tebu yang tegak menopang batang tebu.
Satu ikat padi kuning dimaksud dengan tujuan agar keluarga dapat mencapai kejayaan dan kemakmuran.Kelapa melambangkan agar keluarga menjadi kuat dan dapat bermanfaat untuk sesama, bendera merah putih melambangkan nasionalisme, koin atau uang receh sebagai modal usaha, jajanan pasar sebagai rasa syukur.
Pakaian keluarga menandakan keluarga harus selalu menjaga akhlaqul karimah dengan menutup aurat, kendi, paku emas, daun salam mengharapkan keselamatan dari Allah STW, payung agar tuhan semesta alam dapat melindungi dengan rahmatnya. (EDI SUSANTO)


Komentar Via Facebook :