Kerusakan Ekosistem Kehidupan Jurnalis
Gambar ilustrasi
CYBER88 – Untuk menjadi jurnalis saat sekarang ini memang tidak sesulit seperti pada zaman berkibarnya industri pers media cetak – dimana proses seleksinya sangat ketat dan kompetitif serta menguji wawasan sang calon wartawan di berbagai aspek.
Di era digitalisasi informasi saat ini, dan berkembang-biaknya media online, seseorang yang kesehariannya di kampung halaman cuma mengangon bebek dan berkomunikasi dengan kodok di malam hari, maka ia bisa dan boleh punya mimpi jadi wartawan – "tukang bikin berita dan informasi".
Salahnya dimana? Ya, tidak ada yang salah. Selebihnya, harus punya bakat atau talenta, juga passion serta insting sebagai jurnalis agar bisa tetap bertahan hidup di tengah belantara berita dan peristiwa.
Konstitusi Dasar Negara ini sudah menjamin hak warga negaranya untuk punya mimpi seperti itu, dan tertera jelas pada Pasal 28F: Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Setelah diterima sebagai wartawan pada media online, maka mulailah menulis – karena perusahaan media online sudi menerima seseorang untuk menjadi jurnalisnya dengan catatan bisa membaca dan menulis.
Bukan cuma bisa lapar, makan, kenyang, kemudian ngantuk.
Bisa membaca dan menulis itu adalah syarat mutlak yang paling mendasar bagi seorang wartawan.
Jika ada seseorang yang mengaku-ngaku "wartawan" tetapi dia tidak bisa membaca dan menulis dengan baik dan benar, maka orang itu pantas diragukan asal-usulnya.
Jangan-jangan dia manusia goa yang terselamatkan dari kepunahan?
Mulailah menulis dan tidak perlu repot-repot membaca literatur tentang "Publick Occurences Both Foreignand Domestick" yang digagas oleh Benyamin Harris di tahun 1690 – dimana istilah "Journalism" mulai dikenal.
Benar memang bahwa di media online tidak memberlakukan "deadline" penyetoran berita seperti pada zaman kejayaan media cetak. Tapi tugas wartawan media online pun tetap sama, tidak berubah, yaitu mencari dan menulis berita.
Bukan untuk merebut posisi Redaktur Pelaksananya. Misalnya, dengan cara menghardik rekan sesama wartawan untuk investigasi sebuah peristiwa pemukulan yang dilakukan oleh oknum aparat.
Hidup sebagai jurnalis itu harus punya jutaan kata-kata karena (boleh dibilang) kehidupan seorang wartawan dimulai dari sebuah kata yang kemudian dirangkainya menjadi kalimat yang menarik minat pembaca.
Meskipun mantan Gubernur Illinois Adlai E. Stevenson II sangat tidak setuju dengan pendapat seperti itu dengan berkata, "Jurnalis tidak hidup dengan berkata-kata saja, meski terkadang mereka harus memakannya."
Jika semua jurnalis tidak berkata-kata seperti dikatakan oleh Adlai yang juga adalah mantan Duta Besar PBB itu, dan pilihan lainnya adalah "membebek" (tanpa berkata-kata), maka wartawan cukup membisu saat melakukan wawancara – itulah indikator dimulainya kerusakan ekosistem kehidupan para jurnalis.
Fenomena berikutnya adalah, para jurnalis hanya "membebek" mengikuti sejumlah pesan yang tertera sesuai keinginan pemesannya.


Komentar Via Facebook :