Bio-Orchestra Pengasil Biogas
CYBER88.CO.ID -- Di masa sekarang, jumlah penduduk dunia selalu bertambah setiap tahunnya. Hal itu dapat berdampak ke segala aspek kehidupan, salah satunya peningkatan kebutuhan energi.
Energi yang biasa digunakan berasal dari bahan bakar fosil yang terdiri dari minyak bumi, batu bara, dan gas alam.
Dilansir dari Lowy Institute pada tahun 2019, di Indonesia sebagian besar energi yang digunakan setiap tahunnya berasal dari batu bara sebanyak 55%, gas alam sebanyak 26%, dan minyak bumi 75, sedangkan sumber energi terbarukan hanya digunakan sebanyak 12%.
Peningkatan kebutuhan energi menyebabkan adanya ketidakseimbangan antara jumlah energi yang dibutuhkan dengan ketersediaan energi di alam.
Untuk itu, diperlukan upaya untuk mengurangi pemakaian energi yang berasal dari bahan bakar fosil agar tidak cepat habis. Salah satunya dengan memanfaatkan energi yang terbarukan.
Energi yang terbarukan dapat bersumber dari energi matahari, angin, air, panas bumi, dan biomassa. Pada biomassa, energi didapatkan dari sumber alami seperti hewan dan tanaman untuk dijadikan sebagai bahan bakar. Umumnya biomassa menggunakan tanaman, seperti alga, jagung, dan rumput-rumputan seperti sidaguri (Sida rhombifolia).
Indonesia sebaiknya mulai mengembangkan penggunaan bahan-bahan alternatif yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Mau sampai kapan Indonesia terus Gambar 1 & 2 Sida rhombifolia bergantung pada energi fosil yang semakin lama semakin menipis?
Tuhan sudah menciptakan potensi lainnya yang dapat menggantikan peran energi fosil tersebut, mengapa tak kita manfaatkan? Potensi-potensi tersebut dapat kita temukan di sekitar kita, contohnya sampah organik rumah tangga (sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan), limbah kotoran septictank (kotoran manusia), limbah pertanian (seperti kotoran ternak, ampas jagung, jerami padai, ampas tebu, dsb.), tanaman energi, dan lain sebagainya.
Walaupun Indonesia memiliki potensi sumber daya bioenergi yang melimpah, pengaturan sumber bioenergi tetap harus dijaga dan diperhatikan, jangan sampai terjadi eksploitasi yang berlebihan (Dębowski et al, 2017).
Tidak hanya melimpahnya potensi sumber dayanya saja yang menjadi alasan pendukung pentingnya bioenergi bagi kehidupan manusia, namun kondisi alam saat ini yang memaksa kita untuk segera beralih ke bioenergi.
Sudah terlalu banyak dampak negatif yang ditimbulkan dari energi fosil untuk lingkungan, dimulai dari polusi (baik itu polusi udara, tanah juga air), efek gas rumah kaca (akibat penggunaan bahan bakar minyak, AC juga freon yang berlebihan), hujan asam, hingga pemanasan global (yang berdampak pada mencairnya es di kutub). Dalam Penelitian Dębowski, 2017 mikroalga yang digunakan adalah jenis Chorella sp dan Scenedesmus sp

Pada campuran 40% biomassa mikroalga dan 60% Silase Sida menunjukkan laju dan hasil produksi biogas tinggi. Hal ini disebabkan karena komposisi bahan baku yang ditambahkan pada reaktor anaerob memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laju pertumbuhan bakteri anaerob dan dapat memengaruhi produksi biogas (Dębowski, 2017).
Co-digestion dapat menghasilkan metana yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan karena adanya keseimbangan dalam campuran co-substrat. Hasil terbaik yang dicapai oleh campuran Biomassa Mikroalga dan Silase Sida sebesar 40% dan 60% juga pada campuran biomassa mikroalga 60% ditambahn Silase Sida 40%, sedangkan rasio karbon nitrogen masing-masing
Gambar 3. Chlorella sp Gambar 4. Scenedesmus sp sebesar 14,69 dan 20,61. Dengan kondisi tersebut, produksi biogas berkisar antara 538.66/344.19 hingga 594.52/351.88 mL/g VS. .
Dalam hasil penelitian tentang karakteristik pencernaan, tidak ada penurunan pH pada padatan pasca-fermentasi yang signifikan. Kandungan karbon total dalam fraksi padat menurun setelah digestasi anaerobik.
Hidrolisis biomassa merupakan tahap pembatas, hal ini ditunjukkan dari efisiensi yang relatif rendah dari biodegradasi anaerobic biomassa mikroalga dengan silase sida.
Tanaman gulma umumnya menjadi tanaman yang dapat merusak tanaman lain di sekitarnya. Tanaman ini umumnya tumbuh tanpa dikehendaki. Biasanya para petani menangani tanaman ini dengan cepat sebelum pertumbuhannya semakin pesat yang berdampak pada produksi hasil pertanian.
Tetapi tahukah Anda bahwa beberapa tanaman gulma memiliki manfaat yaitu salah satunya sebagai penyumbang nutrisi untuk produksi biogas?
Ya, benar. Salah satu tanaman gulma dari keluarga Malvaceae ini memiliki manfaat sebegai salah satu penyumbang nutrisi untuk produksi biogas yang dilakukan secara anaerob.
Seperti kita ketahui bahwa biogas sudah banyak dikembangkan sebagai energi alternatif pengganti sumber energi yang tidak dapat diperbaharui. Biogas umumnya melibatkan proses biologis yang terjadi di dalam bioreaktor dengan bahan- bahan tertentu untuk membuat aktif bakteri yang berperan dalam menghasilkan gas metana.
Kita mampu mengibaratkan proses biogas layaknya penampilan orkestra pada pertunjukkan musik. Di sana terdapat beberapa orang yang berperan untuk memainkan alat musik guna menghasilkan suatu melodi yang baik dan enak didengar oleh penikmatnya.
Sama halnya seperti pada proses biogas. Di dalam proses ini ada yang berperan sebagai pemberi nutrisi, ada yang berperan sebaga pengurai zat, ada yang berperan sebagai aktivator enzim bakteri dan lainnya.
Organisme-organisme yang terlibat dalam pembuatan biogas memerankan fungsinya masing- masing guna menghasilkan produk yang bermanfaat untuk bahan bakar.
Tanaman gulma pada proses pembuatan biogas ini tentunya memiliki kandungan Karbohidrat dan Protein di mana secara tidak langsung kandungan ini menjadi sumber nutrisi untuk bakteri atau mikroorganisme yang berperan dalam proses pembuatan biogas. Sehingga, memang benar bahwa Tuhan tidak semata- mata menciptakan suatu organisme tanpa adanya tujuan yang bermanfaat untuk kehidupan dan organisme lain.
Dengan demikian, campuran dari biomassa mikroalga yang terdiri dari yang dicerna bersama dengan silase Sida/ tanaman gulma lainnya dapat meningkatkan laju dan hasil produksi biogas menjadi lebih tinggi dibandingkan laju dan hasil biogas tanpa campuran biomassa mikroalga dan silase dari tanaman sida atau gulma lainnya. Proses co-digestion juga dapat meningkatkan biogas dan metana.
Oleh : Aghniya Nur Rahmani Elizabeth Widia Y.S Isma Nur Malasari Rahayu Meilawati Silmi Rizki Utami Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia


Komentar Via Facebook :