Padepokan Maung Kulon Gelar Milad ke-2 dan Ritual Keceran Tjimande

Padepokan Maung Kulon Gelar Milad ke-2 dan Ritual Keceran Tjimande

CYBER88 | CILEGON – Padepokan Pencak Silat Tjimande Maung Kulon menggelar peringatan milad ke-2 sekaligus ritual keceran Tjimande pada Sabtu (20/9/2025) di Kecamatan Purwakarta.

Acara ini dihadiri para tokoh perguruan yang tergabung dalam keluarga besar PPSI Kota Cilegon serta Bojonegara, dengan menampilkan berbagai aliran seperti Bandrong, Tjimande, dan Terumbu.

Ketua Padepokan Pencak Silat Tjimande Maung Kulon, Sudirman, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan bagian dari upaya pelestarian budaya.

“Tjimande bukan hanya silat, tapi warisan leluhur yang harus kita jaga. Generasi muda perlu terus didorong agar tidak melupakan akar budaya,” ujarnya.

Tokoh Tjimande Kota Cilegon, Muhlisin, menambahkan bahwa ritual keceran merupakan kewajiban tahunan bagi pesilat Tjimande, meskipun berasal dari perguruan berbeda. Selain itu, terdapat juga ritual urutan yang menjadi ciri khas aliran Tjimande dan digelar rutin setiap bulan Maulid.

Perguruan Pencak Silat Tjimande sendiri memiliki tiga jurus utama, yakni Jurus Tepak Selancar, Jurus Kelit, dan Jurus Pepedangan yang menggunakan senjata tradisional seperti golok atau tongkat.

Seiring berjalannya acara, berbagai pentas budaya ditampilkan, mulai dari jurus-jurus Tjimande, Bandrong, dan Terumbu, hingga atraksi debus Banten. Alunan gendang pencak semakin memeriahkan suasana malam, didukung penuh oleh para tokoh dan pesilat yang hadir.

Muhlisin juga berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah.“Dengan dukungan Pemerintah Kota Cilegon maupun Provinsi Banten, pelestarian budaya Tjimande akan lebih kuat dan terus berkembang,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Umum DPD PPSI Kota Cilegon, Rachmat AS, menyampaikan apresiasi sekaligus ucapan selamat milad ke-2 kepada keluarga besar Padepokan Pencak Silat Tjimande Maung Kulon. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa setiap padepokan pencak silat, apapun alirannya, harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

“Padepokan silat harus menjadi wadah pendidikan akidah, akhlak, serta pembelajaran ibadah sholat dan membaca Al-Qur’an bagi generasi muda, sesuai amanat para guru yang telah mendahului kita,” ujar Rachmat.

Rachmat juga menjelaskan bahwa PPSI di Kota Cilegon sejatinya bukan hal baru. Organisasi ini sudah hadir sejak 1960-an, lalu bangkit kembali pada 2021 dengan terbentuknya kepengurusan tingkat kota dan kecamatan.

PPSI (Persatuan Pencak Silat Indonesia) bukan aliran perguruan, melainkan wadah organisasi nasional yang bergerak di bidang budaya persilatan tradisional. Didirikan pada 17 Agustus 1958 oleh para pendekar, jawara, dan jenderal TNI-Polri, PPSI berfungsi menyatukan seluruh pelestari silat.

“PPSI bukanlah tandingan dari organisasi silat manapun. Justru sebaliknya, PPSI siap mempersatukan para pecinta, pelestari, dan pelaku budaya persilatan. Dengan persatuan, in shaa Allah kita bisa bersama-sama membangun dan membesarkan Kota Cilegon, salah satunya melalui budaya,” pungkasnya.

Menutup sambutannya, Rachmat AS berpesan agar silaturahmi antar-padepokan terus dijaga. Menurutnya, hubungan baik antarperguruan merupakan cerminan kecintaan bersama terhadap budaya persilatan yang menjadi marwah dan identitas bangsa.

Salam PPSI
Salam Kebersamaan
Salam DIG JAYA

 

Komentar Via Facebook :