Diduga Lemahnya Mitigasi Dini, Insiden di PT MCCI Kembali Picu Kekhawatiran Warga Cilegon
CYBER88 | CILEGON, BANTEN — Insiden yang diduga terjadi di area pabrik kimia PT Mitsubishi Chemical Indonesia (MCCI), Kota Cilegon, kembali memicu kekhawatiran masyarakat, khususnya warga yang bermukim di sekitar kawasan industri Merak, Senin (25/5/2026).
Peristiwa yang disebut disertai suara ledakan dan kepulan asap tersebut menambah kekhawatiran warga terhadap aspek keselamatan industri kimia di wilayah tersebut. Masyarakat menilai perlunya evaluasi serius terkait sistem mitigasi dini dan penanganan keadaan darurat di perusahaan-perusahaan kimia yang berada dekat dengan permukiman warga.
Bung Ayat, Pembina Yayasan H. Suhah Fastabiqul Khairat yang juga pengurus badan otonom HIPMI Banten serta Kadin, menyampaikan bahwa insiden serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu dan masih menyisakan trauma bagi sebagian masyarakat sekitar.
“Jejak digital berupa foto dan video kejadian tahun 2022 masih kami simpan. Hingga kini masyarakat merasa belum ada penyampaian resmi maupun dialog terbuka dengan tokoh lingkungan terkait dampak yang pernah terjadi,” ujarnya kepada media.
Menurutnya, saat kejadian berlangsung dirinya berada di rumah dan mendengar suara ledakan cukup keras dari arah kawasan industri. Setelah mendapat informasi dari warga, ia bersama beberapa rekannya melakukan langkah penanganan awal secara mandiri.
“Kami langsung mengambil kain bersih dan membasahinya dengan air untuk mengantisipasi dampak paparan udara yang kami khawatirkan,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah pusat maupun instansi terkait untuk turun melakukan investigasi dan evaluasi terhadap sistem keselamatan industri di kawasan tersebut. Surat pengaduan rencananya akan disampaikan kepada Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perindustrian, hingga Kementerian Investasi/BKPM.
Bung Ayat menegaskan bahwa keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama di tengah berkembangnya investasi industri di Kota Cilegon.
“Kami mendukung investasi dan pertumbuhan industri, tetapi keselamatan serta kesehatan masyarakat sekitar harus diutamakan,” tegasnya.
Dalam keterangannya, ia juga menyoroti pentingnya sistem deteksi dini kebocoran gas dan respons otomatis pada industri kimia. Sistem tersebut umumnya meliputi pemasangan fixed gas detector di area berisiko tinggi yang terintegrasi dengan alarm, ventilasi otomatis, hingga sistem penghentian operasi darurat (shutdown system).
Beberapa jenis sensor yang lazim digunakan antara lain catalytic bead untuk gas mudah terbakar, infrared (IR) untuk hidrokarbon, electrochemical untuk gas beracun seperti CO dan H2S, serta ultrasonic detector untuk mendeteksi kebocoran gas bertekanan tinggi.
Menurutnya, penerapan sistem tersebut sangat penting guna meminimalkan risiko kebakaran, ledakan, maupun paparan zat kimia terhadap pekerja dan masyarakat sekitar.
Warga juga mengaku khawatir karena kondisi angin saat kejadian cukup kencang sehingga dikhawatirkan memperluas penyebaran paparan udara.
Sejumlah masyarakat disebut mengalami keluhan seperti sesak napas, mata perih, dan nyeri dada. Namun hingga saat ini belum ada keterangan resmi terkait penyebab pasti insiden maupun dampak yang ditimbulkan.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak PT MCCI belum memberikan pernyataan resmi. (Mahsus)


Komentar Via Facebook :