Gerakan Naional Penyelamatan Mangrove Timur Sumatera Bersama Akademis dan Media Deklarasi Selamatkan Pulau Terancam Tenggelam

Gerakan Naional Penyelamatan Mangrove Timur Sumatera Bersama Akademis dan Media Deklarasi Selamatkan Pulau Terancam Tenggelam

CYBER88 | SELATPANJANG -- Pemerintah Jangan diam saja dan segera atasi dan tanggulangi abrasi di Pulau terluar yang ada di Riau, karean bisa hilang tenggelam akibat abrasi.

Dampak Akibat abrasi bisa menyebabkan bergesernya garis pantai dan apabila kondisi tersebut dibiarkan maka dipastikan mempengaruhi geopolitik Indonesia. 

Hal ini terungkap pada pertemuan Gerakan Nasional Penyelamatan Mangrove Pesisir Timur Sumatera (GN Lamantera) bersama tiga pihak yakni Akademisi, pengusaha, dan media di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau, Minggu (29/2020), 

Dalam pertemuan itu terlihat hadir, Ketua Umum Gerakan Nasional Penyelamatan Mangrove Pesisir Timur Sumatera (GN Lamantera) Mashuri Kurniawan, Akademisi Riau Profesor Dr Ashaluddin Jalil MS, praktisi media yang juga Sekretaris Umum DPP Aliansi Pewarta Pertanian Indonesia (APPI) Satria Utama Batubara, dan Pelaku Usaha Alexander Pranoto.

Ketua Umum Gerakan Nasional Penyelamatan Mangrove Pesisir Timur Sumatera (GN Lamantera) Mashuri Kurniawan mengatakan, mulai dari pemerintah daerah hingga pusat, harus bergerak cepat.

Pasalnya, kondisi ini terlihat tidak tertangani maksimal dan bila terus kondisinya dibiarkan terus menerus seperti sekarang dapat berakibat fatal sekali sehingga diyakini tiga pulau terluar di provinsi Riau yang menjadi bagian dari NKRI akan "lenyap dan tenggelam" dalam kurun waktu tidak begitu lama.

Masih menurut Mashuri, pemerintah terlihat masih setengah hati menanggulangi abrasi pulau-pulau di Riau, "Janganlah setengah hati dalam penanganan masalah abrasi tersebut, terenyuh saya melihat kondisi abrasi di Riau ini," jelas dia kepada media, Senin (30/11/2020)

Mashuri mengajak seluruh elemen masyarakat bersama masyarakat lokal bisa mehyelesaikan persoalan ini, karena persoalan abrasi bukan saja tanggung-jawab daerah, pemerintah pusat mulai DPR RI dan Kementerian namun kita semua bertanggungjawab mengatasi persoalan abrasi ini. 

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk peduli teehadap lingkungan, terutama mengenai abrasi. Kami membutuhkan dukungan pemerintah pusat,” ujarnya.

Akademisi Riau Profesor Dr Ashaluddin Jalil MS sepakat melakukan penyelamatan lingkungan, khususnya
daerah yang terancam hilang yakni Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, serta Pulau Rangsang di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Persoalan ini kata Jalil, bukan lagi sebatas urusan daerah, namun sudah seharusnya menjadi perhatian nasional, terlebih lagi sudah menyangkut kedaulatan dan keamanan negara. 

"Saya sepakad untuk bergerak cepat melakukan penanaman bakau atau mangrove dibibir pantai, sebab pulau-pulau tersebut berada terdepan Indonesia yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka-Malaysia," pungkasnya.

Disampaikan, bersama Gerakan Nasional Penyelamatan Mangrove Pesisir Timur Sumatera (GN Lamantera), pelaku usaha, media, dan seluruh elemen masyarakat, ingin sekali mencegah bertambah parahnya abrasi tersebut.

Kawasan timur sumatera harus mendalatkan perhatian serius, karena wilayah Meranti dan Bengkalis, Rupat terancam tenggelam, ini berdasarkan hasil kajian Akademisi peneliti Jepang. 

"Dalam hal penyelamatan pulau terluar Indonesia ini, diperlukan langkah penyelamatan sedini mungkin, agar terhindar dari bencana dan kehancuran lebih dahsyat,"ujar dia.

Langkah-langkah yang harus di terapkan dan dilakukan sebut mantan Rektor Unri ini adalah :

Pertama, berjalan srentak proses edukasi dan penanaman kembali bakau atau mangrove. Tidak saja untuk mencegah abrasi dan memberikan kehidupan bagi masyarakat tempatan.
Kedua, peran nyata para pihak atau steakholder, tidak hanya sebatas merencanakan. Tapi harus aksi.
Ketiga, prosea revegetasi atau proses penanaman kembali. Harus berlanjut terus. 
Keempat, memberikan edukasi masyarakat usia dini agar memahami lingkunhannya secara baik. Dimulai dari rumah.
Kelima, pemerintah mulai dari pusat hingga daerah dalam memberikan dan menyesuaikan dari potensi yang ada dalam daerah.

"Kehidupan masyarakat harus dijamin. Menciptakan kelompok masyarakat yang memang peduli lingkungan, serta memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat," ungkapnya.

Praktisi Media, Satria Utama Batubara menambahkan kalau saat ini kondisi tiga pulau tersebut mengalami abrasi yang cukup tinggi sehingga dapat mempengaruhi mundurnya garis pantai terluar Provinsi Riau. 

"Dari kacamata saya sebagai media, pemulihan kawasan melalui teknologi rehabilitasi, pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, sudah seharusnya segera mungkin dilaksanakan untuk mencegah abrasi itu," jelasnya. (wan/red)

Komentar Via Facebook :