Sambut 1 Suro, Trah Kerajaan Pajang Gelar Tradisi Ganti Songsong di Petilasan Joko Tingkir
CYBER88 | SUKOHARJO – Menjelang datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro, Trah Kerajaan Pajang kembali menggelar tradisi sakral ganti songsong di Petilasan Kasultanan Pajang, Dukuh Benowo II, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (11/6/2026) malam.
Suasana penuh khidmat mewarnai prosesi penggantian songsong atau payung kebesaran yang menaungi petilasan Raja Pajang, Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Tradisi yang berlangsung pada malam Jumat Kliwon tersebut dipimpin langsung oleh Raden Bambang Sridaya selaku perwakilan Trah Kerajaan Pajang dan dihadiri para tokoh budaya, pegiat sejarah, serta masyarakat umum.
Tradisi ganti songsong menjadi bagian penting dalam rangkaian penyambutan 1 Suro yang selama ini identik dengan berbagai kegiatan budaya, doa bersama, serta refleksi spiritual masyarakat Pajang.
Raden Bambang Sridaya menjelaskan, pada tahun-tahun sebelumnya peringatan 1 Suro biasanya diawali dengan kirab budaya yang berlangsung meriah. Namun tahun ini, rangkaian kegiatan dipusatkan pada prosesi ganti songsong, doa bersama, dzikir, dan tahlil yang dilaksanakan di kawasan petilasan.
“Biasanya ada kirab budaya, namun tahun ini tidak dilaksanakan. Meski demikian, makna spiritual dan doa-doa yang dipanjatkan tetap menjadi inti dari peringatan menyambut 1 Suro,” ujarnya.
Menurutnya, songsong atau payung kebesaran bukan sekadar perlengkapan adat, melainkan simbol penghormatan kepada leluhur serta lambang perlindungan, pengayoman, dan harapan akan keselamatan bagi masyarakat.
Kasultanan Pajang sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan kerajaan Islam di Pulau Jawa. Berdiri pada abad ke-16 setelah berakhirnya Kesultanan Demak, Pajang dipimpin oleh Joko Tingkir yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya. Dari kerajaan inilah lahir berbagai dinamika politik dan kebudayaan yang turut memengaruhi perkembangan Kerajaan Mataram Islam di masa berikutnya.
Hingga kini, Petilasan Kasultanan Pajang di Makamhaji masih menjadi salah satu pusat kegiatan budaya dan spiritual yang memiliki nilai sejarah tinggi. Setiap memasuki bulan Suro, lokasi tersebut ramai dikunjungi peziarah dan masyarakat yang ingin mengikuti berbagai tradisi warisan leluhur.
Sekitar 150 orang mengikuti prosesi ganti songsong tahun ini. Selain keluarga besar Trah Kerajaan Pajang, kegiatan juga dihadiri tokoh masyarakat, pegiat budaya, dan warga sekitar yang bersama-sama memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan.
Melalui tradisi tersebut, masyarakat berharap datangnya Tahun Baru Jawa membawa ketenteraman, keberkahan, serta keselamatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Doa juga dipanjatkan agar bangsa Indonesia senantiasa berada dalam suasana damai, aman, dan terjaga persatuannya.
Bagi masyarakat Pajang, tradisi ganti songsong bukan hanya seremoni budaya, tetapi juga menjadi pengingat akan warisan sejarah Kasultanan Pajang yang terus dirawat dan dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya Jawa.


Komentar Via Facebook :