Dianggap berseberangan oleh Ketua DPP PDI-P Jawa Tengah, Puan Maharani, Ganjar Tak Diundang Acara
Di Balik Tidak Diundangnya Ganjar Pranowo oleh PDI-P, Anton Charliyan Menanggapi
CYBER88 | Tasikmalaya -- Dalam sepekan ini, nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mencuat ke permukaan gara-gara tidak diundang pada acara penguatan soliditas kader di Kantor DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Jawa Tengah, Sabtu (23/5/2021).
Bukan tanpa alasan, tidak diundangnya Ganjar dalam acara pengarahan partai oleh Ketua DPP PDIP, Puan Maharani, ini karena Ganjar dianggap berseberangan dengan PDI-P perihal langkah pencapresan di 2024.
Buntut perbedaan pendapat itu, Ganjar tak diundang dalam acara yang sekaligus rangkaian HUT PDIP Ke-48 tahun di Panti Marhaen Kota Semarang. Akibat ketidakhadiran Ganjar Pranowo, menimbulkan tanda tanya besar dan pro/kontra terutama di media sosial.
Ketika melihat “suasana panas” di tubuh PDI-P tersebut, ada apa Sesungguhnya dengan PDI-Perjuangan ini?
Awak media mencoba menghubungi mantan Kapolda Jabar, Irjen. Pol. (Purn.) DR. H. Anton Charliyan, M.P.K.N. yang juga politisi PDI-P sendiri. Pria yang sederhana dan merakyat ini, cuma tersenyum. “Soal gejolak di tubuh partai politik, sebenarnya itu hal biasa. Begitu pun saat Ganjar tidak diundang dalam acara pengarahan partai oleh Puan di Jawa Tengah yang saat ini viral.”
“Kalau menurut hemat saya", imbuh Anton, "Dengan adanya masalah ini, sejujurnya Ganjar Pranowo kini mungkin sedang digodok, ditempa, dan diasah oleh PDI-P agar kelak tegar dan sekuat Joko Widodo dalam menghadapi lawan-lawan politiknya yang menghalalkan segala cara untuk 'berkuasa'."
Selama ini, PDI-P memang termasuk paling unik untuk urusan suksesi. Ketika partai lain sedang kasak-kusuk berkoalisi mencari figur mana yang layak diusung, PDI-P justru malah memecah dukungan sosok yang sudah layak diusung.
"Gesture Politik elite PDIP kepada Ganjar di masa prematur Pilpres yang masih 3 tahun lagi, tidak bisa berbohong, bahwa memang benar ada friksi-friksi saling seruduk di kandang Banteng," tanggap Anton.
lanjut Anton, “Kalau pernyataan Ketua DPD PDIP Jawa Tengah dianalogikan permainan "playing victim" demi mengangkat sosok Ganjar Pranowo, itu harus dikaji lebih jauh lagi. Sepertinya agak kaya kurang Pas. Ganjar yang elektabilitasnya sudah tinggi tidak perlu ditinggikan lagi oleh sebuah pernyataan anomali.”
Menurutnya, Ganjar Pranowo memiliki banyak prasyarat untuk menjadi Capres 2024. Bahkan, banyak yang menilai Gubernur Jawa Tengah ini reinkarnasi dari Proklamator Bung Karno dan Presiden Jokowi.
"Ganjar ditempa dengan pengalaman politik panjang. Dia juga tokoh dengan ide dan gagasan kebhinnekaan yang sangat nasionalis," sebutnya.
Anton menilai, seperti halnya Bung Karno, Ganjar dekat dengan "wong cilik" dan fokus memikirkan pembangunan kualitas manusia. Ganjar juga matang di birokrasi seperti Jokowi. "Beliau tahu betul mengurusi rakyat dan bagaimana menyelesaikan persoalan itu. Karena itu, sewajarnya popularitas Ganjar meroket tajam dan itu bukan desain politik apalagi via pencitraan,” paparnya.
Hiburan politik dari PDI-P menarik untuk disimak, meski pada sisi lain menjadi bahan tertawaan lawan politiknya. Warganet tidak menolak PDI-P, apalagi memusuhi Puan, tapi gegara Bambang Pacul "memaksa", masyarakat semakin mantap mendukung Ganjar.
"Saya masih yakin PDI-P akan memberikan restu ke Ganjar. Karena Pilpres masih panjang. Ganjar memiliki kualitas yang mumpuni untuk bisa maju di Pilpres 2024, terlebih mencalonkan diri menjadi Presiden. Segudang pengalaman yang dimiliki Ganjar bisa menjadi bekal nantinya untuk bisa bertarung. Beliau tahu betul mengurusi rakyat dan bagaimana menyelesaikan persoalan itu," pungkasnya.


Komentar Via Facebook :