Usai Temuan Mayat Bergelimpangan di Kota Bucha,  untuk Lawan Rusia AS Akan Kirim Lebih Banyak Senjata ke Ukraina

Usai Temuan Mayat Bergelimpangan di Kota Bucha,  untuk Lawan Rusia AS Akan Kirim Lebih Banyak Senjata ke Ukraina

CYBER88.CO.ID -- Pemerintah Amerika Serikat (AS) berupaya meningkatkan tekanan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin, usai temuan mayat bergelimpangan di kota Bucha, Ukraina. Selain berencana menjatuhkan lebih banyak sanksi, AS juga bertekad untuk mengirimkan lebih banyak persenjataan untuk membantu Ukraina.

Seperti dilansir AFP, Selasa (5/4/2022), ditariknya pasukan Rusia dari sekitar ibu kota Kiev meninggalkan apa yang disebut Ukraina dan sekutu Baratnya sebagai bukti kekejaman massal. Temuan mayat bergelimpangan di wilayah-wilayah Ukraina yang sebelumnya dikuasai pasukan Rusia telah mendorong tekad AS untuk memberikan tekanan lebih besar kepada Putin dan negaranya.

Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan mengatakan bahwa AS, bersama sekutu-sekutu Eropa, tengah menyusun lebih banyak langkah untuk menambah sanksi ekonomi yang bertujuan melemahkan mata uang Rusia, Rubel, para elit pemerintahan Rusia dan kemampuan Rusia mengimpor komponen teknologi tinggi.

"Anda bisa mengharapkan pengumuman sanksi lanjutan pekan ini," ujar Sullivan.

Di lapangan, AS juga tengah berusaha meningkatkan volume dan kekuatan persenjataan yang dikirimkan untuk Angkatan Bersenjata Ukraina.

"Kita harus terus menyediakan senjata yang dibutuhkan Ukraina untuk melanjutkan pertempuran," ucap Presiden Joe Biden dalam pernyataan terbaru seperti dilansir dari Reuters.

Dalam pernyataannya, Biden kembali menyebut Putin sebagai 'penjahat perang' dan menegaskan pembunuhan yang terjadi di kota Bucha, Ukraina, sebagai 'kejahatan perang'. Dia juga mendesak adanya 'persidangan kejahatan perang'.

"Dan kita harus mendapatkan semua detailnya sehingga ini bisa menjadi kenyataan, menggelar persidangan kejahatan perang," imbuh Biden.

Diketahui bahwa selama berminggu-minggu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta persenjataan yang bisa menyerang pasukan Rusia dari jarak jauh dan untuk mempertahankan diri melawan Angkatan Udara, Angkatan Laut dan artileri jarak jauh Rusia yang lebih kuat. Dia berulang kali menekankan perlunya jet-jet tempur, tank dan pertahanan antiudara.

Meski negara-negara Barat sejauh ini gagal menyepakati soal bagaimana atau apakah akan mengerahkan sistem semacam itu ke Ukraina, sebagian karena khawatir memprovokasi Rusia, Sullivan menekankan pemerintahan Biden telah mengirimkan persenjataan senilai US$ 2,3 miliar (Rp 33 triliun) ke Ukraina.

Sullivan menyatakan AS bekerja bersama sekutunya dalam pengadaan senjata, termasuk 'sistem antipesawat jarak jauh, sistem artileri dan sistem pertahanan pesisir' -- tampaknya merujuk pada gagasan penggunaan peralatan rancangan Uni Soviet yang dimiliki negara Eropa Timur agar mudah digunakan militer Ukraina.

Dia enggan merinci detail soal sistem baru, yang akan melebihi roket jarak dekat, drone dan persenjataan ringan yang telah dikirimkan AS ke Ukraina. Sullivan menegaskan bahwa 'beberapa sistem ini tidak bisa kami ungkapkan'.

"Tingkat dan kedalaman upaya untuk memperoleh dan mengirimkan berbagai kemampuan persenjataan canggih tergolong luar biasa, belum pernah terjadi sebelumnya," ucapnya. (*)

Komentar Via Facebook :