Wabah Air Mata  Banjiri Puncak Acara Dicyberitas

Wabah Air Mata  Banjiri Puncak Acara Dicyberitas

Jurnalis Cyber88 Riau, Arif mengundang air mata di acara Dicyberitas kala sampaikan sambutannya, Sabtu (3/12/2022).

CYBER88, Baik di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers atau pada Kode Etik Jurnalistik, tidak ada satupun bab, pasal, ayat dan diktum yang secara eksplisit maupun implisit melarang seorang jurnalis menangis di sembarang tempat.

Tapi bukan karena perkara isi undang-undang atau produk moral-etis jika kemudian (nyaris) semua jurnalis Cyber88, yang berada di lokasi acara puncak HUT media online tersebut, tiba-tiba menangis begitu saja tanpa diberi komando oleh Pimpinan Redaksi atau Ketua Dewan Redaksinya.

Itu bisa terjadi bukan juga karena solidaritas korp antar sesama jurnalis Cyber88 sehingga 'nyamuk pers' berasal dari media online tersebut dengan kompak memamerkan airmatanya di hadapan publik, bukan menunjukkan produk jurnalistiknya.

Apa sesungguhnya yang sudah terjadi?

Usut punya usut, ternyata inilah fakta peristiwanya:

Diawali dari seorang jurnalis Cyber88 asal Riau, Pekanbaru, yang dikenal 'garang' dan tanpa kompromi oleh kalangan instansi pemerintah di sana, yang tanpa diminta oleh pihak Panitia HUT Cyber88 tiba-tiba dengan gagahnya naik ke panggung acara.

Saat itu, puncak acara HUT Cyber88 memang dirancang menjadi satu paket dengan perayaan Hari Disabilitas Internasional, dan dimana salah seorang penyandang disabilitas sedang menyampaikan kata sambutan yang narasinya begitu jujur, lugas, dan mampu mengetuk gerbang jiwa.

Bagi kalangan masyarakat umum yang turut hadir dan menyaksikan sesi acara tersebut, sangat boleh jadi bahwa pidato kata sambutan seperti itu bukanlah hal istimewa. Biasa saja.

Tapi rupanya tidak demikian bagi jurnalis senior Cyber88 asal Riau, Pekanbaru, yang dikenal berwatak 'garang' tersebut.

Setelah dengan gagahnya jurnalis itu berjalan menuju panggung acara, sesampainya di atas panggung sosok itu tertunduk ringkih.

Sambil mengusap-usap kepala anak penyandang disabilitas itu terdengar suara isak tangis tertahan berasal dari sang jurnalis, hingga akhirnya pecah sebagai tangisan disertai derai airmatanya yang tak terbendung.

Selidik punya selidik, ternyata si jurnalis yang gagah itu merasa terharu dengan apa yang sudah disampaikan oleh bocah disabilitas itu dan ingin merasakan apa yang sedang dirasakannya sebagai wujud empati.

Tak cuma itu, karena sosok pekerja pers itu juga ternyata membawa sebuah amplop putih yang cukup tebal untuk diserahkan kepada penyandang disabilitas yang mewakili rekan-rekannya yang lain di atas panggung.

Dengan suara terputus-putus karena tersedak-sedak isak tangisnya, sang jurnalis berkata, "Kalian adalah anak-anak yang hebat! Kalian adalah adik-adik kami, dan kalian terbukti mampu menjalani kehidupan ini. Kamilah sesungguhnya yang tidak punya kemampuan seperti kalian. Sekarang kami datang dari Riau, Pekanbaru, membawa sedikit rejeki untuk kalian. Jangan dinilai dari besaran nilainya karena itu memang tidak seberapa. Tapi kami ikhlas berbagi untuk kalian. Kami ingin ikut merasakan apa sedang kalian rasakan."

Sambil berkata-kata seperti itu, si jurnalis itu menciumi kepala bocah penyintas disabilitas itu dengan suara isak tangisnya yang terdengar makin keras seperti tak tertahankan.

Suasana seperti itu di atas panggung sontak mengundang derai air mata sesama jurnalis Cyber88 yang turut hadir di acara tersebut.

Banjir airmata di puncak acara ultah Cyber88 ke-4 pun tak terhindarkan lagi. Dan itu tidak melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, tidak menyalahi Kode Etik Jurnalistik, dan tidak ada kaitannya dengan cover both sides.

Setidaknya peristiwa seperti itu justru sedang membuktikan kepada dunia bahwa jurnalis Cyber88 masih punya hati nurani dan punya jiwa yang bisa berempati terhadap sesama.

Meskipun tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa setiap hasil kerja jurnalistik adalah produk intelektual.

Sedangkan air mata sang jurnalis memang bukan produk intelektual, tetapi adalah produk jiwa seorang intelektual yang tidak pernah bisa membunuh hati nuraninya dan tidak pernah kehilangan rasa empati terhadap penderitaan sesama. Itu juga adalah produk humanisme dalam bentuknya yang berbeda.

Komentar Via Facebook :