Penyaluran BLT - DD Tidak Tepat Sasaran di Kecamatan Minas
Ilustrasi Internet
CYBER88 | Pekanbaru - Program BLT Dana Desa dan Bansos dari pemerintahan presiden Joko Widodo yang berjalan sejak tahun 2015 - 2020 untuk mengurangi beban masyarakat miskin dan janda miskin tidak berjalan dengan mulus.
Ketimpangan pembagian dana BLT DD dan Bansos ini terjadi di kecamatan Minas Jaya, kabupaten Siak, provinsi Riau di beberapa RT / RW, dimana sekitar 50 KK (Kepala Keluarga) terdata namun hanya dua kali mendapatkan bantuan berupa sembako dan tidak sesuai dengan program pemerintah pusat.
Seperti BLT DD, Santunan Jompo dan Santunan Janda Miskin, serta bantuan dana Covid - 19 yang harusnya berjalan setiap bulan kepada keluarga yang membutuhkan.
Seperti yang disampaikan oleh keluarga Sitompul dan keluarga Hasibuan kepada kru wartawan CYBER88, bahwa mereka hanya dua kali mendapat bantuan.
Saat kru media bersama warga bertanya kepada salah satu RT, RT tersebut menyampaikan bahwa kartu mereka (yang terdata tapi tak mendapat bantuan,red) sudah dikembalikan ke pusat.
"Jadi kartu warga yang terdata itu sudah dikembalikan ke pusat karena ada beberapa perubahan, kalau mau tau lebih rinci tanyalah ke lurah, jangan selalu salahkan RT," ucap Panjaitan ke warga.
Mendengar penjelasan RT, kru mengkonfirmasi kepada warga yang namanya terdata tetapi hanya dua kali mendapatkan bantuan sembako.
"Keluarga saya dari dulu selalu di data pak Sitepu (bagian pendata dari dinas sosial Minas, red), tapi hanya dua kali dapat sembako. Perihal uang itu yang katanya dari presiden Jokowi kami tidak tau, disuruh RT kami ke kantor lurah, pergi kami. Itu pun sembako berupa beras 10 kg, minyak goreng 1liter, ikan sarden kaleng 2, gula pasir sekilo, jika ada yang bilang bentuk uang, itu tidak ada buk," ucap istri pak Sitompul.
Hal senanda juga disampaikan oleh keluarga Hasibuan bahwa mereka juga mendapat jatah yang sama.
"Itulah buk, kami tukang kopek sayurnya di pasar untuk ternak (babi,red) supaya ada biaya sekolah anak-anak kami, dan RT sudah berulangkali mendata tapi kami juga tak tahu menahu berapa uang yang semestinya kami dapat, serta seingat saya, kami hanya mendapatkan beras, gula, ikan kaleng serta minyak goreng. Kami disuruh RT ke lurah ya kami pergi, tapi herannya kami, dari semua yang terdata sebagian besar yang dapat rumah mewah, bermobil, punya lahan kelapa sawit yang miskin sekarang itu siapa buk," tukasnya kesal.
Saat kru wartawan mengkonfirmasi pernyataan warga ke kantor lurah, perwakilan di kantor lurah Zukri, S. Sos sebagai Kepala Dinas Sosial di kecamatan Minas menyampaikan bahwa lurah hanya sebagai penampung data, untuk pendataan itu tanggung jawab RT dan RW.
"Setiap daerah itu ada perwakilan untuk warga, RT lah yang pertamakali mengetahui siapa warganya yang pantas dapat dan tak pantas dapat, tarok lah bu di salah satu RT ada 10 orang KK yang tak dapat bantuan, di kalikan berapa RT se kecamatan Minas dan mereka mendatangi kantor lurah untuk bertanya, ya kami disini bukannya berkurang uban malah bertambah uban kan bu. Jadi seyogyanya data yang kami terima itu dari RT dulu," tukasnya.
Sementara penuturan RT setempat, bahwa penerimaan bansos itu di data dari lurah kemudian data tersebut diberikan ke RT.
Ketika kru bertanya ke Zukri S.Sos, perihal kartu yang terdata apakah betul dikembalikan ke pusat, beliau menyampaikan bahwa betul sebagian ada data yang dikumpulkan dan di cek ulang dan di kembalikan ke pusat.
"Betul mbak sebagian ada yang kartunya dikembalikan, karena di data lama ada yang dulunya bekerja sekarang tidak, juga sebaliknya makanya kami minta RT untuk mendata ulang," sahut Zukri.
Salah satu tokoh masyarakat G. Simanjuntak saat di konfirmasi berang akan informasi yang di terima.
"Sebanyak 50 KK yang tidak dibagikan sesuai kebutuhan, jika datanya sudah di kembalikan ke pusat seperti penuturan RT, siapa penerima nya dan apakah ada penerima tersebut menandatangani, 14 Kecamatan di Minas, itu baru 1 kecamatan yang terdeteksi, bayangkan berapa ratus juta dana yang diduga di selewengkan?! Mereka miskin dan sepatutnya mendapat itu, jangan kaya merasa miskin dan hak mereka yang miskin dimakan si kaya, hal ini harus di selidiki, apakah ada data fiktif atau memang ada permainan," tandasnya kesal.
Saling lempar batu itulah yang membuat sebagian warga Minas khususnya janda miskin, keluarga yang bertahun-tahun tidak bekerja diam dan hanya pasrah menerima ketidak adilan yang mereka alami.


Komentar Via Facebook :