Carut Marut Penggandaan Soal PAT di Kecamatan Cipatat Meresahkan Warga
CYBER88 | KBB -- Penilaian akhir tahun (PAT) adalah kegiatan yang dilakukan di akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap,cakupan penilaian meliputi seluruh indikator yang mempresentasikan KD pada semester genap.
Berdasarkan laporan masyarakat, maka awak media Cyber88 melakukan investigasi di beberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung Barat dan ditemukan beberapa dugaan pelanggaran yang bervariatif diantaranya di Kecamatan Cipatat.
Dengan jumlah Sekolah 57 SD dan peserta PAT sebanyak 2157 siswa, ternyata untuk pengadaan soal ujian PAT tahun 2022 hasil rapat K3S, Pengawas dan kepala sekolah maka semua SD diarahkan untuk penggandaan soal ke CV Sentral Vidyatech yang berlokasi di Cioray Kecamatan Cipatat.
Selanjutnya ditemukan adanya penggelembungan jumlah lembar soal dengan harga cetak tertinggi sebesar Rp. 300.
Dari 11 mata pelajaran dibuat satu mapel 6 lembar soal, padahal kenyataan di lapangan hanya dua lembar soal yang dicetak.
Senin (23/5) awak media mengkonfirmasikan hal tersebut kepada K3S yang dihadiri oleh ketua K3S, para Pengawas dan Ketua komite sekolah se-Kecamatan Cipatat.
Salah seorang pengawas, Hj. Acih memberikan klarifikasi, penggelembungan jumlah cetak kami lakukan dikarenakan disatukan dengan lembar jawaban dan harga tertinggi yang diambil. Kelebihannya adalah untuk biaya tidak terduga dalam pelaksanaan PAT tahun ini.
"Kami sudah bekerja sama cukup lama dengan percetakan tersebut hanya secara kebetulan adalah milik adik ketua K3S ibu Hj wida,"ujar Hj. Acih.
"Disamping untuk mempermudah dan menghemat waktu, maka semua sekolah kami arahkan untuk penggandaan di CV. Sentral Vidya tech. Karena mengingat medan yang cukup berat dibeberapa sekolah yang cukup jauh sehingga bisa menghemat waktu dikarenakan lembar soal langsung diantarkan ke sekolah oleh percetakan," sambung Hj Acih.
Temuan di lapangan ternyata berbanding terbalik dengan pernyataan Hj. Acih. Pasalnya untuk lembar jawaban tidak sediakan oleh percetakan, tapi dibebankan kepada sekolah dan lembar soal tidak diantarkan ke sekolah masing-masing, tapi harus diambil ke kantor pengawas.
Ditemukan pula beberapa soal yang dinilai kurang pantas dibaca atau dikerjakan oleh peserta, sehingga oleh beberapa pihak harus ditutup dengan kertas. Tentunya ini menjadi beban tambahan tenaga,waktu dan materi bagi sekolah.
"Apakah pihak pengawas atau K3S dan komite tidak memeriksa dahulu master soal tersebut? atau mereka tidak memahami POS (prosedur operasianal standar), sehingga soal tersebut bisa lolos dan naik cetak," keluh beberapa pihak.
"Sekolah telah mengeluarkan biaya cetak tertinggi, tapi kami masih dibebankan oleh kesalahan yang dibuat penyelenggara," ujar narasumber.
Lanjut salah satu narasumber, Ini adalah tingkat program dari Disdik Kabupaten menurut K3S, hanya yang jadi ganjalan, kenapa program dari Disdik tapi kami disuruh transfer ke percetakan tersebut, bukannya langsung ke Dinas?
"Dan setelah kami membayar pada awal april sampai sekarang kami belum menerima nota pembelian, sementara nota ini diperlukan untuk bukti pembayaran," keluhnya.
Untuk mengetahui kebenarannya awak media mengkonfirmasi masalah ini ke Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Barat.
"Kami dari Dinas hanya meminta Rp. 500.000 untuk penggantian CD master soal dari setiap kecamatan dan tidak pernah mengarahkan sekolah untuk melakukan penggandaan ke salah satu percetakan, wewenang penggandaan soal tersebut sepenuhnya pihak sekolah yang mengelola,"kata salah satu staff Disdik yang tidak mau disebutkan namanya.
Asep salah seorang pemerhati pendidikan di Kecamatan Cipatat angkat bicara terkait temuan tersebut, kami sangat menyayangkan hal ini terjadi di Cipatat dan mencoreng dunia pendidikan.
"Jelas ini adalah pelanggaran dan diduga ada penyalahgunaan dana BOS untuk kepentingan kelompok dan pribadi," kata dia.
Setelah dicoba dikalkulasikan dengan banyaknya siswa, diduga ada sekitar puluhan juta kerugian negara dan ini harus segera ditindak lanjuti dengan bukti-bukti yang telah kami kumpulkan.
"Apalagi sekarang menghadapi PAT kelas 1-5 diduga akan seperti PAT kelas 6 dengan nilai jauh lebih besar, kami akan terus mengawal masalah ini,"cetus Asep dengan nada kesal. [Yus']


Komentar Via Facebook :