Arogan dan Euphoria Akan Menimbulkan Kepanikan

Arogan dan Euphoria Akan Menimbulkan Kepanikan

CYBER88 -- Arogan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sombong; congkak; angkuh; mempunyai perasaan superioritas yang dimanifestasikan dalam sikap suka memaksa atau pongah (adjektiva).

Jadi, arogan adalah suatu sifat yang tidak terpuji, menyombongkan diri, mempunyai niat menguasai semua hal untuk memenuhi keinginan diri sendiri atau kelompoknya.

Merasa dirinya lebih superior dari orang lain, tidak mau mendengar saran dari orang lain walaupun saran tersebut sangat baik bisa dibuktikan secara ilmiah.

Merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Membanggakan dirinya sendiri dihadapan orang lain. Tidak memperdulikan kepentingan orang banyak. Memandang orang lain rendah. Memaksakan kehendaknya sendiri, walaupun melanggar kesepakatan yang dibuat atau aturan yang berlaku. Dan hanya berharap pujian…dan pujian… seperti Yessss… Mantapppp..dan sebagainya.

Faktor timbulnya sifat arogansi itu dikarenakan mereka tidak memikirkan orang lain. Semua mengenai “ saya, saya, saya” bagi mereka hanya memikirkan diri sendiri. Mereka melihat dunia melalui mata mereka sendiri,

Pada awalnya mereka tampak tertarik pada kita atau memikirkan posisi kita, tetapi kemudian berpindah kedalam perspektif sendiri, dan hanya menjadikan kita sebagai alat untuk mencapai kepentingannya.

Euphoria dan Sifat Arogan dalam kekuasaan bagi para pejabat pemerintahan maupun dalam organisasi, dewasa ini merupakan penomena yang selalu kita tonton dalam setiap pertemuan baik  formal maupun informal yang digunakan sebagai alat informasi akan pentingnya posisi yang ada pada dirinya di mata masyarakat  sehingga terkesan (angkuh dan sombongan). 

Terjadinya karakter diri seperti tersebut biasanya muncul dari sikap kebodohan dan kelemahan diri tanpa memperhatikan nilai kemanusiaan dan kepatutan, sebagamana ajaran agama dan budaya yang hidup dan berkembang ditengah masyarakat.

Hal ini dapat dikatagorikan gaya kepemimpinan yang Miskin (Jiwa yang miskin) dalam meningkatkan nilai diri, harga diri dan kewibawaan dalam organisasi,

Jika penomena Euphoria dan arogan ini selalu dijadikan patokan dalam bersikap dan bertindak dalam gaya kepemimpinannya, justru ia telah terjebak oleh penjara bathinnya sendiri yang pada akhirnya ia menjadi seorang yang tenggelam dalam kesendiran, dan takut dalam bayangan yang berakipat terjadinya kepanikan.

Dengan keadaannya, bahkan keluarganya sendiri pun cendrung menghindar jika bertemu dengannya. Kejadian ini dapat kita analogikan sebagai hukuman moral atau neraka kecil dalam kehidupan manusia. (Red)

Komentar Via Facebook :