Ketua FKUB dan Bupati Klaten Lepas Para Bhikkhu dari Vihara Bodhivamsa untuk Misi Perdamaian Dunia Menuju Candi Borobudur
CYBER88 | KLATEN – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Klaten, KH. Syamsuddin, bersama Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo melepas keberangkatan para bhikkhu dari Vihara Bodhivamsa, Klaten, Senin (25/5/2026), untuk melanjutkan perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur, Magelang, dalam misi perdamaian dunia.
Pelepasan tersebut menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah daerah dan tokoh agama dalam menjaga serta merawat kerukunan antarumat beragama. Sebelum melanjutkan perjalanan, para bhikkhu diketahui singgah dan bermalam di Klaten.
KH. Syamsuddin menyampaikan bahwa kegiatan tersebut membuktikan kerukunan tidak hanya sebatas wacana, tetapi diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kehadiran kami bersama Bupati untuk melepas para bhikkhu adalah bukti bahwa umat beragama di Klaten hidup berdampingan dengan damai. Semoga misi perdamaian ini sampai ke Borobudur dan menyebar ke seluruh dunia,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengaku bangga dan terhormat karena Klaten menjadi bagian dari perjalanan suci tersebut. Ia berharap pesan toleransi, kerukunan, dan perdamaian yang dibawa para bhikkhu dapat menginspirasi masyarakat luas.
Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi penguat nilai-nilai kebersamaan yang akan dibawa dalam Pekan Kerukunan Internasional di Manado pada akhir Oktober 2026 mendatang.
Diketahui, para bhikkhu tengah menjalani ritual Thudong, yakni perjalanan spiritual dengan berjalan kaki dari Bali menuju Candi Borobudur. Kegiatan bertajuk Indonesia Walk for Peace ini berlangsung pada 7 hingga 31 Mei 2026 dan diikuti sekitar 56 bhikkhu lintas negara sebagai simbol perdamaian, pluralisme, dan pengendalian diri.
Dalam tradisi Buddhis, Thudong merupakan praktik spiritual yang bertujuan melatih kesabaran, kerendahan hati, serta asketisme melalui perjalanan panjang dengan berjalan kaki ribuan kilometer.
Rute perjalanan tahun ini dimulai dari Pulau Bali, menyeberang ke Banyuwangi, melintasi sejumlah wilayah di Pulau Jawa, hingga berakhir di Candi Borobudur menjelang perayaan Hari Raya Waisak.
Selain menjadi bentuk meditasi berjalan, perjalanan tersebut juga dimaknai sebagai simbol persaudaraan antarumat manusia, penguatan nilai pluralisme, serta doa bersama untuk perdamaian dunia.


Komentar Via Facebook :