Road To 'Batu Ngampar', WN88 Kunjungi Wisata Sejarah di Gunung Galunggung, Tasikmalaya

Road To

CYBER88, Jabar - Destinasi wisata Batu Mahpar atau dalam bahasa Sunda disebut 'batu ngampar' (hamparan batu) berada di kaki Gunung Galunggung, tepatnya di Kampung Pangkalan, Desa Sukamulih, Kec. Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya, merupakan objek wisata alam yang sangat unik, menarik, asyik, dan eksotis yang cocok untuk untuk liburan keluarga. Tempatnya pun sangat nyaman, dengan suhu udara pegunungan yang begitu sejuk akan membuat para pengunjung betah untuk berlama-lama menikmati panorama alam yang indah. Apalagi pengunjung bisa menikmati berbagai fasilitas yang cukup lengkap tersedia di objek wisata Batu Mahpar tersebut, di antaranya air terjun, air sungai yang jernih, artefak-artefak yang menyerupai binatang, rumah pohon, tugu kujang, batu cinta, taman cinta, pintu pangit, saung botram, kolam renang, dan juga Bumi Perkemahan. [caption width="1063"]Kolam renang di area wisata Batu Mahpar.doc[/caption] Pengunjung juga dapat main air di sungai yang jernih maupun berenang di kolam yang tersedia, juga dapat menikmati panorama alam khas Priangan yang indah sambil melepas lelah setelah menjalankan aktivitas atau refreshing bersama keluarga. Itu semua dirasakan oleh kru Media Cyber88 dan Ketua Umum perkumpulan Warung Nusantara 88, Edwin Fentando bersama anggotanya, saat berkunjung di objek wisata Batu Mahpar dan berdialog langsung dengan Irjen. Pol. (Purn.) DR. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N. Sebagai pemilik objek wisata tersebut. [caption width="1280"]Perkumpulan Warung Nusantara 88 bersama Pendiri, Irjen. Pol. DR. Drs. Anton Charliyan.doc[/caption] Luas area objek wisata ini sekitar 4 hektare lebih dan terus dilakukan penataan oleh pengelola, baik sarana, prasarana, maupun fasilitasnya, agar lebih menarik lagi bagi pengunjung. Beliau (Anton Charliyan.red) juga menyampaikan akan juga dibangun “Papayung Agung” tempat dilakukannya musyawarah di lapangan yang berada di kawasan itu. Objek wisata yang kini semakin favorit bagi para wisatawan itu, awalnya merupakan tempat 'paniisan' peristirahatan keluarga besar beliau yang pada saat itu Beliau masih menjabat Kapolwil Priangan, kemudian mendapat tugas ke Mabes Polri, lantas keluar Pulau Jawa termasuk menjadi Kapolda Sulsel. Setelah kembali ke tanah Pasundan, menjabat Kapolda Jawa Barat, maka beliau menata lahan miliknya menjadi sebuah objek wisata yang menarik bernama objek wisata alam Batu Mahpar dan dibuka untuk masyarakat umum. Adapun alasan Jendral Polisi yang "nyunda" itu membuka lahan miliknya dijadikan objek wisata dan dibuka untuk umum, karena di sini banyak peninggalan sejarah berkaitan dengan Kerajaan Galunggung. Abah Anton panggilan akrabnya, berharap agar masyarakat mengetahui sejarah masa lampau dan Batu Mahpar bakal menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. [caption width="1280"]Lokasi sungai lahar panas yang membeku menjadi hamparan batu.doc[/caption] Menurut beliau, Batu Mahpar merupakan sebuah sungai yang dasarnya adalah batu yang sangat lebar sepanjang sungai sampai sisi yang merupakan bekas aliran lava yang mengeras menjadi batu. Sungai ini merupakan sungai kering yang hanya teraliri air jika musim penghujan saja dan di beberapa titik terdapat genangan air. Batu Ngampar itu juga merupakan parit Gunung Galunggung pada abad ke-12 sepanjang 15 Km peninggalan Ratu Galunggung yang menjadikan