Maruarar Sirait Bekerja di Tengah Natal demi Harapan Rakyat Sumatera
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (dok. istimewa)
CYBER88 | Jakarta — Hari Natal biasanya identik dengan momen berkumpul bersama keluarga, kehangatan di rumah, dan jeda sejenak dari rutinitas pekerjaan. Namun, bagi Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, tanggal 25 Desember 2025 menjadi pembuktian bahwa urusan kemanusiaan dan janji negara tidak mengenal kalender merah.
Langkah Maruarar yang tetap memimpin rapat koordinasi pembangunan 2.600 hunian tetap (huntap) bagi korban bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menunjukkan sebuah pesan mendalam bahwa rakyat tidak boleh menunggu lebih lama untuk merasa aman. Aman dari musibah. Lebih dari itu, masyarakat merasa aman atas sikap konsisten pemerintah.
Kehadiran jajaran menteri lainnya seperti Mendagri Tito Karnavian hingga Mensos Saifullah Yusuf dalam rapat tersebut menegaskan bahwa isu pemulihan pascabencana di Sumatera adalah prioritas nasional.
Ada tiga poin krusial yang patut digarisbawahi dari langkah ini:
Pertama, keamanan tanpa kompromi. Maruarar sangat menekankan agar lokasi huntap bebas dari potensi banjir dan longsor. Ini adalah bentuk mitigasi jangka panjang, bukan sekadar membangun dinding dan atap, melainkan memastikan keselamatan jiwa penghuninya di masa depan.
Kedua, kolaborasi lintas sektor. Kerja sama dengan Yayasan Buddha Tzu Chi merupakan bukti bahwa pemerintah terbuka terhadap model "gotong royong" modern.
Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga filantropi mempercepat birokrasi yang seringkali menjadi penghambat distribusi bantuan.
Ketiga, perhatian untuk Sumatera. Fokus pada Aceh, Sumut, dan Sumbar menunjukkan bahwa pemerintah pusat, dalam hal ini kementerian PKH di bawah komando Maruarar tetap konsisten memantau wilayah-wilayah yang secara geografis rawan bencana, memastikan mereka tidak merasa ditinggalkan dalam proses pemulihan.
Keputusan untuk bekerja di hari libur keagamaan adalah bentuk empati yang konkret. Bagi ribuan pengungsi yang kehilangan rumah, setiap hari yang berlalu tanpa kepastian hunian adalah penderitaan.
Kita dapat membaca, Maruarar memahami bahwa kecepatan eksekusi adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi martabat para korban bencana.Apresiasi yang ia sampaikan kepada pemerintah daerah dan yayasan sosial di tengah hari libur ini mencerminkan gaya kepemimpinan yang menghargai dedikasi kolektif.
"Ini bukan hanya soal angka 2.600 rumah, melainkan soal mengembalikan hak dasar manusia yaitu tempat bernaung yang layak dan aman." Ujarnya.
Langkah Maruarar Sirait dan jajaran kementerian hari ini menjadi pengingat bahwa tugas negara adalah melayani tanpa jeda.
Di tengah suasana Natal, komitmen untuk membangun Sumatera justru semakin kokoh. Kini, tantangan selanjutnya ada pada pengawasan di lapangan agar 2.600 hunian tersebut benar-benar terealisasi tepat waktu dan tepat sasaran. (Ys)


Komentar Via Facebook :