Ciri-Ciri Jurnalis Progresif-Revolusioner
Ilustrasi
CYBER88 – Pramudya Ananta Toer, tokoh sastrawan terkenal pada masanya, sempat menyinggung soal pers progresif.
"Kepengarangan yang memiliki faal (perbuatan) sosial pada gilirannya harus pula bersambung dengan pers progresif," begitu katanya.
Jujur saya akui, bahwa sebagai jurnalis pemula, saya suka orang-orang yang punya ciri progresif-revolusioner.
Orang-orang yang selalu gelisah melihat ketimpangan-ketimpangan sosial dan menolak tawaran untuk hidup di zona nyaman.
Di dalam dirinya selalu ada pergolakan pemikiran yang berangkat dari kenyataan-kenyataan sosial yang masih pincang yang juga dikenal sebagai kesenjangan sosial.
Pertarungan pemikiran-pemikiran sosial yang bersumber dari idealisme di dalam dirinya mewujudkan karakteristik yang kuat, konsisten, terintegrasi, hingga membentuk jati diri yang progresif-revolusioner.
Tapi, hingga setua bangka ini, saya belum pernah membaca literatur tentang pers yang progresif-revolusioner – sedangkan Pramudya Ananta Toer hanya menyebut "progresif" tetapi tanpa kata "revolusioner."
Selain itu, saya juga tidak pernah mendengar istilah "Jurnalis Progresif-Revolusioner" – apalagi di zaman sekarang ini, yang menurut Dewan Redaksi Cyber88 punya 'ekosistem' kehidupan sendiri tetapi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari lingkaran kehidupan umat manusia.
Ada benarnya juga apa yang sudah dikatakan oleh Dewan Redaksi.
Sebab, manusia modern yang tidak pernah baca media online Cyber88 – sebagai bagian dari atmosfer dalam lingkaran kehidupan masyarakat modern yang banyak lucunya – itu sama artinya dia mau bertahan seperti manusia zaman purba yang biasa hidup di goa-goa tanpa teknologi Android dan jaringan internet.
Adapun ciri-ciri seorang jurnalis progresif-revolusioner, jika dia berjenis kelamin laki-laki, maka biasanya dia jarang mandi. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan tubuhnya tak tersentuh air – kecuali mendadak hujan deras saat liputan investigatif di lapangan.
Baginya, membuat hardnews yang menggelegar jauh lebih penting daripada mandi.
Berbeda dengan jurnalis progresif-revolusioner berjenis kelamin perempuan – ini bukan perkara gender – meskipun tidak ada kaitannya dengan kualitas reportasenya, tapi kecenderungannya memang tidak suka dengan pasangannya yang cuma manggut-manggut saja menuruti kemauannya.
Dia tidak suka dengan lelaki yang patuh, dia ingin pasangan yang mau dan bisa diajak berdebat setiap saat – meskipun hanya debat kusir yang cuma bikin sakit kepala.
Sedangkan kesamaannya antara jurnalis progresif-revolusioner laki-laki dan perempuan adalah pada style-nya.
Keduanya tidak mau bertolak pinggang saat sedang jengkel atau marah kepada seseorang, karena bertolak pinggang itu dianggap kebiasaan masyarakat kuno.
Juga tidak mau bertolak dengkul karena bisa dituduh sebagai sisa peradaban pithecanthropus yang terbiasa berdiri agak membungkuk sambil memegang dengkul.
Jadi yang cocok bagi jurnalis progresif-revolusioner di zaman modern ini adalah bertolak ketek saat sedang jengkel atau marah.
Padahal style seperti itu saat sedang marah bukan menjadi ukuran seseorang itu progresif-revolusioner atau alay?
Jika Pramudya Ananta Toer sampai tahu perkembangan zaman begitu rusak seperti ini, dia bisa bangkit dari kuburnya.


Komentar Via Facebook :