PBB dan Palang Merah Evakuasi Warga Sipil yang Terjebak di Medan Perang

PBB dan Palang Merah Evakuasi Warga Sipil yang Terjebak di Medan Perang

CYBER88.CO.ID -- Hampir 500 orang korban perang di Ukraina berhasil dievakuasi ke tempat yang aman dari Azovstal, Mariupol, dan daerah sekitarnya. Evakuasi tersebut dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah dalam dua operasi penyelamatan pada Kamis, 5 Mei 2022.

Sementara, operasi penyelamatan sekitar 200 warga Ukraina di kota Mariupol, yang diduga masih terkurung di sebuah pabrik baja dilakukan pada Jumat, 6 Mei 2022.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan segala upaya sedang dilakukan untuk mengeluarkan orang-orang dari apa yang dia sebut sebagai hellscape.

Pengeboman selama berminggu-minggu yang dilakukan oleh Rusia telah membuat sebagian besar kota menjadi puing-puing, dan pertempuran semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir di sekitar pabrik baja Azovstal.

Tentara Ukraina membuat pertahanan terakhir mereka di dalam pabrik baja Azovstal dan ada sekitar 200 warga sipil diperkirakan ikut terjebak.

“Kita harus terus melakukan semua yang kita bisa untuk mengeluarkan orang dari neraka ini,” kata Guterres.

Akan tetapi, dia menolak untuk memberikan rincian tentang operasi baru ini untuk menghindari kegagalan operasi evakuasi.

“Saya berharap koordinasi yang berkelanjutan dengan Moskow dan Kyiv akan mengarah pada lebih banyak misi kemanusiaan untuk memungkinkan warga sipil melintas dengan aman,” ujarnya

Dalam pidatonya semalam, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bahwa telah dilakukan evakuasi dan saat ini orang-orang sedang dalam perjalanan ke wilayah yang aman.

"Sebuah konvoi sedang menuju ke Azovstal besok pagi (6 Mei 2022) dengan harapan untuk menerima warga sipil yang tersisa di neraka yang suram itu," kata Kepala Badan Kemanusiaan PBB Martin Griffiths.

Pejuang Ukraina yang berada di terowongan yang terletak di bawah pabrik baja tampaknya berada dalam keputusasaan melawan pasukan Rusia.

Menurut perkiraan terbaru dari Rusia, sekitar 2.000 pejuang Ukraina berada di pabrik tersebut.

Kapten Sviatoslav Palamar, wakil Komandan Resimen, mengatakan kepada TV Ukraina bahwa pasukan Rusia berada di dalam pabrik untuk hari ketiga dan menghadapi perlawanan sengit.

"Pertempuran berat sedang berlangsung," katanya.

Rusia berhasil masuk ke dalam dengan bantuan seorang tukang listrik yang mengetahui lokasi pabrik.

"Dia menunjukkan kepada mereka terowongan bawah tanah yang menuju ke pabrik. Kemarin, Rusia mulai menyerbu terowongan ini, menggunakan informasi yang mereka terima dari pengkhianat,” kata Anton Gerashchenko penasihat Kementerian Dalam Negeri Ukraina seperti dikutip dari laman Aljazeera.

Namun Moskow membantah pasukannya menyerbu pabrik itu, dan telah mengeluarkan beberapa ultimatum agar Ukraina menyerah.

Sebelumnya Rusia mengumumkan gencatan senjata siang hari di fasilitas tersebut selama tiga hari mulai Kamis pagi, dan menuduh tentara Ukraina yang menolak mengizinkan warga sipil pergi.

Jika Rusia berhasil mengambil kendali penuh atas Mariupol, Rusia akan membangun koridor darat ke semenanjung Krimea, yang sempat direbut dari Ukraina pada 2014.

Sebelum invasi Rusia, Mariupol memiliki populasi lebih dari 400.000 orang dan telah menjadi simbol kesengsaraan perang. Diperkirakan sekitar seperempat orang yang tersisa, dan kota itu sekarang berada di tangan administrasi Republik Rakyat Donetsk yang didukung Rusia.*

Komentar Via Facebook :