WN 88 Mojokerto dan Tulung Agung Kagum Dengan Apa Yang Ada di Batu Mahpar.
WN 88 Mojokerto
CYBER88 JABAR-Seperti halnya dengan Perkumpulan WN 88 dari daerah lainnya, WN 88 Unit 03 Jawa Jatim, Mojokerto dan Tulung agung juga hadir pada acara Deklarasi Forum Sunda Sadunya, yang di gelar oleh Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N. mantan Kepala Divisi Humas Mabes Polri dan juga mantan Kapolda Jabar dan jabatan terakhir di Mabes Polri, sebagai Wakil Kalemdiklat Polri, di tempat peristirahatannya waktu menjadi kapolwil priangan, Batu Mahpar yang kini telah berubah menjadi tempat Wisata alam yang eksotik dengan berbagai fasilitas yang lengkap.
Harsono, Agus Budiharto dan Danu Setya Aji dari Mojokerto sehari sebelum acara di gelar 20-02-2020, telah hadir di lokasi wisata batu Mahmar yang berada di kawasan priangan timur yang letaknya berada di kaki gunug Galunggung, tepatnya di kampung pangkalan desa sukamulih kecamatan sariwangi kabupaten tasikmalaya provinsi Jawa Barat itu sangat senang ketika di sambut dengan penuh keramahan oleh pembina WN 88 swkaligus ketua Forum Silaturahmi Sunda Sadunya, Abah anton Charliyan, ungkapnya.
Kamis, 20-02-2020 Anggota WN 88 Tulung Agung yang di pimpin oleh Haji Prayitno, hadir juga dalam kegiatan tersebut. Mereka sengaja datang dari Mojokerto dan untukTulung Agung untu menghadiri acara tersebut sekalian bersilaturahmi dengan anggota WN 88 lainnya dan yang paling pokok, mereka dapat bersilaturahmi dengan "Abah" yang sudah meraka anggap orang tua sendiri. Apalagi mereka dapat menambah wawasan dengan apa yang ada di sana, seprti adanya musium Geopark gunung Galunggung, artefak-artefak yang banyak berada di sana, dan juga melihan berbagai pertunjukan dalam gelaran acara tersebut, dan mereka sangat kagum dengan segalanya, tambahnya.
Selain itu, mereka juga mendapatkan pelajaran dengan bukti bukti sejarah kesundaan yang ada di sana secara langsung. Mereka juga memang penasaran dengan apa yang pernah mereka tonton di sebuah kanal youtube atas komentar budayawan yang bernama "Ridwan Saidi" tentang sejarah kesundaan, yang hanya di kutip dari bahasa Armenia.
Dan setelah mereka melihat dan mendengarkan apa yang di sampaikan oleh Abah Anton sebagai budayawan di tatar sunda ini, dan penguatan dengan bukti bukti sejarah, merekapun yakin bahwa sejarah kesundaan tidak seperti apa yang di sampaikan budayawan asal betawi tersebut, pungkasnya.(Givan)


Komentar Via Facebook :