Diduga Keteledoran Perawat Puskesmas Kawunganten Merengut Nyawa Sorang Bayi
(Ibu Bayi dan Mertua Korban)
CYBER88 l Cilacap -- Dugaan adanya keteledoran perawat diPuskesmas Kawunganten yang mengakibatkan hilangnya nyawa sorang bayi, mendapat respon dari dr Pramesti Griana Dewi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap. Dokter ini memberi apresiasi atas aduan dan keluhan masyarakat.
Pramesti mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan investigasi ke lapangan untuk mencari fakta terkait kejadian tersebut. Di lapangan memang tim investigasi banyak mendengar aduan masyarakat tentang adanya kesalahan dalam penanganan,”
"Kami sudah bentuk tim investigasi dan sudah melakukan pembinaan kepada seluruh bidan. Sementara, bidan yang bertugas di Puskemas Kawunganten saat kejadian, sedang dibina di Dinas Kesehatan Cilacap," ujarnya kepada Media Cyber88.co.id, Rabu (30/9/2020).
Pembinaan yang dimaksud, lanjut Pramesti, berupa pengalihtugasan dari puskesmas ke Dinas Kesehatan Cilacap.
Investigasi dilakukan tidak hanya meminta keterangan dari petugas medis Puskesmas Kawunganten tetapi juga pihak keluarga, supaya keterangan yang diperoleh lebih valid.
Ditemui di rumah kediamannya, Ibu korban, Roliah (50) berharap adanya pembenahan dalam cara kerja untuk lebih baik.
“Jangan menganggap hal sepele kejadian ini. Jangan mentang-mentang orang kecil di abaikan Ini urusannya dengan nyawa, “Ujarnya.
Menurut Roliah Lahiran di rumah engga boleh harus di puskesmas, sudah sampai di puskesmas ko malah dibiarkan,” Cetusnya.
Selama kejadian saya engga lapor ke mana – mana, lalu saya mengeluh kepada anak saya lalu anak saya Listi, bikin setatus di Facebook dan setelah itu viral,” Kata Roliah
Dari DPR, dari dinas kesehatan Cilacap, Koramil Kawunganten, Puskesmas, Camat datang ke rumah kami untuk minta maaf dan minta kekeluargaan. Kamipun sudah memaafkan. Namun saat minta tanda tangan pihak keluarga tidak mau,” lanjutnya.
Lebih lanjut roliah menuturkan, pada saat lahiran, ia datang pukul 09:00 wib dan bayi lahir kurang lebih antara pukul 9:30 wib. Namun, sekitar pukul 12:00 wib, bayi mulai sesak. Lalu Saya menemui bidan Ani dan melaporkan bahwa bayi keluar lendirnya. Bidan Ani hanya menjawab, "Bayi ya kaya gitu",.
Yang kami Sayangkan, saat bayi dalam kondisi seperti itu sama sekali tidak ada tindakan medis dari bidan itu. Sementara saya makin khawatir dengan kondisi bayi yang terus mengeluarkan lender. Saya hanya bias mengusap lender yang keluar, sampai nafasnya aga membaik,”
Sekitar pukul 14,30 wib napas bayi sesak lagi. Sayapun laporan lagi ke bidan. Namun jawabnya sungguh sangat tidak mengenakan hati "kaya engga pernah punya anak aja".Jawab Bidan Ani.
Pada pukul 16:00 wib saya laporan lagi, karena engga tega lalu dibuka guritanya kembung- kempes napasnya sesak. Sayapun memanggil bidan Anes. Kata bidan Anes, kaya gini ko bilang aman engga apa-apa,”
Lalu bayi saya di bawa ke ruang perawatan untuk di oksigen dan dikasih minyak kayu putih. Intinya ada tindakan perawatan dari bidan Anes. Itupun dilakukan setelah bidan Ani pergi.
Oleh bidan Anes dan bidan Irnawati bayi dirawat setelah Jam 16:00 wib kami menunggu ambulan tapi sayang supirnya engga ada.
Setelah satu Jam menunggu, sekitar jam 17:00 wib baru ada rujukan dari RSI
Jam 18:30 Wib sampai dirumah Sakit RSI bayi sudah keadaan kritis dan sudah tidak ada renspon.
Disana ada perawatan RSI bilang, lain kali kalau ada rujukan dari puskesmas Kawunganten harus jeli harus hati-hati, sebab engga satu dua kali antara laporan itu tidak sama dengan kenyataan.
Dari pihak Puskesmas membuat laporan jika bayi tidak langsung menangis saat dilahirkan dan rujukan ke RSI mengatakan jika laporan Puskesmas tidak sesuai dengan kenyataan.
Pihaknya memaklumi apabila alat di Puskesmas kurang lengkap, akan tetapi seharusnya Puskesmas memberikan laporan sesuai dengan kenyataan.
Dimana bayi terlihat tidak normal maka disampaikan tidak normal dan pihaknya juga menyayangkan sikap dari bidan yang kurang peduli terhadap pasienya dan efeknya menjadi duka, karena bayi tidak bisa diselamatkan dan meninggal dunia,” katanya. (Purwanti)


Komentar Via Facebook :