Dorong Penempatan Pekerja Migran ke Jepang sebagai Strategi Atasi Pengangguran
CYBER88 | GARUT – Dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi angka pengangguran serta kemiskinan, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Siliwangi Garut bekerja sama dengan DPC HKTI Garut menyelenggarakan Seminar Internasional.
Bertema “Peluang dan Tantangan Penempatan Tenaga Kerja Migran Indonesia ke Jepang: Sinergi Dunia Usaha, Pemerintah, dan Lembaga Pendidikan.” Kegiatan ini berlangsung di UPT BLK Kabupaten Garut, Jalan Raya Samarang, pada Kamis (29/05/2025).
Acara dibuka secara resmi oleh H. Muksin, S.Sos, M.Si selaku Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Garut yang mewakili pemerintah daerah. Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber penting dari Jepang dan Indonesia, termasuk Bayu Joko Sanjaya, Direktur Kabushiki Kaisha Yanbo Umi Tokyo perusahaan penyalur tenaga kerja legal (Jinzai Hakeng Kaisha) yang dimiliki putra daerah Garut.
Hadir pula H. Abdul Hakim Balamash Abdullah, Direktur Utama PT Yanbu Al-Bahar; Yhonny, Direktur Utama PT. Jaya Frans Abadi, perwakilan dari JEPSP (Japan Employment Promotion Services for Overseas Workers) dan Nahoko Hiroshi dari Touroku Shien Kikan (TSK) lembaga pendukung penempatan pekerja migran di Jepang.
Seminar ini diikuti oleh peserta dari KCD Wilayah 11, perguruan tinggi, sekolah kejuruan, organisasi perangkat desa, LPK, LKP, MKKS, FKKS, dan PKBM.
Para narasumber memaparkan perkembangan terbaru terkait regulasi dan mekanisme penempatan PMI. Pemerintah Indonesia kini lebih terstruktur melalui pembentukan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia.
Disisi lain, Jepang telah mengatur kebijakan baru sejak 2019 yang akan efektif berlaku pada 2027, sehingga masih tersedia waktu untuk penyesuaian dan peningkatan kualitas tenaga kerja.
Ketua STAI Siliwangi Garut, Hj. Illa Susanti, M.Pd, berharap seminar ini dapat membuka akses informasi tentang jalur legal penempatan kerja ke Jepang, memberi gambaran nyata terkait tantangan dan peluang kerja luar negeri, serta menjadi jembatan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan dalam menanggulangi pengangguran.
Dalam sesi diskusi, Ketua HKTI Garut, Widiana Syafaat, menekankan bahwa penempatan PMI merupakan strategi jangka panjang dalam pembangunan SDM unggul serta revitalisasi sektor agroindustri di Garut.
“Penempatan PMI ke Jepang dapat menjadi katalis pembangunan SDM yang siap menggerakkan perekonomian lokal, khususnya sektor pertanian yang masih menjadi andalan di Garut,” ujarnya.
Seminar ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan kesepakatan pembentukan forum komunikasi antar-stakeholder. Forum ini diharapkan mampu mengawal tindak lanjut program penempatan kerja ke Jepang secara konkret.
Kehadiran PMI asal Garut nantinya diharapkan memberi dampak berkelanjutan bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat ketika kembali ke tanah air.


Komentar Via Facebook :