Hanya Buruh Serabutan, Rijal Berharap Rumahnya Tersentuh Program RTLH

Hanya Buruh Serabutan, Rijal Berharap Rumahnya Tersentuh Program RTLH

CYBER88 | Bogor -- Kesejahteraan memang bukan hal mudah untuk diratakan bagi seluruh warga negara. Meski begitu, kesejahteraan rakyat menjadi tolak ukur indikator maju-tidaknya sebuah daerah ataupun negara.

Kurangnya kesejahteraan bagi masyarakat ekonomi kecil atau biasa kita sebut masyarakat miskin menjadi sorotan pemerintah, yang salah satunya berupa hunian atau rumah. Jelas saja, bentuk fisik rumah menjadi acuan kesejahteraan ekonomi seseorang.

Wajar, rumah menjadi tempat sehari-hari dimana seseorang tinggal dan berlindung juga bertahan hidup. Sebelum membeli kebutuhan sekunder, tempat tinggal menjadi hal utama yang perlu ditingkatkan kenyamanannya.

Sehat-tidaknya seseorang juga berasal dari kondisi tempat tinggalnya. Masyarakat miskin pun memerlukan rumah yang layak dan nyaman. Hal ini membawa implikasi pada kebijakan sosial melalui Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni (RTLH/Rutilahu) yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial.

Berbagai program kemiskinan telah dibuat serta dilaksanakan sesuai dengan anggaran yang telah dialokasikan, baik dari pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat.

Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia No. 07/PRT/M/2018 tentang Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya, RTLH adalah rumah yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan bangunan, kecukupan minimum luas bangunan, dan kesehatan penghuni.

Namun sayangnya, program tersebut belum dapat dirasakan secara merata karena beberapa faktor. Salah satunya yang kami temui adalah Rijal. Warga Kampung Citugu RT 05 RW 11, Desa Tugujaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (6/5/21) tadi.

Rijal hanyalah buruh serabutan yang berpenghasilan tak menentu dan tak selalu cukup untuk kesehariannya. Renovasi rumah, baginya menjadi hal yang hampir mustahil. Hanya bantuan pemerintahlah yang ia harapkan untuk membantu keadaannya saat ini.

Kebutuhan "sandang" memang ia hiraukan meski seadanya. "Pangan" pun harus ia tak bisa bergantung dari pekerjaannya yang tak pasti. "Papan" apalagi? Bisa berteduh pun ia sudah sangat bersyukur.

Belum pernah sedikitpun dirinya tersentuh program RTLH. Padahal, rumah adalah penunjangnya dalam kehidupan sehari-hari. Ia hanya berharap pemerintah tak sampai enggan untuk memprioritaskan programnya bagi masyarakat tidak mampu. [AW]

Komentar Via Facebook :