Antrean BBM di Ambon Dipicu Panic Buying, DPRD Maluku dan Pertamina Patra Niaga Pastikan Stok Aman hingga 25 Hari
CYBER88 | Ambon — Fenomena antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Ambon dalam beberapa hari terakhir dipastikan bukan disebabkan oleh kelangkaan pasokan, melainkan akibat panic buying atau pembelian panik di tengah masyarakat.
Kesimpulan tersebut mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi II DPRD Provinsi Maluku bersama jajaran Pertamina Patra Niaga Regional Papua Maluku, Rabu (1/4/2026).
Ketua Komisi II DPRD Maluku, Irawadi, menegaskan bahwa berdasarkan data resmi yang dipaparkan, stok seluruh jenis BBM—mulai dari Pertalite, Pertamax, Dexlite, hingga minyak tanah—berada dalam kondisi aman dengan ketahanan 20 hingga 25 hari ke depan.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Papua Maluku, Ispiani Abbas, menjelaskan bahwa lonjakan antrean dipicu oleh informasi tidak valid di media sosial terkait isu kenaikan harga BBM per 1 April.
“Analisis kami menunjukkan terjadi panic buying. Di lapangan, kami temukan warga tetap antre meski indikator BBM kendaraan masih cukup, karena khawatir stok akan habis,” ujarnya di hadapan anggota dewan.
Secara normal, konsumsi Pertalite di Ambon berada di kisaran 120 kiloliter (KL) per hari. Namun, untuk meredam kepanikan, distribusi ditingkatkan signifikan hingga 54% untuk Pertalite dan 53% untuk Pertamax di atas rata-rata harian.
Selain faktor psikologis, DPRD juga mengidentifikasi adanya akumulasi aktivitas masyarakat yang memperparah antrean.
Menurut Irawadi, momentum pasca-libur dan meningkatnya mobilitas warga secara bersamaan turut memicu lonjakan konsumsi BBM dalam waktu singkat.
“Terjadi penumpukan aktivitas dalam satu waktu. Ditambah isu global yang dikaitkan dengan kenaikan harga, masyarakat menjadi lebih reaktif,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipatif, distribusi dari terminal BBM di Ambon kini diperpanjang hingga pukul 00.00 WIT, jauh melampaui jam operasional normal.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan tetap mengalir ke SPBU dan meredam antrean dalam waktu cepat.
“Jika stok tidak ada, tidak mungkin distribusi berjalan hingga tengah malam. Kapal tanker juga terus masuk secara berkala untuk menjaga suplai tetap stabil,” tegas Ispiani.
Pemerintah daerah bersama Pertamina mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi serta kembali ke pola konsumsi normal.
Selain itu, aparat kepolisian dan dinas terkait juga diminta meningkatkan pengawasan guna mencegah praktik penimbunan BBM.
Hingga Rabu (1/4/2026), kondisi antrean di sejumlah SPBU di Pulau Ambon dilaporkan mulai berangsur normal.


Komentar Via Facebook :