Rachmat AS Serukan Perubahan Konsep Premanisme di Cilegon, Elang Tiga Hambalang Tegaskan Dukungan terhadap Investasi
Rachmattulah AS, Tokoh masyarakat sekaligus unsur budaya Kota Cilegonbetjabat tangan dengan James Makapedua Ketua Elang Tiga Hambalang (ETH)
CYBER88 | Cilegon — Tokoh masyarakat sekaligus unsur budaya Kota Cilegon, Rachmat AS, menyampaikan seruan tegas agar konsep premanisme dalam aktivitas sosial dan pengamanan investasi digantikan dengan semangat perjuangan untuk kesejahteraan rakyat. Dalam forum yang dihadiri sejumlah elemen penting, Rachmat mengingatkan bahwa pembangunan Kota Cilegon harus didorong oleh kolaborasi positif, bukan ketakutan atau stigma.
"Kami butuh konsep perjuangan untuk mensejahterakan masyarakat Kota Cilegon, bukan konsep preman. Siapapun yang datang ke Cilegon dengan niat membangun, termasuk investor, wajib kita dukung," ujar Rachmat dalam diskusi yang di gelar di jungle park Senin,14 Juli 2025 yang mendapat sambutan hangat.
Ia menekankan pentingnya peran masyarakat dan budaya dalam menjaga kenyamanan investasi, serta meminta pemerintah untuk segera merumuskan regulasi yang tegas dalam bentuk perda atau perwal sebagai pedoman bersama.
Tak hanya itu, Rachmat AS juga menyoroti lemahnya perhatian pemerintah, baik eksekutif maupun legislatif. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat belum terlihat nyata, sehingga belum tercipta kebersamaan menuju kemajuan dan kesejahteraan Kota Cilegon.
Sebagai wong Cilegon, Rachmat AS mengajak seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menyatukan persepsi dan membangun kebersamaan. Ia meyakini, dukungan masyarakat sangat dibutuhkan pemerintah, dan kebutuhan rakyat akan terpenuhi jika semua pihak tidak mengedepankan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan.
"Mari kita kembalikan marwah Cilegon. Jangan cederai niat baik para investor. Yang dibutuhkan masyarakat adalah sinergi, bukan benturan," tambahnya.
Menanggapi pernyataan Rachmat, Ketua Elang Tiga Hambalang (ETH) James Makapedua menyampaikan sikap resmi lembaganya. Ia menegaskan bahwa aktivitas sosial yang dilakukan kelompoknya bukan bentuk premanisme, melainkan bentuk kontrol sosial yang mendukung pemerintah dan rakyat.
"Mulai hari ini tidak ada lagi kata-kata itu. Kita ini kota dolar, kota baja, kota santri. Marilah kita sama-sama berjuang, karena menjadi pemimpin harus mengerti kebutuhan rakyat, terutama mereka yang paling rendah," ungkap James.
James juga menyatakan bahwa Kota Cilegon dalam kondisi aman dan kondusif bagi investasi. "Tidak ada kata-kata yang menghalangi investasi. Justru investasi berguna untuk rakyat, khususnya Cilegon, bahkan Banten secara keseluruhan."
Meskipun berbeda sudut pandang, baik Rachmat maupun James sepakat bahwa pembangunan Cilegon membutuhkan sinergi antar elemen masyarakat, pemerintah, dan investor. Ketegasan Rachmat dalam menyerukan reformasi pendekatan sosial menjadi pemantik diskusi publik, sementara klarifikasi James menjadi penyeimbang bahwa kontrol sosial tetap punya tempat dalam proses pembangunan asal sesuai jalur.
Pernyataan keduanya mencerminkan dinamika baru dalam ruang sosial dan kebijakan Kota Cilegon, yang kini makin terbuka terhadap transparansi, investasi, dan keterlibatan publik secara positif.


Komentar Via Facebook :