Persiapan Peringatan Hari Bela Negara: Maju Tak Gentar Membela yang Bayar

Persiapan Peringatan Hari Bela Negara: Maju Tak Gentar Membela yang Bayar

Gambar ilustrasi

CYBER88 – Momentum Bela Negara harus diperingati setiap tahun sebagai wujud penghormatan terhadap jasa para pahlawan yang sudah berjuang membela eksistensi negara juga sebagai upaya memupuk semangat Bela Negara.

Tidak gampang menjadi Pahlawan karena dibutuhkan mentalitas pejuang.

Meskipun tidak sama sulitnya seperti menjadi Pahlawan, duduk sebagai Redaktur Pelaksana Cyber88 juga tergolong tidak mudah – dia harus punya mental pejuang dan tahan banting sebelum dia benar-benar membanting dirinya sendiri.

Dan satu hal lagi: tidak boleh males memeriksa dan membaca dokumen penting bahan berita hingga tuntas sebelum jurnalis dan media online-nya terlibat masalah.

Begitu juga dengan pasukan jurnalisnya, setiap wartawan Cyber88 harus paham dan mengerti dengan makna di dalam slogan ‘TRUE FOR TRUST’.

Jika belum paham maka wajib kuliah lagi 16 semester – tanggung kalau cuma 8 semester.

Untuk kepentingan liputan berita investigatif, maka si wartawan harus mampu bergerak lincah dan liar di lapangan – dan itu tidak bisa dilakukan dengan berjalan kaki karena motornya terlanjur dijual sebab sudah jadi barang rongsokan.

Kalau wartawan spesialis investigatif untuk jenis berita straight news report harus jalan kaki mengejar bahan berita, maka saat terjadi kiamat baru bisa jadi itu naskah beritanya.

Apa pasalnya?

Sekonyong-konyong dan secara tiba-tiba beredar secarik kertas yang tidak menarik, penuh coretan, dan tidak memiliki kaidah estetika layaknya surat – lebih cocok digunakan jadi bungkus ikan asin.

Tapi, tunggu dulu......

Jangan cepat menilai sesuatu dari tampilannya yang kusut dan ruwet dulu.....

Surat tanpa estetika itu nyelonong begitu saja lewat salah satu Grup WhatsApp.

Begitu saya periksa isinya, uuuuuuuuuuupst!!!

Saya harus lebih hebat dari anggota polisi yang sanggup menyamar sebagai wartawan selama 14 tahun.

Secarik kertas yang fisiknya menyebalkan tetapi isinya ternyata mampu membangkitkan insting kewartawanan saya.

Isi bagian paling atas tertera: Bahan Rapat Upacara Hari Bela Negara.

Insting sebagai jurnalis langsung bertanya-tanya seperti penyelidik kepolisian: Ada apa dengan negara? Kenapa harus dibela? Apakah karena ada yang mau beli? Apakah ada yang mengancam negara? Apa atau siapa?

Dan serentetan pertanyaan lainnya yang sudah berjubel di dalam kepala.

Usut punya usut ternyata maksudnya adalah: untuk menindaklanjuti hasil koordinasi dengan Kemendagri atas surat Kemenhan No. B/2495/XI/2022 tertanggal 28 November 2022 kepada Kemendagri dan Kemenlu tentang Permohonan Melaksanakan Upacara Hari Bela Negara.

Sedangkan salah satu tujuannya adalah: Menumbuhkembangkan semangat Bela Negara dan mengenang kembali sejarah terjadinya agresi militer Belanda pada tanggal 19 Desember 1948.

Waduuuuuh...!!!

Ini bisa jadi ancaman bagi saya sebagai jurnalis apabila Redpel-nya males baca dokumen hingga tuntas.

Jangan sampai terjadi sebelum Redpel tuntas membaca dokumen berupa secarik kertas yang pantas jadi bungkus ikan asin itu, tapi mulutnya sudah berucap memberi perintah.

"Segera minta konfirmasi dan kepastian dari Kemendagri, Kemenhan, dan Kemenlu atas beredarnya dokumen ini. Jika perlu bikin Tim Investigasi untuk bergerak ke semua Komplek Makam Para Pahlawan – dan semua Tim Wartawan Investigatif masuk ke dalam lobang kuburan untuk bertemu langsung dengan arwah para Pahlawan dan wawancarai kembali terkait dengan peristiwa sejarah agresi militer Belanda pada waktu itu."

Mati gue...

Begitulah celakanya jika punya Redpel yang males baca dokumen hingga tuntas.

Itu bukan cuma membuat keselamatan diri saya sebagai jurnalis terancam, tapi juga mengganggu istirahat panjang para Pahlawan yang sudah lelah berjuang di masa lalu.

Dan tidak pernah ada sejarahnya Tim Wartawan Investigasi harus masuk ke lobang kuburan untuk mewawancarai para arwah.

Padahal, yang mau bikin acara Peringatan Hari Bela Negara – tercatat ada 8 ormas – setiap koordinatornya sudah diminta menyertakan nomor rekeningnya, fotokopi KTP-nya, dan NPWP-nya.

Insting saya sebagai jurnalis sudah dapat melihat indikatornya: permintaan nomor rekening itu pasti tidak untuk tujuan membalas agresi militer Belanda pada tahun 1948.

Uuuuuuuuuuupst...!

Teuing laaaaah...

Komentar Via Facebook :