Peringatan Kesiapsiagaan Bencana: Momentum Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan Kesiapsiagaan Bencana: Momentum Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni

CYBER88 | Aceh — Peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana kembali digelar di berbagai daerah melalui rangkaian kegiatan seperti simulasi, aktivasi sirene, dan edukasi publik. Namun, momentum ini juga menjadi ruang refleksi kritis agar seluruh pihak tidak terjebak pada rutinitas seremonial tanpa diiringi langkah nyata yang berkelanjutan. Minggu, 26 April 2026

Praktisi dan akademisi lingkungan asal Aceh, Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU., menilai bahwa pengalaman panjang menghadapi bencana seharusnya menjadi pijakan untuk memperkuat kesiapsiagaan. Ia mengibaratkan Aceh sebagai “laboratorium bencana yang belum sepenuhnya lulus ujian,” sebuah ungkapan reflektif yang menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh.

Sebagaimana diketahui, peristiwa tsunami Aceh 2004 merupakan salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di Indonesia. Meski telah berlalu lebih dari dua dekade, berbagai bencana seperti banjir dan longsor masih kerap terjadi dan menimbulkan korban jiwa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu perlu diiringi dengan penguatan sistem mitigasi serta kedisiplinan dalam penerapannya.

Penguatan kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Banyak faktor risiko bencana berkaitan erat dengan aktivitas manusia, seperti perubahan fungsi lahan, pengelolaan lingkungan yang tidak berkelanjutan, hingga pembangunan di wilayah rawan. Hal ini menegaskan bahwa sebagian risiko dapat diminimalkan melalui perencanaan yang tepat dan peningkatan kesadaran kolektif.

Dalam konteks tersebut, pemerintah daerah diharapkan terus meningkatkan ketegasan dalam kebijakan tata ruang serta memastikan pembangunan berjalan selaras dengan prinsip keselamatan dan keberlanjutan lingkungan. Di sisi lain, masyarakat perlu memahami potensi risiko di sekitarnya serta langkah-langkah mitigasi yang dapat dilakukan secara mandiri.

Momentum peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa pengalaman dan tantangan yang dihadapi tidak seharusnya berhenti sebagai catatan sejarah, melainkan menjadi dasar untuk membangun ketangguhan kolektif. Upaya perbaikan yang dilakukan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan menjadi kunci dalam mengurangi dampak bencana di masa mendatang.

Lebih jauh, peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana mengajak seluruh elemen bangsa untuk menggeser perspektif—dari sekadar mempertanyakan penyebab bencana menuju langkah konkret dalam mencegah dan meminimalkan risikonya.

Pada akhirnya, keselamatan tidak dapat dimaknai sebagai simbol tahunan semata. Ia menuntut komitmen, konsistensi, dan kepedulian bersama. Kritik yang muncul hendaknya dipahami sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif, agar kesiapsiagaan benar-benar terwujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar seremoni.

Komentar Via Facebook :