BNPB Pasang Sistem Peringatan Dini Tsunami di Empat Kelurahan Kota Cilegon
Lurah Gerem, Rahmadi Ramidin turun dalam kegiatan monitoring pemasangan Sistem Peringatan Dini Tsunami
CYBER88 | Cilegon – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) resmi memasang sistem peringatan dini tsunami atau Early Warning System (EWS) di empat kelurahan di Kota Cilegon. Adapun lokasi yang dipilih yakni Kelurahan Gerem, Mekarsari, Lebak Gede, dan Kubangsari.
Kepala BPBD Kota Cilegon, Suhendi, menjelaskan bahwa seluruh pengadaan dan pemasangan alat berasal dari BNPB pusat. Pemerintah Kota hanya berperan dalam menyiapkan lokasi serta fasilitas pendukung.
“Semua peralatan bantuan langsung dari BNPB. Pemda hanya menyiapkan tempat agar sistem bisa dipasang dan berfungsi optimal,” ungkapnya.
Perangkat EWS berbentuk sirine yang akan berbunyi apabila terdapat potensi tsunami. Dengan adanya sistem ini, masyarakat diharapkan bisa segera melakukan evakuasi sesuai jalur yang telah ditentukan.
“Kita tentu berharap bencana tidak terjadi. Namun jika ada potensi tsunami, warga dapat langsung mengetahui dan segera menjauhi pantai,” jelas Suhendi.
Selain pemasangan alat, BNPB bersama Pemerintah Kelurahan juga akan menggelar sosialisasi kepada masyarakat. Edukasi ini penting agar warga memahami fungsi sirine serta langkah penyelamatan diri saat peringatan berbunyi.
Terkait pemeliharaan, Suhendi menegaskan bahwa untuk sementara waktu tanggung jawab masih berada di BNPB. “Selama belum dihibahkan, perawatan masih ditanggung pusat. Kalau nanti sudah jadi aset daerah, baru bisa kita anggarkan perawatannya,” tambahnya.
Sementara itu, Lurah Gerem, Rahmadi Ramidin, menyambut positif langkah tersebut. Ia menyebut pemasangan EWS menjadi tonggak penting bagi warganya setelah dua tahun program IDRIP berjalan melalui pembinaan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan Desa Tangguh Bencana (Destana).
“Sejak awal Gerem ditetapkan sebagai wilayah sasaran program IDRIP, kami bersama masyarakat terus melakukan pembinaan, pelatihan, dan simulasi kebencanaan. Pemasangan EWS ini adalah puncaknya. Artinya, sekarang masyarakat tidak hanya punya pemahaman, tetapi juga didukung teknologi untuk lebih siap menghadapi kemungkinan bencana,” ujarnya.
Rahmadi menekankan, keberadaan sirine bukan sekadar simbol, melainkan peringatan nyata bahwa wilayah pesisir Cilegon memiliki potensi bencana. “EWS ini akan menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak lengah. Warga harus tahu jalur evakuasi, titik kumpul, dan bagaimana menyelamatkan diri ketika sirine berbunyi. Jadi bukan hanya perangkat yang dipasang, tapi budaya siaga bencana yang harus terus kita bangun,” tambahnya.
Ia berharap ke depan masyarakat Gerem bisa menjadi contoh bagi kelurahan lain dalam membangun kesiapsiagaan bencana.
“Dengan adanya EWS, kami ingin Gerem benar-benar tangguh, masyarakatnya sigap, dan tidak panik ketika menghadapi situasi darurat. Karena bencana bisa datang kapan saja, yang terpenting adalah kita siap dan mampu menyelamatkan diri,” tegasnya.


Komentar Via Facebook :