Anton Charliyan Mengutuk Keras Aliran Sesat NII

Anton Charliyan Mengutuk Keras Aliran Sesat NII

CYBER88 | Tasik – Sejumlah warga Garut mengaku dibaiat masuk aliran sesat Negara Islam Indonesia (NII), sontak hal tersebut pun mendapat tanggapan keras dari berbagai pihak, termasuk mantan Kapolda Jabar, Irjen. Pol. (Purn.) Dr. Drs. H. Anton Charliyan, M.P.K.N.

Anton yang kerap disapa Abah Anton ini pun merasa geram atas masuknya aliran sesat yang diduga sudah membaiat warga Garut. 

Dari keterangannya kepada Cyber88, Abah Anton menuturkan, dari 2 tahun yang lalu sudah pernah kita infokan baik ke para pihak terkait baik Polri maupun TNI, bersama tim Yeny Wahid Foundation agar hal tersebut segera diantisipasi oleh pemerintah dengan serius, karena gerakan mereka begitu masif dan terstruktur, sementara kami pantau dari pihak Pemerintah terkait sepertinya terkesan adem ayem, slow respon, hanya diantisipasi dengan pola-pola rotinitas yang biasa saja.

“Seyogianya pihak pemerintah dan aparat terkait lainya bisa lebih Progresif dan punya pola-pola teknis dan taktis yang lebih khusus dalam mengantisipasi masalah ini. Baik dari Sisi Preemtif, Preventif maupun dari sisi refresifnya. 

Sinergi semua bergerak Sesuai dengan job description masing-maing. Kalau kita lengah ini akan jadi Bom waktu yg sangat berbahaya, hari ini mungkin cuma 59 Orang kalau tidak salah hampir satu Kepunduhan , besok bisa satu Desa, dua desa, lama-lama bias satu Kecamatan dipengaruhi dan didominasi oleh kelompok mereka yang berafiliasi kepada NII,” ungkap Abah Anton.

Lebih lanjut, kata dia, apalagi daerah Priangan punya sejarah khusus yang merupakan Kelahiran NII Karyosuwiryo, yang sampai saat ini masih kuat sekali Pengaruhnya, sehingga tidak menutup kemungkinan dikemudian hari mereka pun mendeklarasikan diri ingin membentuk otonomi sendiri.

“Bahkan tidak menutup kemungkinan ingin membebaskan diri dari NKRI dan membentuk NII. Dalam skala didukung massa yang besar dan terkonsentrasi dalam satu Teritori, Nanti kita semua baru terbelalak dan saling tuding satu sama lain.

Sementara pengalaman di Poso yang hanya ratusan orang saja dalam satu wilayah kecil yang sporadis, begitu merepotkan kita semua sampai butuh bertahun-tahun untuk menyelesaikanya , demikian juga Sparatis Papua, 

Apalagi jika satu wilayah teritori baik Desa apalagi satu Kecamatan , dampaknya bisa lebih dari Moro yang sudah dialami Pemerintah Philiphine, bisa puluhan tahun dampaknya bagi keutuhan NKRI, bahkan bila pihak Asing ikut campur, tidak menutup kemungkinan juga bisa Lepas dari NKRI sebagaimana yang terjadi dengan Timtim.

Untuk itu agar Pemerintah segera mekakukan langkah-langkah kongkrit dalam masalah ini adalah menyangkut masalah Pembelotan Iedologi, sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Perang Iedoligi jauh lebih Berbahaya dari hanya sekedar Perang fisik, 

Maka upaya pemerintah pun untuk saat ini sebaiknya dikhususkan untuk membentuk tim khusus yang mampu meluruskan kembali iedologi mereka yang sudah terlanjur terpapar, baik secara terbuka maupun secara tertutup,” papar Jendral bintang dua tersebut.

“Garut menurut pengamatan kami hanya sekelumit kecil saja dari masalah NII Ini, justru yang harus lebih diwaspadai adalah gerakan masif  yang sekarang ini sedang berlangsung di Indonesia, suatu Ancaman yang luar biasa. Sehingga bila kita lengah hanya tinggal menunggu Gong nya saja. 

Untuk itu kami para Penggiat yang tergabung dalam tim anti Radikalimsme dan Terorisme menghimbau sekaligus mengingatkan agar Pemerintah lebih Serius dan lebih Proaktiv dalam menangani masalah NII ini, dan punya Strategi khusus sampai dengan tingkat Teknis dan Taktis yang jitu, sebelum semuanya jadi terlambat, jangan sampai nanti anak cucu kita hanya mendengar cerita bahwa dulu pernah ada sebuah Negara yang Bernama NKRI, yang Bhineka Tunggal ika yang berideologi Pancasila,” tegasnya.

Abah Anton menambahkan, di tahun 2015 saja ketika Rapat Akbar di Gelora Bung Karno hadir kader-kader NII sekitar 400 ribu orang,

Hasil dari litbang BIN saja hampir lebih dari 80% mahasiswa Terpapar radikalisme, yang merupakan salah satu ciri khas ideologi NII ini, yang notabene sebagai mana kita ketahui bersama saat ini dimotori oleh HTI, Ikhwanul Muslumin, Jamaah Islamiah , JAD & JAT.

“Saat ini menurut pengamatan dan hasil diskusi kami dengan Tim Anti Radikal dan Terorisme, di Indonesia tidak kurang dari 10 juta yg terpapar Iedologi NII,” pungkasnya.

Komentar Via Facebook :