wilayah kerajaan “Saung Galah Bebas Banjir” sampai saat ini. Kecamatan Sariwangi menyimpan banyak peninggalan sejarah. Konon pusat kebataraan dan kerajaan Galunggung berlokasi di Kecamatan Leuwisari, Desa Linggawangi (Rumantak) dan Pasir Geger Hanjuang. Sebagian aktivitasnya dilaksanakan di Kecamatan Sariwangi, yakni di Batu Mahpar yang berlokasi di perbukitan kaki Gunung Galunggung dan di Desa Sukamulih Kecamatan Sariwangi, yaitu Walahir. Di lokasi tersebut terdapat beberapa peninggalan, antara lain makam para leluhur Galunggung periode Islam dan Batu Mahpar. Menurut penuturan salah seorang masyarakat, Batu Mahpar merupakan tempat upacara ritual pada jaman kerajaan Galunggung. Sedangkan situs Walahir lokasinya cukup berdekatan dengan situs Geger Hanjuang dan Situs Linggawangi. Hal ini sangat memungkinkan aktivitas keagamaan dilakukan di kedua lokasi tersebut, saat lokasi tersebut banyak dikunjungi baik untuk kepentingan penelitian maupun ziarah. Beberapa makam yang sering di ziarahi antara lain Eyang Latifah (ahli Qiro’ah), Eyang H. Sembah Dalem Wirakusumah, Eyang Gorah, Eyang Mutholib, Eyang Kenong, Eyang Rajawisuta, Eyang Wirakusumah, Eyang Panjisena, Eyang Panjiseta, Eyang Tubagus Lanjar, Eyang Dayang Sumedang, Eyang Sumedang, Eyang Dalem Cigeuleum, Eyang DaleumTegal Munding, Ciung Wanara, Eyang Dalem Peundeuy, Eyang Dalem Gagak, Ambu Sumaerah Wirakusumah, Indung Ciut/Pajaji Sakti, Eyang Wira Buana, Eyang Ali, Eyang H. Tubagus Urif, dan Kiayi Ahmad, Eyang Sembah Dalem Wiradadaha. Beliau juga yang semasa menjabat di institusi kepolisian, dan sampai sekarang yang juga aktif membina berbagai perkumpulan, baik itu perkumpulan masyarakat maupun kelompok-kelompok budaya yang ada di Jawa Barat, dan salah satunya beliau adalah sebagai pendiri dan Pembina perkumpulan Warung Nusantara 88. Beliau mengungkapkan, bahwa menapaki jejak sejarah masa lampau merupakan cerminan bagi kita yang hidup di masa kini untuk mengambil pelajaran bagaimana kearifan lokal telah menjadikan pendahulu kita mencapai kegemilangannya, sesuai peribahasa Sunda "Moal Aya Nu Kiwari Lamun Teu Aya Nu Bihari (Tidak akan ada saat ini bila tidak ada masa lalu)". Beliau yang merupakan sosok pemersatu perkumpulan-perkumpulan yang ada di Jawa Barat dan pada saat beliau menjabat sebagai Kapolda Jawa Barat pernah menggelar Sawala Kebangsaan yang diikuti oleh seluruh perkumpulan di Jawa Barat, juga mempersilahkan kepada perkumpulan Warung Nusantara 88 dan perkumpulan lainnya, kalau mau mengadakan kegiatan silaturahmi atau pelatihan-pelatihan, bisa mempergunakan tempat tersebut, ujarnya. Dalam upaya menapaki jejak sejarah masa lampau tersebut, Abah Anton dan rengrengan-nya telah menyelenggarakan Olimpiade Batu Mahpar, bertempat di objek wisata Batu Mahpar Galunggung pada bulan November 2018 lalu. “Dalam olimpiade tersebut, digelar berbagai kaulinan barudak (permainan anak-anak) masa lalu serta seni budaya khas Sunda (pencak silat, calung, angklung, dll) maupun bersifat Islami (kontes qasidah rebana, marawis, barjanji, dll) yang pesertanya dari seluruh pelosok Jawa Barat. "Dengan diadakannya Olimpiade Batu Mahpar Galunggung tersebut, maka beliau berharap kebersamaan dan persatuan sejak dini terus ditingkatkan dan kaulinan barudak maupun seni budaya Sunda yang kini hampir punah akan kembali dikenal anak anak 'zaman now' dan mudah-mudahan akan terlestarikan," pungkasnya. [Den’s] (sumber : Disparbud Kab. Tasikmalaya)

Komentar Via Facebook :