Pembagian Shift Kerja Belum tentu Efektif Kurangi Antrian Stasiun Bogor

Pembagian Shift Kerja Belum tentu Efektif Kurangi Antrian Stasiun Bogor

CYBER88.CO.ID | BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya menegaskan antrian calon penumpang Kereta Rel Listrik (KRL) dari Stasiun Bogor yang sangat panjang terutama pada Senin (06/07/2020) pagi, tidak bisa terus dibiarkan. Pemerintah perlu mencari solusi agar hal ini tak kembali terjadi.

"Penumpang KRL yang berangkat dari Stasiun Bogor jumlahnya terus meningkat, meskipun belum sampai seperti kondisi normal tapi jumlahnya semakin ramai," kata Bima Arya saat meninjau Stasiun Bogor, Senin ini.

Menurut meraka, jumlah warga Kota Bogor dan sekitarnya yang akan berangkat kerja ke Jakarta pada Senin pagi dengan kapasitas angkut KRL yang masih dibatasi tidak seimbang sehingga terjadi antrian sangat panjang.

"Antrian penumpang yang menumpuk, tidak bisa dibiarkan terus-menerus seperti ini, tapi harus dicari solusi bersama,"tuturnya.

Bima Arya menjelaskan sebelumnya sudah dilakukan rapat koordinasi bersama pemerintah pusat yang dihadiri antara lain oleh Menteri Perhubungan, Menteri Dalam Negeri, serta Gubernur DKI Jakarta, dan Gubernur Jawa Barat. Solusinya, dilakukan pembagian jam kerja dalam dua shift pada kantor-kantor di Jakarta.

Namun, Bima melihat pembagian jam bekerja ini belum berjalan efektif atau waktu pembagian jam kerjanya yang masih sangat singkat, yaitu masuk kerja pukul 07.30 WIB dan pukul 10.00 WIB. Sehingga waktu pegawai berangkat kerja masih bersamaan.

"Kemarin saya berbicara dengan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Doni Monardo,dia mengatakan shift kerja di Jakarta sudah berjalan, tapi pegawai masih berangkat pada waktu bersamaan, sehingga terjadi antrean panjang di Stasiun Bogor,"tuturnya.

Bima Arya menegaskan, pengaturan jam kerja dan pembarangkatan KRL harus dievaluasi kembali untuk mencari solusi bersama sama untuk lebih baik lagi. "Apakah, waktu pembagian jam kerja diatur lebih lama lagi atau waktu pemberangkatan KRL ditambah," katanya.

Bima Arya menyatakan prihatin dengan kondisi penumpang KRL yang harus mengantri panjang dan tetap ramai di dalam gerbong KRL. Di sisi lain, Bima dapat memahami pembatasan jumlah penumpang yang dilakukan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) untuk menjaga penularan Covid-19.

PT KCI saat ini membatasi jumlah penumpang KRL maksimal hanya 72 orang per gerbong dan harus menerapkan protokol kesehatan yakni memakai masker, menjaga jarak fisik, serta menghindari berbicara dalam gerbong KRL.

Bima Arya mengusulkan untuk dilakukan tes cepat dan tes usap lebih intensif kepada penumpang KRL untuk memastikan kondisi penumpang KRL.

"Jika dari beberapa kali rapid test dan swab test, hasilnya selalu negarif, maka akan diusulkan agar kapasitas penumpang KRL ditambah," katanya.

Komentar Via Facebook :