Penanaman Jahe Merah oleh Kelompok Tani Milenial Karya Muda Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja
(Kelompok Tani Milenial Karya Muda Dusun Gununggeulis Desa Tambaksari Wanareja)
CYBER88 | Cilacap - Jahe merupakan salah satu golongan rimpang yang memiliki banyak khasiat. Tanaman ini telah lama dikenal sebagai salah satu penyedap masakan atau minuman. Jahe juga dapat dijadikan sebagai bahan obat herbal dan campuran dalam masakan. Sabtu. (27/3/2021).
(Lokasi Penanaman di Blok Cirayudan)
Dewasa ini pengembangan jahe sebagai komoditas rimpang digalakkan kembali oleh pemerintah. Salah satu lokasi pengembangannya ada di dusun Gununggeulis desa Tambaksari Cilacap, Jawa Tengah.
Kepala Desa Tambaksari Eko Widiyanto S.Pd. mengatakan, “Dusun Gununggeulis Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap ini sangat potensial dikembangkan menjadi sentra pengembangan jahe, mengingat agroklimat yang mendukung dalam pengembangannya."
(Waskim Ketua Kelompok Tani Milenial Karya Muda).
Jenis tanah di desa Tambaksari Kecamatan Wanareja dominan aluvial terutama aluvial kelabu dan tanah jenis latosol juga terdapat di beberapa dusun di Desa Tambaksari Kecamatan Wanareja Kabupaten Cilacap terutama di daerah pegunungan antara lain di dusun Tambleg, dusun Tambaksari, dusun Pakembaran dan dusun Kubang. Sangat memungkingkan untuk lokasi tumbuh kembang tanaman jahe, khususnya jahe merah.
Berdasarkan info dari data statistik pertanian dalam 5 tahun terakhir yakni 2014 - 2018, rata - rata jumlah penanaman jahe 213.720 m2. Sentra pertanaman terdapat di Kecamatan Wanareja (120.000 m2), Kroya (26.000 m2), Jeruklegi (19.700 m2), Karangpucung (18.575 m2), Patimuan (5.900 m2), Majenang (5.800 m2), Dayeuhluhur (4.714 m2) dan Nusawungu (4.544 m2).
Sedangkan rata - rata total produksi sebanyak 472.403 tangkai termasuk Kecamatan Wanareja (302.250 tangkai), Karangpucung (42.804 tangkai), Kroya (39.340 tangkai), Jeruklegi (33.701 tangkai), Majenang (13.560 tangkai), Nusawungu (11.159 tangkai) dan Patimuan (6.580 tangkai).
Waktu panen utama biasanya dilakukan pada triwulan IV dengan kondisi tanaman sebagian habis dibongkar. Sebagian besar sentra pertanaman dan produksi jahe ada di daerah pegunungan. Sedangkan untuk Kroya dan Nusawungu terdapat di dataran rendah.
Penanaman jahe dilaksanakan di blok Cirayudan dusun Gununggeulis sejumlah 9400 pohon dilakukan secara swadaya oleh masyarakat dan kelompok tani yang dipimpin oleh Kepala dusun Gununggeulis Cahyadi serta investor yang ikut berkolaborasi dengan Kelonpok Tani Milenial Karya Muda, Serta penanaman di bantu oleh Kelompok Wanita Tani " Cahaya Cibinuang " secara tumpang sari.
Sedangkan di dataran rendah, penanaman jahe di lahan tegalan seluruhnya milik masyarakat. Penanaman lainnya melalui PKK kabupaten dengan melibatkan kelompok wanita tani atau ibu - ibu PKK desa Tambaksari melalui Program Berlian PKK yang di dalamnya ada kegiatan TOGA.
Dalam kurun waktu beberapa tahun, pengembangan jahe sudah dilakukan oleh Pemerintah desa Tambaksari Kecamatan Wanareja, meskipun tidak setiap tahun dialokasikan anggarannya.
(Kadus Gununggeulis Cahyadi)
Menurut Cahyadi Kadus Gununggeulis mengatakan "Karena pemeliharaan kurang intensif, budidaya teknologi masih kurang dikuasai dan petani biasanya membongkar habis tanaman yang dibudidayakan, tidak menyisakan sebagian rimpangnya atau uang penjualannya untuk penyediaan bibit kembali". ujar Kadus.
Menurut Kades Tambaksari Eko Widiyanto "Lokasi pengembangan jahe terletak di dusun Gununggeulis desa Tambaksari kecamatan Wanareja pada Kelompok Milenial Karya Muda yang di pimpin oleh Waskim seluas 250 ubin". ungkap Kades.
“Semoga penanaman benih jahe dan sarana penunjang produksi tersebut, dapat berguna bagi masyarakat dusun Gununggeulis Khususnya fan desa Tambaksari pada umumnya dan mampu menstimulan para Poktan lain, untuk aktif dalam budidaya jahe”, ungkap Kades.
Kades Tambaksari mengatakan "Penanaman dan perbenihan Hortikultura memiliki harapan ke depanya untuk menggiatkan kembali budidaya jahe dengan menstimulasi masyarakat yang melakukan kunyit, temulawak, temugiring, lengkuas, dan rimpang lain yang berkhasiat obat.
"Masih sangat besar untuk mengembangkannya aneka rimpang, agar desa Tambaksari memiliki simplisia (bahan baku) obat herbal, yang diperoleh dari dalam negeri sendiri," tutur Kades. (IYAN GUGEL).


Komentar Via Facebook :