Dua Tahun Menekuni Ternak Domba, Warga Sindangpanon Ini Mengaku Tak Pernah Kedatangan Penyuluh.
CYBER88 | Bandung, -- Mengingat kebutuhan pangan tidak pernah berhenti, penyuluh dan petani serta peternak memiliki peran krusial untuk memastikan ketersediaan pangan. Oleh karenanya, pentingnya pekerjaan mereka yang tidak boleh terhenti, bahkan di masa sulit.
Penyuluh sering disebut sebagai garda terdepan dalam pembangunan pertanian dan peternakan, maka mereka harus selalu berada di garis depan, menghadapi tantangan, dan tidak pernah menyerah.
Sebagai seorang pembimbing atau penasihat di bidangnya, penyuluh sendiri diharapkan memiliki ilmu dan pengalaman yang cukup untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh para petani atau peternak. Jadi, "Kalau tidak pernah kelapangan" dapat berarti ia tidak akan memiliki solusi untuk membantu kemajuan para peternak.
Hal tersebut diungkapkan oleh UC, salah satu peternak yang berada di Kampung Patala Desa Sindangpanon Kecamatan Banjaran bandung, mulai menekuni bidang peternakan domba sejak dua tahun lalu pada Cyber88.co.id, Jum,at (24/10/2025).
Pada Cyber88, UC menuturkan bahwa dirinya memulai ternak domba garut berawal dengan memelihara 9 ekor dengan populasi, indukan (betina) 6 ekor dan pejantan (pacek) satu ekor serta dua anak domba jantan yang dibawa oleh indukan. Sekarang, populasi sudah 30 ekor.
Namun sayangnya, sejak memulai usaha ternak, UC mengaku belum pernah kedatangan dari pihak penyuluh untuk membimbing usahanya yang dijalankan secara autodidak. Hal itu pun tentu saja membuatnya aga kecewa lantaran merasa tidak ada perhatian dari pemerintah. Padahal, keberadaan ternaknya itu sudah diketahui oleh pihak Pemerintah desa.
Meski begitu, UC menyebutkan bahwa dirinya juga selalu dibantu dalam beberapa permasalahan oleh seorang petugas dari Puskeswan yang kebetulan tinggal di wilayah desa Sindang panon. Petugat itu, biasa dipanggil “Mantri Piter”.
UC juga mengungkapkan bahwa potensi ekopnomi dibudang peretnakan sangatlah menjanjika. Ia pun mencontohkan kalau memiliki 20 indukan, bisa memproduksi sebanyak 50 domba per tahun. Kalau dijual daging dengan bobot 50 kilo dengan harga 100 ribu per kilo (hidup) harha satu domba 5 juta.
“Jadi, kalau produksi sudah mencapai 50 ekor pertahun, penghasilan peternak bisa mencapai 250 juta per tahun dan itu menyamai Produk Domestik Bruto (PDB) Kediri Jawa timur yang merupakan daerah PDB tertinggi di Indonesia,” Tuturnya.
Selain itu, kata dia, keunngulan beternak domba garut, ada nilai jual lebih ketika indukan melahirkan pejantan kwalitasnya bagus. Dikandangnya, ada domba jantan yang berumur satu tahun lebih dengan bobot 60 kilo, ditawar 10 juta.
Untuk menangani pakan, UC mengatakan bahwa dirinya sengaja membuka lahan lahan tidak produktif yang ada di wilayahnya baik dilahan sendiri, maupun lahan wakap untuk dijadikan Bank pakan. Sebab menurutnya, kunci dalam beternak adalah ketersiadaan paka yang maksimal.
“Sampai saat ini, saya sudah membuka lahan hampir satu hektar untuk Bank Pakan,” Ujarnya.
Selain itu, UC juga mengatakan bahwa limbah urine dan kotorannya, diolah menjadi pupuk, baik pupuk organis cair (POC) maupun pupuk padat dalam bentuk hasil gilingan dan hasilnya dipergunakan untuk tanaman serta sebagian dijual untuk membantu biaya operasiolan.
Terkait tidak pernahnya ada penyuluh peternakan yang dating ke kandangnya, UC berharap adanya dorongan dari Pemerintah setempat, juga Komisi B DPRD kabupaten bandung yang menjadi mitra dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten bandung.


Komentar Via Facebook :