Komisi HAK KWI Kunjungi Ponpes Al-Hidayah Karangsuci, Pererat Dialog Lintas Iman dan Semangat Kebangsaan

Komisi HAK KWI Kunjungi Ponpes Al-Hidayah Karangsuci, Pererat Dialog Lintas Iman dan Semangat Kebangsaan

CYBER88 | BANYUMAS – Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAK) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) melakukan kunjungan silaturahmi ke Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci, Purwokerto, Selasa (7/10/2025).

Rombongan KWI dipimpin oleh Mgr. Christophorus Tri Harsono, Uskup Keuskupan Purwokerto sekaligus Ketua Komisi HAK KWI, didampingi Romo Aloys Budi Purnomo Pr, Sekretaris Komisi HAK KWI.

Dalam sambutannya, Mgr. Christophorus Tri Harsono menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk nyata komunikasi lintas iman yang membawa kesejukan dan harmoni.

“Banyak persoalan yang tidak terselesaikan karena kurangnya komunikasi dan perjumpaan. Dengan saling hadir, berbincang, dan mendengar, banyak hal bisa diredam. Kunjungan seperti ini menjadi tanda persaudaraan yang tidak dibatasi oleh keyakinan,” ujarnya usai pertemuan.
Menurutnya, pertemuan sederhana di Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci ini memiliki makna besar dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Ini bagian dari upaya menjaga dan merawat keutuhan persatuan serta semangat kebangsaan,” tambahnya.
Sementara itu, Romo Aloys Budi Purnomo Pr menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh keluarga besar pesantren.

“Kami sangat berterima kasih atas sambutan yang penuh kehangatan dan kekeluargaan,” ucapnya.
Ia juga mengaku kagum setelah mendengar sejarah panjang pesantren yang ternyata memiliki jejak kuat dalam perjuangan kebangsaan dan perdamaian.

“Ternyata Pondok Pesantren ini memiliki warisan sejarah kebangsaan dan kerukunan yang luar biasa sejak masa Abah KH. Muslich, dan kini diteruskan oleh Ibu Nyai Nadhiroh Noeris yang merangkul semua pihak tanpa membeda-bedakan asal dan keyakinan,” ungkapnya.

Rombongan diterima langsung oleh Pengasuh Ponpes Al-Hidayah, Ibu Nyai Dra. Hj. Nadhiroh Noeris, yang bercerita tentang perjalanan panjang pesantren tersebut.
“Semoga silaturahmi ini menjadi jalan untuk mempererat ukhuwah watoniyah, menumbuhkan kasih sayang dan kepedulian antarsesama. Kalau kita tidak saling mengenal, bagaimana mungkin bisa saling menyayangi?” tutur Ibu Nyai Nadhiroh.

Pertemuan lintas agama seperti ini bukan hal baru bagi Ponpes Al-Hidayah. Para kiai di pesantren tersebut juga aktif berkolaborasi dengan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dalam berbagai kegiatan sosial dan kebangsaan.

“Kunjungan seperti ini mempererat hubungan lintas agama sekaligus memperkuat semangat kebangsaan dan persaudaraan antarumat beragama,” imbuhnya.
Sebagai catatan sejarah, KH. Muslich — pendiri Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci — lahir di Tambaknegara, Rawalo, Banyumas pada 20 Februari 1910. Beliau dikenal sebagai ulama besar yang berkiprah dalam perjuangan kemerdekaan, diplomasi nasional, hingga pembangunan pendidikan Islam pascarevolusi.

Dari perjuangan di Laskar Hizbullah, hingga pendirian Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci, jejak KH. Muslich menunjukkan perpaduan antara kecendekiaan, keberanian, dan ketulusan seorang pejuang agama serta bangsa.

Cita-cita besar beliau kemudian diteruskan oleh KH. Dr. Noer Iskandar al-Barsyani, MA dan Ibu Nyai Dra. Hj. Nadhiroh Noeris, yang secara resmi mendirikan lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Nurul Hidayah Karangsuci (Akta Notaris No. 04 tanggal 1 Juli 2013).

Kini, Pondok Pesantren Al-Hidayah Karangsuci terus berkembang sebagai pusat pendidikan keagamaan yang menyeimbangkan ilmu, akhlak, dan pengabdian sosial — menjadi simbol warisan spiritual KH. Muslich yang terus menyala bagi generasi penerus bangsa.
(Mardiyanto)

Komentar Via Facebook :