Mayjen TNI Purn Tatang Zainuddin Desak Kapolri Tindak Tegas Premanisme

Mayjen TNI Purn Tatang Zainuddin Desak Kapolri Tindak Tegas Premanisme

CYBER88.CO.ID -- Tersiarnya kabar pelaku tindakan kriminal dan persekusi, serta penghinaan terhadap profesi wartawan di Majalengka yang kini menjadi tahanan kota, mengundang sikap tegas dari Mayjen TNI (Purn.) Tatang Zaenudin.

Tatang yang merupakan pensiunan jenderal bintang dua ini ternyata merupakan sosok yang dekat dengan dunia wartawan. Ia pun angkat bicara terkait penanganan kasus kriminalisasi oleh penyidik Polres Majalengka yang dinilai kurang profesional. Pasalnya, menurut Tatang, kasus delik aduan itu dinyatakan hanya tahanan kota.

Terkait hal itu, Tatang Zaenudin yang juga sebagai Dewan Pembina Forum Wartawan Jakarta (FWJ) Indonesia mendesak Kapolri untuk melakukan pembersihan terhadap para premanisme, sesuai dengan janjinya tak pandang bulu.

“Catat ini ya, jika Kapolri tak bisa memberantas premanisme yang berlindung pada ormas, maka kami yang akan turun,” kata dia.

Menurut dia, Kapolres Majalengka juga tidak dibenarkan membebaskan pelaku dengan tahanan kota. Karena tindakan yang dilakukan pelaku itu jelas tindakan pidana murni dan memiliki delik aduan.

“Semua yang terlibat melakukan persekusi, penghinaan, pelecehan profesi, dan tindak kekerasan di video itu, bahkan oknum Kadesnya juga mesti dikenakan pidana. Seret semua orang itu!” tandas pria yang pernah  menjabat sebagai Deputi Basarnas itu melalui pernyataan tertulis yang diterima Cyber88.co.id, Sabtu (3/7).  

Seperti diberitakan sebelumnya, insiden yang menimpa Soleman, jurnalis Fokus Berita Indonesia (FBI), terjadi di Kantor Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Senin (28/6) pekan lalu.

Soleman mendapatkan perlakuan kekerasan oleh oknum anggota Ormas. Wajah Soleman dipukul di depan sejumlah orang, termasuk salah satunya merupakan Kepala Desa Desa Mekarwangi.

Informasi yang berhasil dihimpun, Soleman menyebut kedatangannya bersama rekannya Warya Ayotondoan dari Metro Jabar pada Hari Sabtu 26 Juni 2021, untuk mengkonfirmasi adanya dugaan pembiaran terhadap bendera Sang Saka Merah Putih di halaman Kantor Desa Mekarwangi yang dalam keadaan lusuh, kusam, dan robek.

Namun saat itu, Kadesnya tidak ada dan kedua wartawan tersebut disarankan datang kembali pada hari Seninnya (28/6).

Nahas bagi keduanya. Konfirmasi sebagai hak jawab dari seorang Kades tidak didapat, malah bogem mentah berupa tonjokan keras dari salah satu oknum ormas mendarat di wajah Soleman yang mengakibatkan luka dan berdarah pada tulang hidungnya.

Insiden tersebut, terekam dalam video yang seketika viral. Dalam video tersebut, diperkirakan sekitar lebih dari 10 oknum anggota ormas ikut mempersekusi, menghina, dan melecehkan profesi jurnalis dengan sebutan Semua Wartawan “Anjing” hingga terjadi kriminalisasi.

Bahkan kejadian yang memalukan itu terjadi di hadapan seorang anggota TNI Angkatan Darat (AD) berseragam yang coba melerai dan tidak dihargai oleh sekelompok oknum ormas tersebut.

Soleman, wartawan yang kena bogem mentah dari salah satu oknum anggota ormas tersebut mengaku seorang purnawirawan TNI AD.

Pimpinan Media FBI, Mujianto membenarkan pengakuan Soleman sebagai purnawirawan TNI AD. Kata dia, Soleman telah banyak memberikan edukasi dan kontribusi tulisan untuk memberikan sumbangsih pencerahan dan pengabdian tulus pasca dirinya pensiun dari militer.

“Sejak aktif di militer, memang sangat bersahabat dengan kami para jurnalis, bahkan sering mengirimkan tulisan dan karya-karyanya yang sangat membangun.

Soleman memang pernah mengatakan akan mengabdikan dirinya setelah pensiun nanti menjadi wartawan. “Alhamdulillah beberapa kali mengikuti diklat jurnalis,” kata Mujianto dalam keterangan tertulisnya yang diterima Cyber88.co.id, Sabtu (3/7).

Terkait adanya kabar terbaru Polres Majalengka bahwa pelaku telah dibebaskan menjadi tahanan kota, Mujianto mengatakan akan kembali melakukan laporan ke Propam dan Paminal Polda Jabar soal kinerja penyidik Polres Majalengka.

Dia juga akan membuat laporan ulang terkait adanya persekusi, penghinaan, pelecehan profesi wartawan, dan kriminalisasi hingga terjadi pemukulan terhadap Soleman.

Mujianto mengatakan, ada dugaan kuat keterlibatan oknum Kades Mekarwangi. Dia menduga otak dari insiden tersebut adalah oknum kades bersama Sekdes Mekarwangi Lemahsugih dengan menyebarkan informasi bohong soal adanya permintaan sejumlah uang dari wartawan yang sedang menjalankan profesi hak jawab soal adanya pembiaran bendera merah putih yang lusuh, kusam, dan robek di halaman kantor Desa Mekarwangi.

“Saya bersama advokat dari tabloid Fokus Berita Indonesia dan sejumlah rekan-rekan wartawan lainnya akan melaporkan semua yang terlibat dalam insiden tersebut ke Polda Jabar dan Gubernur Jabar,” tegasnya. [*]

Komentar Via Facebook :