PD Tuah Sekata Pelalawan Kembangkan Sayap Bisnis Beras Penyalai
CYBER88 | Pelalawan - Perusahaan Daerah Tuah Sekata BUMD kabupaten Pelalawan Riau, kini tengah mengembangkan sayapnya dalam bisnis pemasaran Beras Penyalai. Hal ini diupayakan, mengingat selama ini operasional pengelolaan BUMD berpatok terhadap bisnis penerangan listrik saja. Rabu, (02/0621).
"Salah satu tujuan kita bagaimana beras Penyalai kedepannya agar bisa dipasarkan secara baik dan mendapatkan keuntungan bagi petani dan keuntungan PAD bagi daerah Kabupaten Pelalawan, kami berharap pengelolaan beras ini dapat berjalan dan tentunya beras Kuala Kampar mempunyai Brand kwalitas sendiri," ungkap Dirut BUMD PD tuah Sekata Tengku E. Putra, dalam suatu acara pertemuan dengan para warga petani beras dan sejumlah perangkat kecamatan serta kades.
Menurut dia, Kabupaten Pelalawan khususnya kecamatan Kuala Kampar merupakan swasembada beras, sehingga harapannya selain upaya meningkatkan PAD Kabupaten Pelalawan, juga bisa meningkatkan income petani dari penjualan beras Penyalai. Mengingat potensi lahan saat ini lebih kurang 9000 hektar dan yang berjalan maksimal lebih-kurang 6000 hektar.
Dijelaskan lagi, kalau diratakan satu hektar lebih kurang 3 ton dan jika dikalikan dengan 6300 hektar, ini luar biasa potensi beras Penyalai. Tengku Putra yang belum lama menjabat di BUMD mengharapkan agar pengelolaan bisnis beras dapat dikelola secara profesional.
Dalam hal ini Dirut BUMD berjanji akan membantu petani beras, baik dalam pemasaran maupun permodalan, dalam pengembangan bisnis perdana oleh BUMD Pelalawan.
Dalam kesempatan itu, Kepala Desa Teluk Beringin Hamdani mengharapkan
perhatian serius BUMD PD Tuah Sekata dan Pemda Kabupaten Pelalawan.
Dijelaskan, bahwa persoalan yang terjadi ada beberapa faktor salah satunya modal awal, karena masyarakat banyak melakukan pinjaman kepihak luar sehingga beras ketika panen mereka yang mendapatkannya dan kemudian ketika panen kendalanya dalam penjualan harganya sudah rendah dan modal pun tak kembali.
"Jika petani menjual hasil panennya ke gudang belum bisa dapat uang harus menunggu beras laku terjual, baru dapat uang, itulah salah satu kendalanya," jelas Kades Hamdani.
Sarkawi Ketua Bumdes Sei Upih mengeluhkan kalau musim panen harga beras langsung anjlok diharga 6000 dan ini sangat merugikan petani.
"Kami, mau tidak mau harus menjual hasil panen dan itu kami lakukan kepada Kabupaten tetangga, dalam hal ini Propinsi Kepri," ujar Sarkawi. Hal serupa juga dialami sejumlah pengurus Bumdes lainnya seperti dari Teluk Bakau.**


Komentar Via Facebook :