Irfan Pemuda Tambaksari Wanareja, Keluar dari Perusahaan Besar demi Menjadi Petani Cabai Merah
CYBER88 | Cilacap -- Kebanyakan anak muda akan mencari pekerjaan setelah lulus sekolah. bekerja di perusahaan dianggap menjadi sumber penghasilan dan pengalaman.
Namun Irfan Ipong berbeda, pemuda berusai 24 tahun itu justru memilih keluar dari PT Gadjah Tunggal perusahaan besar tempat dia bekerja dan memilih menajdi petani di Desa Tambaksari, Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.

“Waktu lulus sekolah tahun 2018 saya sempat kerja dua bulan di perusahaan, cuma 2 bulan aja. Setelah itu mutusin untuk berhenti dan mulai fokus bertani,” ungkap Teguh dalam wawancaranya dengan CYBER88..co.id. Sabtu. (11/9/2021).
Pemuda berperawakan tinggi, besar dan berkulit bersih ini bekerja sebagai petani karena merasa ada kepuasan tersendiri.
Selain semangat bertaninya yang sangat tinggi, Irfan juga mendapat dukungan yang kuat dari Hj Teti Rohaetiningsih anggota DPR RI Fraksi Golkar.

Karena saya juga di lingkungan pertanian, dalam pekerjaan saya lebih memiliki kenyamanan hidup. Saya merasa bertani memberi kenyamanan lebih besar dibandingkan bekerja di perusahaan,” ujarnya.
Menurutnya banyak komoditas pertanian yang memiliki potensi, salah satunya komoditas cabai merah besar.

“Karena cabai salah satu bahan pokok, punya potensi besar dan setiap orang membutuhkan cabai. Selain itu memang lingkungan sini juga cocok untuk ditanami cabai,” jelasnya.
Irfan adalah pemuda yang aktif di kelompok tani, Sebagai pemuda Milenial yang memutuskan menjadi petani di desa, Irfan aktif dalam organisasi kelompok tani. Irfan Distrik bekerja sebagai sekretaris di Kelompok Tani Hortikultura Majenang yang di pimpin oleh Haji Rosim.

Menurut irfan, dengan adanya kelompok tani pengembangan baik dari aspek budidaya, permodalan hingga akses pasar bisa lebih mudah dilakukan.
Di kelompok tani, Irfan menjadi yang paling muda di antara anggota dan pengurus lainnya. Sehari-hari Irfan aktif mengurusi administrasi kegiatan kelompok tani tersebut.

Potensi budidaya cabai merah besar, Irfan menjelaskan, cabai merah besar dapat memberikan keuntungan secara finansial jika dikelola dengan baik. Masa produktif yang cukup panjang menjadi kelebihan dari cabai.
Dalam satu hektare lahan bisa ditanami sekitar 18.000 tanaman cabai. Untuk modal tanaman cabai dibutuhkan sekitar Rp 5.000 per tanaman. Produktivitas rata-rata berkisar 12 ton per hektare dengan cabai cabai rata-rata tahun ini di wilayahnya berkisar Rp10.000 per kilogram, maka omset yang didapatkan sekitar Rp 120 juta.

“Kami di kelompok tani menjual cabai ke pasar tradisional dan pasar digital. Produk yang sesuai spesifikasi permintaan pasar digital akan dipasok ke sana (Bandung, Cirebon dan sekitarnya), sedangkan untuk produk yang tidak sesuai spesifikasi kami pasok ke pasar tradisional,” tulisnya.
Bahkan, untuk cabai yang tidak masuk kriteria di pasar tradisional maupun digital, lanjut Irfan, akan diolah menjadi cabai kering untuk memaksimalkan hasil.
Menurut Irfan, kelebihan dari memasok cabai ke pasar digital yaitu harga cenderung stabil. Harga yang ditentukan pihak pasar digital masih di atas harga produksi sehingga tidak merugikan petani. Sedangkan harga jual di pasar tradisional sangat fluktuatif dan menimbulkan kerugian jika harga sedang rendah di bawah biaya produksi.
“Kalau jual ke pasar digital kami tidak akan dapat kerugian, tapi ketika harga di pasar tradisional kita tidak bisa ikut harga tinggi karena sudah ditentukan harganya sesuai dengan ongkos produksi,” jelasnya.
.jpg)
Tantangan menjadi petani cabai, Irfan jika dirinya pernah mengalami gagal panen ketika tanaman cabai terkena serangan hama buah dan fusarium awam.
“Pernah gagal panen, ketika lalat buah sudah menyerang itu sulit. Karena tidak bisa lagi dikendalikan dengan pestisida. Selain itu layu fusarium juga menjadi kendala besar,” tutur Irfan.
“Untuk itu perlu dilakukan pencegahan awal dengan pengolahan dan sanitasi lahan. Pemberian agen hayati PGPR. Dari awal pokoknya saya perbaiki dari hal pemberian pupuknya,” sambungnya.
Selain itu, tantangan paling serius menurut Irfan yaitu masih sering terjadinya fluktuasi harga cabai di tingkat petani. Harga cabai kerap menyentuh harga paling rendah hingga di bawah biaya produksi.
“Harga cabai harus stabil, kalau sudah rendah banget petani otomatis rugi,” ujarnya.
Guna mengurangi kerugian, Irfan berupaya memperluas akses ke pasar kerja sama kelompok tani dengan pihak swasta, lembaga permodalan, hingga pemerintah.
“Rencana kedepannya saya akan melanjutkan melanjutkan kegiatan bertani. kelompok tani. Dari segi administrasi kami perbaiki, menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga, instansi dan swasta. Kalau melihat peluang pertanian itu paling besar, selagi manusia membutuhkan makan, pertanian masih dibutuhkan. Sebagai generasi muda harus berani dan tidak malu untuk jadi petani,” pungkasnya. (UDEL).


Komentar Via Facebook :